TRIBUNTRENDS.COM - Tragedi hilangnya pendaki muda, Syafiq Ridhan Ali Razani (18), di Gunung Slamet berakhir duka setelah ia ditemukan meninggal dunia pada Rabu (14/1/2026).
Peristiwa ini meninggalkan sejumlah pertanyaan, terutama mengenai kejadian di atas gunung yang menyebabkan Syafiq terpisah dari rekannya, Himawan.
Berbagai informasi yang beredar menyebutkan bahwa keduanya berpisah saat berada di Pos 5.
Dari kronologi yang dihimpun, Syafiq dan Himawan diketahui melakukan pendakian Gunung Slamet melalui jalur Dipajaya, Desa Clekatakan, Kabupaten Pemalang, pada 28 Desember 2025.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, mereka sempat berhenti untuk beristirahat di Pos 5.
Di titik tersebut, kondisi Himawan dikabarkan menurun karena kakinya mengalami sakit sehingga tidak mampu melanjutkan perjalanan dengan lancar.
Baca juga: Telepon Terakhir Syafiq ke Ibunya Saat Tersesat di Gunung Slamet, Ayahnya Lalu Panik, Pulang Ali!
Melihat situasi itu, Syafiq mengambil keputusan untuk turun lebih dulu dengan tujuan mencari bantuan.
Ia meminta Himawan tetap menunggu di Pos 5.
Namun, waktu terus berjalan dan Syafiq tak kunjung kembali ke lokasi tempat rekannya menunggu.
Situasi ini kemudian menjadi perhatian Wanadri yang menginisiasi pencarian tahap kedua.
Mereka mempertanyakan kejelasan kronologi kejadian demi menentukan lokasi pencarian yang lebih akurat dan terarah.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, Abdul Azis dari Wanadri memutuskan mendatangi Himawan secara langsung.
Ia berangkat ke Magelang, Jawa Tengah, pada Jumat (9/1/2026) guna menggali keterangan dari satu-satunya rekan Syafiq dalam pendakian tersebut.
"Sengaja saya sendirian saja, agar Himawan bisa nyaman dan tidak merasa diinterogasi," ujarnya kepada Kompas.com, Jumat (16/1/2026).
Sesampai di kediaman Himawan, Abdul Azis langsung menyampaikan maksud kedatangannya adalah demi kemanusian, demi bisa menemukan Syafiq Ali.
Akhirnya, lewat pendekatan yang tenang, pelan, dan senyaman mungkin, Himawan mau menceritakan semuanya, termasuk detik-detik terakhirnya bersama Syafiq Ali.
Berikut kronologi pendakian Himawan dan Syafiq Ali, hingga mereka akhirnya terpisah.
Menurut Abdul, Himawan dan Syafiq Ali memutuskan mendaki Gunung Slamet pada Sabtu (27/12/2025).
"Karena mereka ini berjalan kaki, tidak naik ojek sama sekali, maka perjalanannya lamban sampai ke basecamp," ujar Abdul.
Mereka baru tiba di basecamp Dipajaya pukul 20.00 WIB. Di sana mereka sempat melakukan registrasi, makan, dan beristirahat di basecamp.
Menurut Himawan, kondisi fisik mereka masih bagus saat itu, dengan cuaca yang cerah.
Baca juga: Bahaya! Ini Aturan yang Dilanggar Syafiq Ali dan Himawan di Gunung Slamet hingga Berakhir Tragis
Mereka memulai pendakian di tengah malam, di pukul 00.00 WIB, dengan rencana pendakian tektok melalui jalur Dipajaya.
Pukul 04.00 WIB, mereka tiba di Pos 2 dan sempat shalat Subuh.
Kemudian pukul 06.00 WIB, Himawan dan Syafiq tiba di Pos 3.
Di pos itu, mereka meninggalkan ransel yang berisi 2 nasi bungkus, baju ganti milik Syafiq Ali, alat mandi, 1 headlamp, dan 2 jas hujan.
Barang yang mereka bawa untuk summit hanyalah hydropak berisi air mineral 1,5 liter, 7 botol air mineral 600 ml, 1 sari gandum, tas P3K, 1 emergency blanket, dan 1 hand warmer.
Tepat pukul 09.00 WIB, mereka tiba di Pos 5.
Di situ mereka menitipkan barang-barang ke warung, berupa sampah air mineral dan beberapa bungkus makanan.
Lalu pada pukul 12.00 WIB, mereka tiba di Pos 9, dan terus melanjutkan perjalanan ke puncak.
Pukul 14.00 WIB, baru mereka mencapai puncak Gunung Slamet.
"Secara aturan, kalau pukul 10 pagi belum sampai puncak, pendaki sebaiknya turun. Tapi mereka berdua ini tetap melanjutkan naik, padahal sudah pukul 2 siang," papar Abdul.
DIketahui, cuaca di puncak Gunung Slamet bisa berubah dalam hitungan cepat.
Dari cerah, bisa menjadi hujan dan badai hanya dalam waktu beberapa menit atau detik saja.
Menurut pengakuan Himawan, saat sampai di puncak Gunung Slamet, mereka hanya menemukan 5 orang pendaki.
Tepat pukul 15.00 WIB, mereka baru mulai turun, dengan mengikuti seorang bapak-bapak pendaki.
Sayangnya, langkah bapak-bapak ini sangat cepat, sehingga mereka tertinggal dan menjadi pendaki terakhir yang turun dari puncak.
Di titik inilah, Himawan dan Syafiq Ali mulai disorientasi soal arah akibat cuaca buruk yang mengadang.
"Yang harusnya mereka ke kiri ke arah jalur Dipajaya, mereka malah ke kanan yang mengarah ke Gunung Malang," ujar Abdul.
Di fase inilah, sempat terjadi saling menyalahkan antara keduanya soal kesalahan memilih jalur.
Namun, mereka tetap melanjutkan turun, dengan Ali dan Himawan saling bergantian menjadi leader.
Hingga akhirnya mereka sampai di lembahan (jalur air), dan hari sudah menjelang gelap saat tiba di area bebatuan, belum mencapai area hutan.
Menurut Himawan, Syafiq Ali sempat mengeluarkan senter sejenis SWAT warna hitam, yang kondisinya mati-hidup tidak normal.
Namun kemudian mereka lupa di mana meletakkan senter itu saat mereka duduk beristirahat.
Tak lama, mereka lanjut menuruni area bebatuan yang riskan karena bisa membuat terpeleset dan merosot.
Perjalanan turun pada Minggu itu mentok saat mereka sampai di dekat jurang.
Akhirnya mereka kembali ke atas, mencari tempat perlindungan di sebuah batu besar, yang masih berada di area lembahan.
Di perjalanan malam itu Himawan sempat membuka hand warmer dan jatuh di sekitar area di mana mereka beristirahat.
Tas P3K dan emergency blanket juga sempat terjatuh saat dibawa Ali.
Mereka pun memutuskan bermalam dengan pakaian seadanya yang dikenakan, tanpa emergency blanket atau selimut.
Menurut Himawan, cuaca malam itu cerah, namun kekuatan fisik mereka mulai menurun.
Di pukul 02.00 pagi, Himawan terbangun dan sadar dompet dan HP-nya terjatuh, namun ia tak mengambilnya karena cuaca masih gelap.
Pukul 07.00 WIB mereka terbangun, Himawan sempat mengambil dompet dan hp-nya dan Syafiq Ali tiba-tiba melesat kembali turun untuk mengambil tas P3K dan emergency blanket.
Setelah mengambilnya, Ali langsung kembali ke atas dan mengenakan emergency blanket di bawah jaketnya.
Saat itu, Ali terlihat buru-buru ingin turun, namun kondisi kaki Himawan sakit.
"Menurut Himawan, kakinya ditekuk terasa sakit, dan sudah terasa sejak pukul 02.00 pagi," papar Abdul.
Syafiq Ali pun bergerak ke atas pukul 08.00, berbelok ke kanan, untuk mencari bantuan. Di sini lah, awal mereka berdua berpisah.
Himawan sempat tertidur sekitar 1,5 jam di situ, lalu terbangun dan merasakan kakinya sudah enakan.
Ia lalu berinisiatif menyusul Syafiq Ali ke atas, namun ia berbelok ke arah kiri menyusuri lerengan.
Di kejauhan dia melihat ada jalur pendakian, yang dimaksud di sini adalah jalur pendakian Baturraden.
Saat sudah berjalan sekitar 30 menit, Himawan mendengar Ali memanggil namanya dari arah hutan di bawah jurang dekat tempat bermalam.
Himawan coba memanggil Ali kembali, namun tidak ada respons.
Himawan pun kembali ke arah tempat bermalam, sempat mau turun ke jurang namun mengurungkan niatnya.
"Diketahui, malam itu Ali sempat bermimpi, dan paginya cerita ke Himawan, bahwa jalan keluarnya bisa turun lewat jurang itu kemudian ke kiri ada permukiman warga," tutur Abdul.
Himawan memutuskan kembali naik dan sudah tidak mendengar teriakan Ali.
Dia melangkah ke arah kiri hingga menemukan semacam bukit. di mana hari sudah sore dan berkabut.
"Dia bingung karena sepi tidak ada tanda-tanda pos, akhirnya dia naik lagi mencari tempat bermalam lagi (berbeda dengan tempat sebelumnya). Saat malam hari Himawan sempat melihat senter pendaki yang sedang summit di kejauhan, namun tidak melewati tempat dia istirahat, karena memang di luar jalur," kata Abdul.
Sebelum hari menjelang malam, sore harinya Himawan sempat makan buah cantigi dan dedaunan untuk mengisi perutnya.
"Kemampuan survive Himawan ini cukup baik. Dia makan dedaunan sebelum beristirahat di lerengan."
Baca juga: Syafiq Ali dan Himawan Sempat Cekcok Saat Tersesat di Gunung Slamet: Salah Jalur!
Saat hari sudah mulai terang, Himawan memutuskan untuk terus naik, hingga akhirnya bertemu pendaki menjelang puncak.
Setelah menanyakan kondisi, pendaki tersebut memberikan makanan berupa bakso untuk Himawan.
Lalu Himawan turun dengan didampingi beberapa pendaki, di mana salah satu pendaki mencoba menghubungi pihak basecamp menggunakan HP dan menyampaikan info terkait pendaki yang hilang dan mereka sudah menemukan 1 orang.
Mereka pun melanjutkan turun pelan-pelan, sambil menunggu bantuan.
Menjelang tiba di Pos 9, mereka bertemu 4 orang ranger.
Setelah mengobrol beberapa saat, Himawan didampingi satu ranger turun, dan 3 ranger lainnya melanjutkan pencairan Ali.
Himawan tiba di basecamp saat maghrib.
Info awal yang simpang siur bermula dari Himawan yang masih kelelahan sehabis berjuang di atas gunung tanpa perbekalan memadai dan dalam cuaca ekstrem, dan langsung diberondong banyak pertanyaan.
"Himawan bilang ke saya, 'bahkan saat saya sedang makan, setelah lama tidak makan, saya ditanya-tanya terus,' itulah yang mungkin membuat jawaban Himawan meloncat-loncat, tidak runut lantaran jengkel," ujar Abdul.
Menurut Abdul, pendaki manapun, pasti akan kelelahan sehabis turun gunung, dan malas menghadapi berondongan pertanyaan.
Kondisi Himawan saat ditemui di kediamannya pun masih terlihat sangat lemas, shock, dan stres.
Keluarga Himawan menyebut, Himawan dan Syafiq Ali sudah mengenal lama dan berteman sejak SMP.
"Jadi mereka berdua memang berteman baik sedari kecil," pungkas Abdul.
(TribunTrends/Kompas)