Rumah Hanyut Surau pun Hilang, Warga Lambung Bukik Padang Sedih Jelang Bulan Ramadan
January 18, 2026 12:02 PM

 

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Kesedihan mendalam menyelimuti warga Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, menjelang kedatangan bulan suci Ramadan tahun 2026 ini.

Harapan warga untuk menjalankan ibadah dengan khusyuk di tempat yang mereka cintai harus pupus akibat bencana alam yang tak terduga.

Banjir bandang dahsyat yang menghantam pada akhir November 2025 lalu meninggalkan luka batin yang teramat dalam bagi masyarakat setempat.

Surau Jamiaturrahmah, bangunan kebanggaan warga yang berukuran 15x15 meter, kini sudah rata dengan tanah.

Pantauan di lokasi pada Sabtu (17/1/2026), tak ada lagi bangunan yang berdiri tegak, yang tersisa hanyalah hamparan puing-puing batu dan kayu berukuran besar.

Baca juga: Penduduk Sumbar Tergolong Miskin Jika Pengeluaran di Bawah Rp 729 Ribu per Bulan

PASCA BANJIR BANDANG: Surau Jamiaturrahmah rata dengan tanah akibat banjir bandang yang menghantam akhir November 2025 lalu, Saat TribunPadang.com berkunjung Sabtu (17/1/2026) bekas surau kini tertimbun batu-batu besar dan gelondongan kayu yang melintang tak beraturan.
PASCA BANJIR BANDANG: Surau Jamiaturrahmah rata dengan tanah akibat banjir bandang yang menghantam akhir November 2025 lalu, Saat TribunPadang.com berkunjung Sabtu (17/1/2026) bekas surau kini tertimbun batu-batu besar dan gelondongan kayu yang melintang tak beraturan. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Kehilangan ini menjadi kado pahit bagi warga, sebab mereka kehilangan dua hal sekaligus rumah tempat berteduh dan rumah ibadah tempat bernaung.

"Biasanya kami sudah bersiap-siap untuk ibadah, tapi sekarang semuanya hilang dibawa arus," ujar Reni, salah satu warga terdampak dengan nada lirih.

Reni merupakan satu dari sekian banyak warga yang harus merelakan huniannya lenyap ditelan amukan air sungai yang meluap kala itu.

Kini, setiap kali melihat ke arah bekas berdirinya surau, warga hanya bisa mengurut dada sembari mengingat kenangan masa lalu.

Tradisi Salat 40 yang rutin dilaksanakan sebelum masuknya Ramadan, kini terancam tak bisa lagi digelar di tempat tersebut.

Baca juga: Hanyut Tanpa Sisa! Warga Lambung Bukik Padang Sedih Surau Jamiaturrahmah Hilang Jelang Ramadan

Padahal, Surau Jamiaturrahmah selama ini dikenal sebagai pusat kegiatan agama yang sangat aktif di wilayah Lambung Bukik.

"Dulu sebelum Ramadan ada Salat 40 di sana, ada kegiatan rutin lainnya juga. Sekarang tak ada yang tersisa sedikit pun," kata Dasri Ben, warga lain yang rumahnya juga hanyut.

Dasri menceritakan, kehilangan surau ini membuat ritual menyambut bulan suci terasa ada yang hilang dari akar tradisi mereka.

Baginya, surau tersebut bukan sekadar fisik bangunan, melainkan ruang sosial tempat warga saling menguatkan satu sama lain.

Kini, warga yang ingin menjalankan tradisi Salat 40 terpaksa harus mengungsi dan menumpang ke surau lain.

Baca juga: Tembus 1,6 Juta Orang! Simak 10 Daerah di Sumbar Paling Banyak Diserbu Wisatawan Nusantara

"Rumah hilang, surau tempat mengadu pun tidak ada lagi," tambahnya.

Kondisi ini menggambarkan betapa beratnya beban yang dipikul warga Lambung Bukik di awal tahun 2026 ini.

Mereka harus berjuang membangun kembali kehidupan dari nol, di tengah kerinduan akan suasana malam Ramadan di surau mereka sendiri.

Hingga saat ini, material batu dan kayu masih memenuhi lokasi, menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya hantaman banjir bandang di akhir tahun lalu itu.

Ditengah keterbatasan yang ada, mereka harus rela menjalani Ramadan tahun ini dalam suasana yang jauh dari kata biasa.

Lembayung senja mulai turun di Lambung Bukik, menyinari sisa-sisa reruntuhan yang masih berserakan. 

Bagi warga, Ramadan tahun ini mungkin akan menjadi yang paling sunyi, namun mereka tetap mencoba tegar di atas puing-puing sisa kenangan.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.