Jakarta (ANTARA) - Instalasi Farmasi RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang masih menghadapi kendala dalam pendistribusian obat-obatan akibat gangguan server imbas bencana yang mengganggu aplikasi farmasi, sehingga distribusi obat dilakukan manual.

Kepala Instalasi Farmasi RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang Puput Mayasari mengonfirmasi di Jakarta, Minggu, sebelum bencana, pendistribusian obat dilakukan melalui dua mekanisme, yakni aplikasi berbasis sistem stok dan distribusi langsung oleh petugas farmasi.

“Sebelum bencana, pendistribusian obat kami lakukan dengan dua cara, yaitu melalui aplikasi yang langsung terhubung ke sistem stok, serta distribusi langsung oleh petugas. Jadi, data keluar-masuk obat tercatat secara sistem dan fisik,” kata Puput.

Namun, setelah bencana, kerusakan sistem dan keterbatasan akses menyebabkan instalasi farmasi belum dapat menjalankan sistem aplikasi tersebut.

“Saat ini, karena kondisi setelah bencana dan aplikasi yang belum bisa digunakan, karena masih terkendala di server, pendistribusian obat kami lakukan secara manual. Ini kami lakukan agar pelayanan kepada pasien tetap berjalan meski dengan keterbatasan,” ujarnya.

Puput menambahkan pencatatan manual dilakukan secara cermat dan terkontrol untuk menjaga akurasi stok obat, terutama untuk pelayanan rawat inap yang telah kembali berjalan. Sementara itu, pelayanan farmasi untuk IGD dan rawat jalan masih dilakukan di gedung terpisah.

RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang terus berupaya memulihkan sistem distribusi obat agar pelayanan farmasi dapat kembali berjalan optimal dan mendukung pemulihan layanan kesehatan bagi masyarakat setelah bencana.

Setelah hampir dua bulan tersendat akibat genangan lumpur yang tebal, instalasi farmasi RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang mulai pulih dan kembali menjalankan aktivitas secara bertahap.

Puput menyebutkan proses pemulihan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya manusia serta kondisi sarana dan prasarana.

“Awal bencana, kondisi instalasi farmasi benar-benar penuh lumpur. Banyak yang sudah melihat di media sosial bagaimana situasi kami saat itu. Alhamdulillah, setelah hampir dua bulan setelah bencana dan sekitar dua minggu sejak akhir Desember, kami sudah mulai bisa beraktivitas kembali di sini,” kata Puput.

Saat ini, katanya, instalasi farmasi masih difungsikan sebagai gudang penyimpanan obat. Sementara itu, pelayanan farmasi untuk IGD dan rawat jalan masih dilakukan di gedung terpisah, sedangkan pelayanan rawat inap mulai berjalan dengan sistem yang disesuaikan.