Asal-usul Kali Pepe : Berjaya di Era Kerajaan Pajang, jadi Alasan Berdirinya Pasar Gede Solo
January 18, 2026 02:12 PM

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kota Solo dikenal dengan Sungai Bengawan Solo yang ikonik.

Nah, Sungai Bengawan Solo ini memiliki anak sungai bernama Kali Pepe yang namanya cukup populer dan bersejarah bagi warga Solo.

Kali Pepe ini memiliki peran besar dalam sejarah, kehidupan sosial, dan perkembangan ekonomi Kota Solo.

Baca juga: Asal-usul Tugu Pemandengan di Titik Nol Kilometer Solo, Dipercaya Poros Duniawi dan Spiritual

Sungai ini membelah wilayah tengah kota dan hingga kini masih berfungsi penting, tidak hanya sebagai pengendali banjir, tetapi juga sebagai saksi perjalanan panjang peradaban manusia di Kota Bengawan.

Sungai sebagai Awal Kehidupan Kota

Sejak zaman dahulu, sungai selalu menjadi pusat tumbuhnya peradaban di Solo.

Kehadiran aliran air mendorong manusia membangun permukiman di sekitarnya, yang kemudian berkembang menjadi pusat ekonomi dan perdagangan.

Hal ini pula yang terjadi di sepanjang Kali Pepe.

Wisata Kali Pepeland di Desa Gagaksipat, Kecamatan Ngemplak, Boyolali.
Wisata Kali Pepeland di Desa Gagaksipat, Kecamatan Ngemplak, Boyolali. (TRIBUNSOLO.COM)

Kawasan di sekitar aliran Kali Pepe tumbuh menjadi pemukiman padat, lalu perlahan membentuk tata ruang Kota Solo. Sungai ini menjadi bagian penting dari “napas kehidupan” masyarakat, tempat berlangsungnya aktivitas sehari-hari warga.

Jalur Transportasi dan Perdagangan Abad XVI

Berdasarkan catatan sejarah, Kali Pepe pernah berperan sebagai jalur transportasi air dan perdagangan penting pada abad ke-XVI.

Pada masa Kerajaan Pajang yang berpusat di Kartasura, Kali Pepe berada di puncak kejayaannya.

Baca juga: Asal-usul Masjid Golo di Paseban Bayat Klaten, Konon Katanya Dulu Dipindah dari Bukit

Hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan lain di Pulau Jawa dilakukan melalui jalur sungai.

Kapal-kapal besar dari Kerajaan Majapahit berlabuh di Sungai Bengawan Solo, membawa hasil bumi, garam, dan kain.

Dari sana, barang-barang tersebut diangkut menggunakan perahu kecil untuk menyusuri sungai-sungai yang lebih sempit, termasuk Kali Pepe, menuju pusat-pusat perdagangan di Solo.

Penghubung Bandar Semanggi dan Pasar Gede

Kali Pepe memiliki peran strategis sebagai penghubung antara Bandar Beton, Bandar Semanggi, dan Pasar Gede.

Bandar Semanggi sendiri merupakan salah satu dermaga tersibuk pada masanya dan tercatat sebagai bandar ke-44 atau terakhir dari muara Bengawan Solo di Ujung Galuh, Gresik.

Bandar ini menjadi jalur padat hilir mudik kapal besar yang menopang perekonomian Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Bahkan, raja-raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat pernah berlayar dari Bandar Semanggi menggunakan Kapal Kyai Rajamala menuju berbagai daerah di Nusantara.

Baca juga: Asal-usul Desa Bugisan Klaten, Jejak Prajurit Bogis hingga Lahirnya Desa Wisata Candi Plaosan

Lahirnya Kampung Pecinan Solo

Keberadaan Kali Pepe juga tak bisa dilepaskan dari tumbuhnya kawasan Pecinan di sekitar Pasar Gede.

Dahulu, kawasan Sudiroprajan dikenal sebagai Bandar Pecinan karena banyak dihuni warga etnis Tionghoa yang bermukim dan berdagang di sekitar sungai.

Interaksi ekonomi antara pedagang Tionghoa dan masyarakat Jawa berlangsung intens melalui jalur air ini.

Hubungan yang terbuka dan harmonis membuat kedua budaya saling berbaur, bahkan melalui perkawinan, hingga terbentuk komunitas Pecinan yang jejaknya masih dapat dilihat hingga kini, seperti di kawasan Balong, Sudiroprajan.

Suasana di depan Pasar Gede yang menjadi salah satu wisata kuliner untuk berburu oleh-oleh.
 
IKON SOLO - Suasana di depan Pasar Gede yang menjadi salah satu wisata kuliner untuk berburu oleh-oleh.   (TribunSolo.com / Ahmad Syarifudin)

Alasan Berdirinya Pasar Gede

Kali Pepe juga disebut-sebut menjadi salah satu alasan utama berdirinya Pasar Gede.

Pasar yang dibangun pada masa Sri Susuhunan Paku Buwono X tersebut sengaja didirikan dekat aliran sungai agar memudahkan distribusi barang dagangan.

Baca juga: Asal-usul Nama Desa Bengking Jatinom Klaten, Konon dari Singkatan yang Dicetuskan Rombongan Keraton

Letaknya yang strategis di jalur perdagangan membuat Pasar Gede sejak awal berkembang sebagai pasar induk dan pusat ekonomi Kota Solo.

Aktivitas jual beli yang ramai di kawasan ini semakin memperkuat peran Kali Pepe sebagai nadi perdagangan kota.

Dari Jalur Dagang hingga Wisata Air

Kini, peran Kali Pepe telah mengalami perubahan.

Sungai ini tidak lagi menjadi jalur utama transportasi dan perdagangan

 Namun, fungsinya tetap vital sebagai pengendali banjir dan bagian dari wajah kota.

Selain itu, Kali Pepe juga dimanfaatkan sebagai sarana wisata air, terutama saat perayaan Grebeg Sudiro yang berdekatan dengan Imlek.

Perayaan ini sekaligus menegaskan Kali Pepe sebagai simbol keberagaman, kerukunan, dan harmoni antara budaya Jawa dan Tionghoa di Kota Solo.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.