Sambil Berteriak, Kubu PB XIV Purboyo Temui Fadli Zon, Acara di Keraton Solo Sempat Terhenti
January 18, 2026 02:12 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kakak perempuan Pakubuwono (PB) XIV Purboyo, GRAy Rumbai Timur dan GRAy Devi Lelyana Dewi, berteriak-teriak sembari menemui Menteri Kebudayaan (Menbud) RI Fadli Zon. 

Kejadian ini terjadi saat acara penyerahan Keputusan Menteri Kebudayaan RI Nomor 8 Tahun 2026 di Sasana Handrawina, Keraton Kasunanan Solo, Minggu (18/1/2026) siang.

Kejadian tersebut terjadi sesaat setelah Fadli Zon selesai menyampaikan pidato sambutannya.

Sembari berteriak, Timur dan Devi menemui Fadli Zon untuk menyampaikan unek-unek mereka.

Bersamaan dengan itu, tamu undangan yang hadir menyoraki aksi yang dilakukan oleh dua putri mendiang PB XIII tersebut.

Belum diketahui secara pasti apa yang disampaikan oleh Timur Rumbai maupun Devi kepada Fadli Zon.

Namun, diduga hal tersebut berkaitan dengan dualisme yang kini terjadi di Keraton Solo.

Baca juga: BREAKING NEWS: Jelang Kedatangan Fadli Zon, Keributan Pecah di Keraton Solo

Tampak Fadli Zon merespons dengan meminta keduanya untuk tenang. Ia pun menjanjikan akan mengajak berbincang setelah acara usai.

“Setelah ini kita bicarakan,” ungkap Fadli Zon.

Akibat kejadian tersebut, acara sempat terhenti selama kurang lebih 15 menit.

Namun, acara kembali dilanjutkan setelah emosi kedua kakak perempuan PB XIV Purboyo tersebut berhasil diredam oleh Fadli Zon.

Sebagai informasi, Timur Rumbai dan Devi diketahui mengikuti acara tersebut sejak awal.

Acara sempat berjalan lancar, meski sebelumnya telah terjadi sedikit keributan beberapa saat sebelum kegiatan dimulai.

GEGER. Dua kubu Raja Keraton Solo geger jelang kedatangan Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon pada Minggu (18/1/2026). 
GEGER. Dua kubu Raja Keraton Solo geger jelang kedatangan Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon pada Minggu (18/1/2026).  (TribunSolo.com/Anang Maruf Bagus Yuniar)

Kericuhan Sebelum Menteri Datang

Keraton Solo memanas jelang kedatangan Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon pada Minggu (18/1/2026). 

Keributan ini melibatkan kubu Paku Buwono (PB) XIII (Mangkubumi) dan pihak PB XIII (Purbaya) yang dipicu oleh upaya pembukaan pintu Kori Gajahan.

​Dari pantauan TribunSolo.com di lokasi, pihak Lembaga Dewan Adat (LDA) yakni GKR Wandansari (Gusti Moeng) bersama Ketua Eksekutif LDA, KPH Edy Wirabhumi, beserta sejumlah abdi dalem membawa dua buah tangga ke Kori Gajahan.

Beberapa abdi dalem kemudian menggunakan tangga tersebut untuk membuka pintu dari arah dalam.

​Tak berselang lama, Kori Gajahan berhasil dibuka sehingga rombongan LDA dan abdi dalem bisa masuk.

Baca juga: PB XIV Purbaya Minta Fadli Zon Batalkan dan Cabut Penyerahan SK Pelaksana Cagar Budaya Keraton Solo

Namun, saat hendak berjalan menuju Ndalem Wiworokenjo, rombongan dihadang oleh pihak pendukung Purbaya, di antaranya GKR Panembahan Timoer Rumbay, GKR Devi Lelyana, dan GKR Dewi Ratih Widyasari.

​Pihak Purbaya melarang keras rombongan LDA masuk ke Ndalem Wiworokenjo.

Dalam proses tersebut, sempat terjadi adu mulut dan keributan antara GKR Timoer dengan Gusti Moeng.

Meski demikian, pihak LDA tetap memaksa masuk dan berhasil mencapai Ndalem Wiworokenjo.

​Ketegangan berlanjut karena pihak Purbaya bersikeras melarang pembukaan pintu Ndalem Wiworokenjo.

Diketahui, pintu tersebut terhubung langsung dengan Ndalem Handrawina, lokasi yang dijadwalkan akan dihadiri oleh Menbud Fadli Zon.

Terjadi Aksi Saling Mendorong

​Gejolak antara kedua kubu sempat memanas hingga terjadi aksi dorong-dorongan.

Akhirnya, pintu Ndalem Wiworokenjo berhasil dibuka setelah didorong dari dua sisi (dalam dan luar).

Meski pintu telah terbuka, perseteruan antara kedua pihak masih terus berlangsung.

​Saat ini, aparat kepolisian masih berjaga ketat di area Ndalem Wiworokenjo.

Hanya pihak keluarga yang diperbolehkan masuk ke area tersebut. 

​Pada kesempatan yang sama, Ketua Eksekutif LDA, KPH Edy Wirabhumi, menjelaskan bahwa kedatangan Menbud Fadli Zon bertujuan untuk menyerahkan Surat Keputusan (SK).

SK tersebut menunjuk KGPH Tedjowulan sebagai pelaksana pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya nasional untuk Keraton Solo.

​"SK Menteri Kebudayaan ini menunjuk KGPH Tedjowulan sebagai pelaksana. Jadi, Panembahan Agung Tedjowulan ditunjuk untuk pelaksana pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya nasional untuk Keraton Surakarta," ujar Edy kepada awak media di Keraton Solo, Minggu (18/1/2026).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.