TRIBUNSUMSEL.COM - Dirasa akan menjadi hari yang paling panjang dirasakan oleh Mukhsin, seorang lansia yang berusia sekitar lebih dari 60 tahun, hari Minggu tanggal 18 Januari 2026.
Bagaimana tidak, sepanjang hari ini telinga dan matanya akan terus terpancar guna mendengar sekaligus memantau kabar terkini soal keberadaan sang anak sulung bernama Deden Maulana.
Merupakan salah satu penumpang pesawat ATR milik Indonesia Air Transport (IAT) yang hilang kontak di area pegunungan Bulusaraung, Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (18/1/2026) malam, sang anak.
Raut wajahnya tak bisa menutupi kesedihan yang dirasakan saat ditemui di kediaman duka Deden Maulana yang berlokasi di Jalan Mesir II, Pasar Minggu Jakarta Selatan, pada Minggu (18/1/2026) siang,
Kedua matanya selalu berkaca-kaca, dan bibirnya tak berhenti untuk memanjatkan doa.
Hingga siang ini, Mukhsin mengaku belum mendapatkan kabar apapun dari tim SAR dan tim gabungan soal keberadaan sang anak kesayangan.
"Katanya yang baru ditemukan pesawat nya," kata Mukhsin dengan tatapan penuh harap.
Tak ada harapan lain dari Mukhsin selain adanya mukjizat dari Allah untuk tubuh Deden Maulana.
Dia berharap, sang anak bisa segera ditemukan.
"Ya mudah-mudahan ada keajaiban dari Allah, bisa segera ditemukan," ucap lirih Mukhsin.
Salah satu bentuk pengharapan pihaknya kata Mukhsin, keluarga hingga kini belum juga memasang bendera kuning tanda adanya kematian di sekitaran rumah duka Deden.
Berdasarkan pantauan Tribunnewscom di lokasi, hingga Minggu (18/1/2026) pukul 11.46 WIB memang tidak terlihat satupun bendera kuning terpasang dengan nama Deden Maulana bin Mukhsin di sepanjang jalan menuju rumah Deden.
Terlihat, hanya ada tenda terpal berukuran 5x5 berwarna hijau yang terpasang di depan rumah Deden.
Puluhan bangku plastik juga sudah mulai dipasang guna memberikan fasilitas duduk untuk para tetangga dan kerabat Deden yang ingin memberikan doa.
Kata Mukhsin, belum dipasangnya bendera kuning di siang ini karena pihaknya masih menunggu kepastian soal kabar sang anak dari tim SAR dan tim gabungan yang sedang melakukan pencarian di lokasi jatuhnya pesawat ATR yang ditumpangi Deden.
"Iyah itu (belum dipasang bendera kuningnya), makanya warga di sini belum berani pasang karena belum ada kepastian yang pastinya gimana," tandas dia.
Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT dilaporkan bertolak dari Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.
Kontak dengan pesawat dilaporkan hilang saat melintas di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026) sekitar pukul 13.17 Wita.
Pesawat tersebut mengangkut 10 orang, terdiri atas tujuh kru dan tiga penumpang. Pilot in command adalah Capt Andy Dahananto.
Direktur Utama PT Indonesia Air Transport, Tri Adi Wibowo, menegaskan jumlah kru di dalam pesawat hanya tujuh orang ditambah tiga orang pegawai Kementerian KP termasuk Deden Maulana sekaligus meluruskan informasi simpang siur yang sempat beredar.