Suka Duka Kepsek dan Siswa Sekolah Rakyat di Kota Probolinggo, Sempat Ragu hingga Guru Putus Asa
January 18, 2026 04:57 PM

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, PROBOLINGGO - Progres Sekolah Rakyat (SR) di Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Jawa Timur yang sempat diragukan oleh kalangan orang tua, kini sudah bisa menunjukkan tren positif. 

Terdapat 100 siswa-siswi yang belajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi Kota Probolinggo ini dengan rincian 50 siswa untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 50 siswa untuk tingkat Sekolah Menegah Atas (SMA).

Ratusan siswa-siswi Sekolah Rakyat di Kota Probolinggo tidak hanya mendapat pembelajaran gratis saja, akan tetap beberapa fasilitas mewah yang tak kalah dengan sekolah modern pada umumnya juga sudah didapatkan.

Terlebih, pasca diresmikan pada Bulan Juli 2025 lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo seringkali melibatkan Sekolah Rakyat di setiap kegiatan. Sehingga dipastikan, Sekolah Rakyat tetap mendapat perhatian penuh dari pemerintah setempat.

Baca juga: Kisah Nur Cahyo, Buruh Petik Buah yang Kini Memupuk Masa Depan di Sekolah Rakyat Banyuwangi

Baca juga: 7 Kecamatan di Probolinggo Terdampak Banjir, Petugas BPBD Evakuasi Warga hingga Ternak

Kehidupan siswa-siswi Sekolah Rakyat juga tidak kalah dengan siswa-siswi sekolah pada umumnya. Meskipun tinggal di rusunawa, namun segala fasilitas mewah sudah didapatkan dan bahkan untuk sajian makanan juga tak luput dari pengawasan.

Salah seorang siswi Sekolah Rakyat, Atiqoh Nurdiana (16) mengaku sempat tidak mendapatkan restu dari orang tuanya saat mengetahui namanya dari seorang pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) masuk dalam daftar siswi Sekolah Rakyat.

"Awalnya tidak setuju, ibu saya tidak mau saya masuk ke sini (SR), karena ada yang bilang kalau nanti sekolahnya sama kayak sekolah taruna," kata siswi asal Kelurahan Triwung Lor, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo itu, Minggu (18/1/2026).

Dari ketidaksetujuan itulah, menurut Atiqoh, dirinya mencoba searching terkait sekolah rakyat, sehingga mendapat pandangan lain. Seperti peluang kuliah lebih banyak dan fasilitas juga tidak jauh berbeda dengan sekolah pada umumnya.

"Setelah saya baca-baca dan cari-cari, kok peluang kuliah kalau sekolah di sini lebih banyak, akhirnya orang tua setuju dan akhirnya saya masuk ke sini," ujar siswi yang kini duduk di kelas 10 itu.

Meski kini tinggal di asrama, menurut Atiqoh, namun hal tersebut tidak menjadikannya masalah, malah kehidupan sehari-hari makin teratur dan terjadwal rapi. Seperti setiap pagi sehabis salat subuh akan dilanjutkan dengan senam dan lari pagi bersama.

"Kalau di sekolah itu setiap anak sudah dapat laptop, ada smartboard juga, alat tulis juga ada. Jadi semua serba dilengkapi kalau di sini, makanya kami kerasan meskipun tidak tinggal sama orangtua," ungkapnya.

Atiqoh mengaku juga tidak terlalu khawatir kalau rindu dengan orang tuanya. Sebab, memang sudah dijadwalkan kunjungan bagi orang tua siswa SR 2 hari dalam seminggu, yaitu pada hari Sabtu dan Minggu.

"Kalau Sabtu itu malam atau habis isyak, kalau hari Minggu itu mulai dari pagi atau jam 9.00 WIB sampai siang jam 14.00 WIB. Ya kalau rindu pas selain hari yang ditentukan, itu biasanya minta ke Wali Asuh untuk telepon orangtua," pungkasnya.

Sementara Kepala SRT 7 Kota Probolinggo Susilowati mengatakan, jika tahun ajaran baru akan dibuka pada Bulan Juli 2026 mendatang. Menghadapi itu, pihaknya sudah menyiapkan beberapa solusi untuk rekrutmen siswa Sekolah Rakyat baru.

"Persiapan rekrutmen ini, yaitu bekerjasama dengan Dinas Sosial (Dinsos) melalui para pendamping PKH dan sudah banyak juga wali murid datang ke sini untuk mendaftarkan anaknya masuk ke Sekolah Rakyat ini," tutur Susilowati.

Dalam waktu dekat, pihaknya akan membuka pendaftaran. Dengan demikian, kami juga ada kesempatan untuk mengecek desil 1 dan 2, karena untuk masuk Sekolah Rakyat ini, salah satu kriteria masuk desil 1 dan 2.

Sedangkan untuk daya tampung di SRT 7 Kota Probolinggo ini, menurut Susilowati, yaitu menampung 100 siswa seperti tahun sebelumnya. Sehingga untuk mencapai itu, Dinsos akan menyiapkan melalui pendamping PKH.

Disebutkan Susilowati, beberapa pengalaman para guru di SRT 7 Kota Probolinggo juga tak kalah penting, ada yang sampai menangis dan bahkan hampir putus asa juga dirasakan semuanya dalam mendidik siswa istimewa di SR.

"Namun karena besarnya ketulusan hati para guru dengan niat mengangkat derajat anak-anak duafa' (Tidak mampu) melalui tugas ini, akhirnya sedikit demi sedikit bisa beradaptasi cepat dan berjalan seperti guru biasanya," ujarnya.

Memimpin SR di tahun pertama, lanjut Susilowati, dirinya juga memiliki kisah menarik ketika pertama laptop datang. Yang mana, semua anak tidak tahu bagaimana menggunakan laptop meskipun antusias mendapat laptop.

"Sama juga saat smartboard datang yang mana sudah ada passwordnya, sampai password beberapa kali hilang dibuat mainan karena ingin menonton youtube dan lain-lainnya. Sehingga sesuka hati nyentuh layar sana sini," kenang Susilowati.

Seiring berjalan waktu, akhirnya anak-anak sudah bisa menggunakan smartboard ataupun laptop yang ada. Alhamdulillah, menurut dia, sekarang belajar dengan menggunakan laptop dan smartboard sudah terbiasa.

(Ahsan Faradisi/TribunJatimTimur.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.