Curhat Pembudidaya Rumput Laut di Tarakan: Harga Turun, Hanya Rp 10 Ribu Per Kilo
January 18, 2026 06:14 PM

 

TRIBUNKALTARA.COM,TARAKAN  – Inilah curahan hati atau curhat pembudidaya rumput laut di Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara ( Kaltara ), harga kini turun hanya Rp10 Ribu per kilo.

Harga rumput laut kering di Kota Tarakan, kembali mengalami penurunan dalam sebulan terakhir.

Saat ini, harga rumput laut di tingkat pembudidaya, hanya berkisar Rp10.000 hingga Rp10.500 per kilogram.

Terjadi penurunun dari harga sebelumnya, yang sempat menyentuh Rp11.000 per kilogram.

Penurunan harga rumput laut kering di Kota Tarakan, diungkap Abdul Muis.

Warga RT 15 di Kelurahan Pantai Amal, Tarakan.

Saat ditemui awak media di lokasi mabbettang, lokasi pembersihan dan pemasangan rumput laut ke tali yang sudah diikat, ia berbagi cerita. 

Abdul Muis membenarkan kondisi harga rumput laut kembali turun.

Sembari duduk, ia sambut dengan wajah sumringah awak media yang dadakan datang ke lokasi mabettang.

 

Baca juga: Panen Raya Rumput Laut di Tanjung Batu, Wakil Wali Kota Tarakan Beri Apresiasi Bagi Kodaeral XIII

 

Ia tak sendiri.

Ia bersama belasan warga lainnya tengah sibuk membersihkan hama tiram yang menempel di setiap sisi batang rumput laut.

“Turunnya sudah dua kali dalam sebulan.

Awalnya Rp11.000 per kilogram, turun jadi Rp10.500, sekarang Rp10.000 sampai di Rp10.500.

Yang Rp10.500 ini baru tiga hari,” kata Abdul Muis mengawali wawancaranya saat ditemui di lokasi budidaya, Minggu (18/1/2026) siang tadi.

Abdul Muis nampak tak sempat berganti pakaian.

Kedatangan media sebelumnya tak ada janjian.

Ala kadarnya ia menjawab polos semua pertanyaan awak media.

Dari warna badannya, cokelat matang menggambarkan kerasnya pekerjaan sebagai pembudidaya rumput laut yang bekerja di bawah terik, dan panasnya matahari Pantai Amal.

Kata Abdul Muis, harga rumput laut sangat bergantung pada kebijakan pengepul.

Pembudidaya tidak memiliki posisi tawar untuk menentukan harga jual.

“Kita ikut harga pengepul.

Kadang naik, kadang turun, kita juga tidak tahu pastinya,” terang Abdul Muis, sembari tangannya tetap sibuk mengambil satu per satu bagian dari rumput laut, kemudian memotong bagian yang ditempeli hama tiram disebut mereka. 

Pasalnya, tiram menempel di bagian tangkai yang bisa merusak kualitas rumput laut.

Abdul Muis mengungkapkan, harga rumput laut sebenarnya pernah jauh lebih tinggi.

Pada tahun 2022, harga rumput laut kering bahkan sempat menembus Rp40.000 per kilogram, meski hanya terjadi sekali. 

"Di saat itu, banyak pembudidaya sukses," kenangnya.

Namun harga Rp40 ribu per kg itu kini tinggal kenangan.

Tak pernah lagi berlaku sampai saat ini.

Seingatnya, di tahun 2023–2024, harga tertinggi berada di kisaran Rp28.000 per kilogram, sebelum akhirnya terus menurun. 

“Paling rendah itu pernah sampai Rp7.000 per kilo sekitar tahun 2024.

Masuk 2025 rata-rata Rp9.000, sekarang 2026 ini masih di Rp10.000 ke atas,” sebutnya, sembari tangannya masih sibuk memotong tangkai per tangkai rumput laut yang kotor, lalu menyisihkan yang bersih untuk kemudian selanjutnya diikat di tali.

Dengan harga saat ini, Abdul Muis menilai pendapatan pembudidaya hanya pas-pasan untuk menutup biaya operasional.

Dalam satu kali panen selama sekitar 45 hari, produksi normal bisa mencapai 1 ton dari sekitar 150 tali rumput laut. 

 

Baca juga: Pembangunan Resi Gudang Tarakan Kaltara Masih Berproses, Ini Alasan tak Gunakan Pabrik Rumput Laut

 

Namun jika terserang hama atau penyakit, hasil panen bisa turun drastis hingga hanya 300 kilogram.

“Kalau dapat 1 ton dengan harga Rp10.000 per kilogram, pendapatan kotor Rp10 juta.

Setelah dipotong BBM, perawatan tali, dan biaya lainnya, bersihnya paling sekitar Rp6 juta.

Itu kalau panennya berhasil,” katanya.

Ia menambahkan, biaya operasional cukup besar, terutama untuk bahan bakar.

Lokasi budidaya yang jauh, membuat pembudidaya harus menghabiskan hingga 60 liter BBM selama proses panen, karena bolak-balik mengangkut hasil.

Selain harga yang rendah, pembudidaya juga menghadapi masalah hama dan penyakit rumput laut yang sering muncul saat air laut tenang.

Hama seperti sejenis mirip tiram menyebabkan rumput laut membusuk, rontok, dan gagal panen.

“Sekarang ini banyak yang gagal panen.

Rumput lautnya lemas, busuk, terus rontok.

Kalau sudah begitu, tinggal tali sama hamanya saja,” keluhnya.

Ditanya harapannya berapa jumlah ideal harga rumput laut yang diinginkan pembudidaya?

Abdul Muis menjawab lugas, Rp15 ribu per kg.

Angka Rp15.000 per kilogram, menurutnya merupakan harga ideal agar pembudidaya bisa bertahan.

“Kalau Rp15.000 itu sudah standar.

Kalau bisa lebih, ya Alhamdulillah.

Tapi kalau terus di Rp10.000, berat bagi petani,” katanya.

Pembudidaya yang lain di sebelah Abdul Muis ikut menyeletuk, jika bisa kembali seperti di harga Rp40 ribu dibarengi tawa pembudidaya rumput laut lainnya.

Memecah panas lewat tawa mereka yang hanya beratapkan terpal. 

Harapan dan keinginan lain dari para petani kata Abdul Muis, berharap adanya pabrik pengolahan rumput laut di Tarakan.  

Agar pembudidaya tidak sepenuhnya bergantung pada pengepul, dan biaya distribusi ke luar daerah, seperti Makassar dan Surabaya.

“Kalau di sini ada pabrik, mungkin harga bisa lebih bagus.

Kita tidak perlu lewat banyak perantara,” pungkasnya. 

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.