TRIBUNJATIMTIMUR.COM, BANYUWANGI - Hari Minggu adalah yang santai bagi para siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Banyuwangi. Seperti yang terlihat pada Minggu (18/1/2025). Para siswa mengenakan pakaian bebas asyik menikmati waktu berlibur.
SRT 2 Banyuwangi menempati kompleks Balai Diklat PNS Licin di Desa Tamansari, Kecamatan Licin. Di beberapa area kompleks pada akhir pekan yang sejuk itu, terlihat beberapa siswa duduk mengobrol bersama orang tua masing-masing.
Minggu menjadi satu-satunya hari di kalender yang bisa dimanfaatkan para siswa untuk bertemu dengan keluarga. Hari itu jadwal kunjungan wali murid. Orang tua siswa SRT dari berbagai kecamatan di Banyuwangi datang membesuk putra-putri mereka yang mengikuti pendidikan di sekolah bentukan Presiden Prabowo Subianto itu.
Meski demikian, tak semua siswa mendapat kunjungan dari orang tua atau kerabat. Muhammad Nur Cahyo Yulianto (13) salah satunya. Di saat beberapa rekannya asyik bercengkrama dengan keluarga, Cahyo memilih bersantai di sekitar kamar asrama.
Baca juga: 7 Kecamatan di Probolinggo Terdampak Banjir, Petugas BPBD Evakuasi Warga hingga Ternak
Siswi kelas 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu merasa sudah tak memiliki orang tua. Ayahnya pergi saat Cahyo masih berusia 3 bulan. Sang ibunda meninggal ketika Cahyo masih duduk di bangku taman kanak-kanak.
Sejak saat itu, remaja yang berasal dari Kecamatan Pesanggaran itu harus berpindah-pindah untuk melanjutkan hidup. Pernah, ia tinggal bersama budhenya di Kecamatan Siliragung. Selain itu, Cahyo juga pernah menetap di Kecamatan Pesanggaran bersama sang nenek.
"Saya lebih senang tinggal di sini. Semuanya gratis," kata Cahyo, yang kemudian menyebutkan satu demi satu dari total sepuluh seragam gratis yang ia dapat dari SRT.
Sesuatu yang gratis memang hal yang menyenangkan bagi Cahyo. Kondisi ekonomi keluarga yang tergolong kalangan bawah membuat ia tak bisa berleha-leha selayaknya anak sekolah lainnya.
Sejak kelas 4 sekolah dasar, Cahyo sudah harus bekerja untuk mendapat uang. Ketika tinggal bersama budhe, ia bekerja di warung makan milik saudara sang ibu itu. Sementara saat tinggal bersama sang nenek, Cahyo menjadi buruh petik buah naga.
"Upah saya waktu itu sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu per hari. Tergantung banyak tidaknya yang dipanen," kenang Cahyo.
Cahyo masuk SRT 2 Banyuwangi setelah mendapat tawaran dari salah satu kerabat. Ia diberi tahu bahwa SRT adalah sekolah rakyat bentukan Presiden yang sistemnya berasrama dan gratis.
"Yang menawari waktu itu anak angkatnya nenek yang saya ikut tinggal di Pesanggaran. Saya manut saja," kata Cahyo.
Setelah masuk SRT 2 Banyuwangi pada pertengahan 2025, Cahyo merasa kembali hidup. Ia merasakan sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan: teman banyak, wali asuh dan wali asrama yang peduli, pendidikan dan waktu belajar yang cukup, hingga makanan enak yang selalu tiba di meja makan tepat waktu.
"Saya senang tinggal di sini. Di sini saya dapat semua yang dulu tidak pernah saya dapat," tambah Cahyo.
Di SRT, Cahyo bertekad untuk sungguh-sungguh dalam belajar. Setelah lulus SMP, ia tetap ingin melanjutkan pendidikan SMA di SRT. Syukur-syukur, nasib bisa membawanya untuk belajar di jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi.
Cita-cita Cahyo sama dengan kebanyakan siswa lain. Yakni ingin menjadi orang sukses. Ia ingin kelak bisa membahagiakan diri sendiri dan sang nenek yang berperan besar dalam kehidupannya setelah sang ibu meninggal.
Maka dari itu, Cahyo selalu tertantang terhadap hal-hal baru selama tinggal di SRT. Ia tak grogi untuk mengikuti lomba menyanyi yang digelar antar sekolah rakyat yang digelar di Jawa Timur. Saat itu, Cahyo yang bersuara sedikit berat membawakan satu lagu popular dan satu lagu anak-anak. Sayangnya, Cahyo tak mendapat juara. Tapi itu tak membuatnya putus asa.
Menjadi Disiplin
SEKITAR tujuh bulan siswa SRT 2 Banyuwangi menetap di asrama. Setiap hari, mereka menjalani rutinitas yang tak pernah sekalipun terlewat. Bangun subuh, sembayang, mandi, sarapan, persiapan sekolah hingga tidur.
Lambat laun, rutinitas itu membuat mereka menjadi disiplin. Jika tujuh bulan lalu para siswa harus dibangunkan untuk salat subuh, kini tak perlu. Wali asrama hanya tinggal berkeliling kamar memastikan setiap anak sudah siap untuk berjamaah di musala.
Perubahan itu terbawa bahkan ketika para siswa libur panjang semester dan pulang ke rumah masing-masing.
Mustakim (42), orang tua siswa SRT 2 Banyuwangi, mengakui hal tersebut. Selama sekitar 10 hari sang anak, Firman Pratama (13), berada di rumah, Mustakim melihat beberapa perubahan.
"Perubahannya pada hal-hal yang positif. Saya rasa anaknya jadi lebih baik, lebih disiplin," katanya.
Selama di rumah, Firman banyak melakukan kegiatan yang sebelumnya tak pernah ia jalani sebelum bersekolah di SRT 2 Banyuwangi. Contoh sederhana, Firman rutin mencuci baju dan melipatnya sendiri. Ia juga merapikan tempat tidurnya tanpa diminta.
"Dulu sebelum masuk sini, masih diurus orang tua, sekarang sudah tahu tanggung jawab," ucap warga Desa Pesucen, Kecamatan Kalipuro itu.
Bagi Mustakim dan istrinya, Nur Hainiyah (37), melepas sang anak untuk bersekolah di SRT memang tak mudah. Sepekan awal di tinggal sang anak, mereka merasa sunyi. Hainiyah sering kali menangis ketika menghawatirkan kondisi putra sulung itu.
"Awalnya sempat ragu Firman sekolah di sini. Tapi setelah disurvei dan dijelaskan soal sekolah rakyat, akhirnya saya setuju," ujarnya.
Kekhawatiran orang tua pupus setelah mengetahui bahwa anak mereka kerasan tinggal di SRT. Hal tersebut membuat mereka lebih nyaman dan tega meninggalkan sang anak tinggal lama di asrama.
"Saya juga senang tinggal di sini," kata Firman, yang kini badannya lebih berisi jika dibandingkan saat sebelum ia masuk ke SRT.
Tantangan Wali Asuh dan Asrama
TANTANGAN di SRT 2 Banyuwangi tak hanya dihadapi oleh siswa dan orang tua. Para penanggung jawab anak-anak di SRT juga punya tantangan tersendiri. Mereka adalah para wali asuh, wali asrama, dan tenaga pendidik.
SRT berisi 125 siswa yang terdiri dari 50 siswa SMA, 50 SMP, dan 25 SD. Mereka didampingi oleh 13 wali asuh, 5 wali asrama dan 22 guru.
Seperti namanya, wali asuh bertugas untuk mengasuh para siswa SRT di luar pembelajaran sekolah. Mereka yang bertanggung jawab terhadap kepribadian para anak didik. Tiap wali asuh membawahi antara 9 hingga 10 siswa.
Sementara wali asrama bertugas untuk mengatur keasramaan. Mereka menyediakan peralatan dan kebutuhan anak selama di asrama serta mengatur jadwal keseharian. Tanggung jawab dari sisi akademik dan pembelajaran menjadi tanggung jawab para guru.
Salah satu wali asuh SRT 2 Banyuwangi, Rio Dicky P, mengatakan, butuh waktu yang tak singkat untuk "meluluhkan" hati para siswa sehingga mereka mau tertib dan berdisiplin.
Sepekan pertama tinggal di SRT, para siswa masih diizinkan untuk memegang gadget sebagai tahap perkenalan asrama baru. Sepekan setelahnya, penggunaan gadget mulai dibatasi hanya untuk akhir pekan.
"Setelah itu, tidak ada lagi anak-anak yang bermain gadget. Sekarang mereka sudah terbiasa dan asyik tinggal di asarama," kata Rio.
Bagi Rio, hanya pendekatan dari hati ke hati yang bisa membuat para siswa SRT nyaman dan merasa aman. Pendekatan itu yang membuat mereka kini terbiasa disiplin tanpa harus diminta.
"Contoh sederhana saja, dulu anak-anak kalau bangun tidur, kasurnya pasti berantakan. Sekarang tidak. Mereka langsung membereskannya sendiri dengan kesadaran tanpa harus diminta," cerita Rio.
Di sekolah rakyat, para anak juga terlihat memiliki perilaku yang sopan. Setiap bertemu dengan wali asuh, wali asrama, guru, atau bahkan orang baru, mereka tak segan untuk menyalami.
"Bagi saya yang paling terlihat berbeda adalah attitude-nya. Juga fisiknya," ungkap Rio.
Di SRT, para siswa makan tertib tiga kali sehari. Lauknya juga bergizi. Setiap makan, selalu tersedia salah satu antara telur, ayam, atau ikan. Makanan juga belum termasuk jatah cemilan yang diberikan setiap hari.
"Anak-anak banyak yang seragam yang didapat awal masuk sini, sekarang sudah tidak muat. Saya sendiri berat badan juga naik beberapa kilogram," kelakarnya.
Bagi ayah satu anak itu, menjadi wali asuh di SRT 2 Banyuwangi adalah pengalaman yang berharga. Ia belajar banyak hal tentang memahami anak-anak dengan berbagai latar belakang yang berbeda, yang keseluruhannya berasal dari keluarga kelas ekonomi bawah.
"Anak-anak di sini adalah anak usia bermain dan belajar. Kalau wali tidak bisa sabar dan telaten, bisa malah tantrum sendiri," guyon Rio.
Satu hal yang membuat Rio dan wali-wali lain merasa bangga adalah ketika mereka melihat anak didik berprestasi. Para siswa yang sebelumnya minder dengan kehidupan masing-masing menjadi berani tampil dan berhasil.
Pada peyelenggaraan Festival Senandung Anak Bangsa 2025, tim hadroh SRT 2 Banyuwangi meraih juara pertama. Salah satu siswanya juga menjadi pemenang dalam kompetisi kaligrafi pada event tersebut, sebuah event yang digelar antar SRT yang ada di Jatim dan daerah lain.
Pada event peringatan hari ibu di tingkat kabupaten, salah satu siswa SRT 2 Banyuwangi juga mendapat penghargaan untuk peringkat keempat.
Jalin Kolaborasi
BUKAN perkara mudah bagi para guru, wali asuh, dan wali asarama untuk memberi ruang krasi para siswa yang berjumlah 125 anak dengan tingkat belajar dan latarbelakang berbeda-beda di SRT 2 Banyuwangi. Maka dari itu, berbagai program dijalankan untuk mendukung pengembangan mereka. Termasuk agar anak tak merasa bosan berkeseharian di lingkungan asrama.
Kepala SRT 2 Banyuwangi Chitra Arti Maharani mengatakan, pihaknya tetap mengutamakan kegiatan rutin yang digelar sebagai upaya pembentukan karakter. Hal tersebut mulai dari bangun pagi, salat berjamaah, olahraga, makan bergizi, belajar, ekstrakurikuler, malam mengaji, hingga refleksi.
"Pasti dalam tempo waktu 7 bulan berjalan, ada titik jenuh, ada yang sakit, ada yang bosan. Untuk mengatasi itu, kami mengadakan outing class. Semester kemarin dua kali, ke Banyuwangi Park dan Jatim Park," kata Chitra.
Outing semacam itu mendapat sambutan yang baik dari para siswa. Mereka bisa merasakan kegiatan yang di luar rutinitas harian. Makanya, pihak SRT 2 Banyuwangi berupaya untuk mengadakannya rutin dua kali dalam tiap semester.
"Tujuannya memang agar anak-anak belajar di luar sekolah dan mendapat wawasan baru," sambungnya.
Selain itu, pihaknya juga menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak. Narasumber seperti praktisi didatangkan ke SRT untuk memberi pandangan tentang hal-hal baru. SRT juga berkerja sama dengan sekolah lain sebagai bentuk kolaborasi.
"Pekan ini, ada kolaborasi SRT dengan dengan SMAN 1 Giri. Bentuknya latihan gabungan dari sekolah," ujarnya.
Di luar pembelajaran, para siswa juga diajak untuk berekreasi secara berkala. Para wali dan guru, misalnya, mengajak mereka untuk berlibur ke tempat destinasi wisata dekat asrama.
"Kami mencari aktivitas agar anak-anak nyaman dan tidak terus kepikiran rumah. Misalnya hari Minggu diajak jalan ke Sendang Seruni," tutur dia.
(Aflahul Abidin/TribunJatimTimur.com)