Laporan wartawan TribunPriangan.com, Jaenal Abidin
TRIBUNPRIANGAN.COM, KOTA TASIKMALAYA - Wajah Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya yang memiliki ribuan kios ternyata harus berjuang keras di tengah gempuran arus zaman.
Bahkan, di balik blok pasar yang tertata, tersimpan kisah pilu para pedagang pakaian dan sendal yang semakin terdesak oleh gempuran belanja online, hingga menyisakan tanya, "kuat sampai kapan?"
Padahal Pasar Cikurubuk menjadi pasar tipe A dan terbesar di Priangan ini menjadi penyuplai aneka kebutuhan bahan pokok. Namun, ternyata tidak semua kebutuhan ramai oleh pengunjung.
Dari ribuan kios yang ada, kini hanya tersisa sekitar 600 pedagang pakaian yang masih bertahan. Itu pun sebagian sudah tutup dari total 2.772 kios dan los yang masuk pengelolaan UPTD Pasar Cikurubuk.
Pantauan TribunPriangan.com, aktivitas jual beli di blok B-II nampak sepi pembeli. Hanya sebagian toko yang buka, tanpa ada pembeli yang datang.
Bahkan di beberapa kios sudah tampak terpampang papan tulisan dijual maupun dikontrakkan akibat tidak ada pemasukan yang mengakibatkan harus berhenti operasi.
Kondisi ini dipicu banyak faktor, salah satunya akses jalan rusak parah. Meskipun begitu, sejumlah pedagang tetap bertahan berjualan meski sepi pembeli.
"Kalau kios saya sudah tutup kurang lebih 3 tahun, sementara ini yang buka kios baju saja," ungkap Undang pedagang pakaian di Blok B-II Pasar Cikurubuk ditemui wartawan TribunPriangan.com, Minggu (18/1/2026).
Baca juga: Jalan Rusak dan Kumuh Jadi Penyebab Pasar Cikurubuk Tasikmalaya Sepi Pembeli
Selain itu ia menuturkan, perbaikan fasus fasom menyebabkan pembeli enggan datang untuk membeli produk yang dijajakan di Pasar Cikurubuk.
"Saat ini kan jalan rusak, jadi banyak pembeli malas kesini karena becek juga. Seharusnya pemerintah harus cepat tanggap turun kesini, jangan hanya menaikan retribusi saja," tegas Undang.
Undang mengaku, untuk pedagang pakaian dan sendal di blok B-II 2 yang tutup hampir setengahnya dari jumlah yang masih berdagang
"Mungkin sekarang udah nyampai 40 persen kios sudah tutup, selain tidak sanggup bayar retribusi, kita juga dibebankan dengan minat pembeli yang sangat berkurang," ucapnya.
Pria asal Kota Tasikmalaya ini masih bertahan dengan beberapa kios yang dimilikinya dengan dikelola bersama anaknya.
"Punya dua kios sudah tutup, mau dikontrak juga tidak laku karena kondisi di blok B-2 ini kan sepi pembeli, siapa yang mau berdagang di sini," kata Undang.
Senada dikatakan Budi (41), pedagang di Blok B2. Ia menyebut penurunan omzet sudah ia rasakan sejak lama hingga disusul serbuan belanja online yang kian tak terbendung.
“Persaingan penjualan online sangat terasa dan dampaknya besar," jelasnya
Budi mengaku, omzet mengalami penurunan drastis hingga 70 persen setiap bulannya akibat sepi pembeli.
"Untuk harga baju dewasa di kios saya Rp 100 ribu, untuk baju anak Rp50 kebawah. Tapi dengan harga segini tetap sepi, bahkan sudah sering setiap harinya tidak ada yang laku," keluh Budi.
Pedagang baju perempuan blok B-2 Ani (58) menjelaskan ia tetap bertahan meskipun sepi pembeli dan tidak ada tambahan lain selain menjual langsung di toko.
"Kita udah tua, mau jualan online tidak ada alat dan harus siap stok barang. Bahkan kios saya pun satu lagi sudah lama tutup," jelas Ani.
Sementara itu, Kepala UPTD Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya Deri Herlisana mengungkapkan, untuk kios yang tutup tidak boleh diperjualbelikan karena asetnya milik pemerintah bukan milik perorangan.
"Sebenarnya tidak boleh, kan ini aset pemerintah. Apapun alasannya karena ini sudah sesuai regulasi aturan pemerintah," tegasnya.
Menurutnya, pihak UPTD hanya mengeluarkan Surat Ketetapan Pemanfaatan Tempat Usaha (SKPTU) sebagai bukti jualan di kios tersebut.
Apabila tidak membayar retribusi, kios itu harus dikembalikan kembali ke pemerintah. Saat ini pihaknya tengah melakukan verifikasi ulang pedagang.
"Sekarang baru tahap verifikasi untuk mengetahui mana yang kosong, mana yang buka, dan mana yang buka-tutup,” ucap Deri.(*)