Kisah Sukses Owner Redo Coffee Syahrial Ogi, Jual Mobil untuk Kembangkan Bisnis Kopi di Manado
January 18, 2026 06:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Cerita Inspirasi Syahrial Ogi yang rintis usaha bernama Redo Coffee hingga sukses di Manado, Sulawesi Utara.

Bersama Pemimpin Redaksi Tribun Manado Jumadi Mappanganro, Syahrial menceritakan kisahnya merintis usaha Redo Coffee, dalam acara Tribun Podcast, Kamis (15/1/2026).

Berbeda dengan Podcast biasanya yang berada di Studio, kali ini Tribun Manado langsung mengunjungi Redo Coffee yang berlokasi di Jalan Jendral Sudirman, Pinaesaan, Wenang, Kota Manado.

Jarak lokasi Redo Coffee 13 km dari Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi Manado.

Waktu tempuh sekira 27 menit dengan kendaraan bermotor lewat Jl. A.A. Maramis/Kairagi - Mapanget.
 
Berikut ini wawancara Pemred Tribun Manado Jumadi Mappanganro dengan pemilik Redo Coffee Syahrial Ogi:

Tribun Manado: Selamat sore, Bung Syahrial

Syahrial: Selamat sore

Tribun Manado:  Bagaimana kabar sore ini?

Syahrial: Baik, sehat-sehat

Tribun Manado: Terima kasih, Bung Syahrial, sudah meluangkan waktu untuk bincang-bincang dengan Tribunners. Kami menganggap Bung Syahrial ini adalah sebagai sosok inspirasi karena memulai usaha betul-betul dari bawah, dan saat ini sudah banyak melakukan ekspansi usaha. Jika di Manado saat ini banyak kita lihat tumbuh food truck atau mobile coffee, satu di antara perintisnya adalah Bung Syahrial Ogi. Bung Syahrial, kita mulai sebelum bicara soal bisnis kopi. Penonton penasaran, ingin mengetahui perjalanan hidup Bung Syahrial mungkin dari kecil lahir di mana, menghabiskan masa kecil di mana, mungkin bisa diceritakan.

Syahrial:  Saya sendiri orang Koha. Koha masih masuk Minahasa. Kecamatan Pineleng dulu, sekarang ini sudah Mandolang. Menghabiskan masa kecil dibangku SD SMP di Koha. Jadi saya sendiri background dari masa kecil anak kampung, tinggal di Koha saja. Keluar setelah SMP, dimasa-masa SMA yang sudah sekolah di Tomohon dan kuliah di luar.

Tribun Manado: Dulu memang masa kecilnya itu ada rencana memang mau cita-cita apa, mau bangun usaha atau bagaimana?

Syahrial: Kalau untuk cita-cita, ini ya sederhana sekali. Waktu itu seperti anak pada umumnya, mau masuk tentara, polisi.

Tetapi pada waktu sudah berjalan, sudah SMP dan menentukan pilihan, akhirnya justru saya memutuskan untuk masuk asrama di seminari SMA. Seminari Kakaskasan waktu itu, dan tes dari jenjang SMP dan ternyata lulus.

dan saya memutuskan untuk masuk asrama di seminari Kakaskasan waktu itu. Jadi belum ada rencana untuk usaha atau spesifik yang bagaimana. 

Tribun Manado: Terus dari mana ide awalnya memulai bisnis kopi?

Syahrial: Sebenarnya waktu itu setelah lulus kuliah dan masuk kerja, saya kurang lebih 12 tahun di marketing. 

Tribun Manado: marketing di mana?

Syahrial: Waktu itu saya menjual untuk marketing asuransi, dari Jakarta kemudian ekspansi ke Manado, pengembangan di Manado, dan waktu itu saya memutuskan untuk resign dan memulai bisnis, itu prosesnya panjang sekali, maju mundurnya panjang sekali, karena background saya memang bukan bisnis, apalagi ekonomi, saya kuliah filsafat justru. Di seminari tinggi Peneleng. 

Jadi memulai untuk dunia usaha memang sama sekali hal baru. Makanya dalam dunia usaha saya sadar betul itu, dan kita mendirikan Redo itu karena salah satu filosofinya yaitu Redu. kita membuat ulang sesuatu yang salah, yang mungkin keliru, kita buat lagi untuk hal yang menuju lebih baik lagi. Itu filosofi dari Redo Coffee sebenarnya.

Menjadikan nama yang secara dialek itu lebih cocok kalau di bahasa Manado lebih cocok menyebutnya Redo. Jadilah penamaannya lebih familiar di Redo. 

Tribun Manado: Tahun berapa itu?

Syahrial:  Kita putuskan untuk itu di tahun 2018. 2018 kita sudah eksperimen dengan Kopi-Kopi. tapi sebelumnya sebelum memutuskan itu tahun 2010. Kurang lebih sepanjang 8 tahun itu baru bisa memutuskan dan resign dari kerjaan.Karena maju mundurnya ini.

Dan di masa-masa itu kita selalu hunting rumah kopi, kedai,  baik itu di Manado maupun di luar, untuk selalu membandingkan cita rasa, kemudian selera pasar, dan perkembangan kopi secara umum. Sehingga pada 2018 kita baru memutuskan untuk memulai usaha itu.

Tribun Manado: Bisnis kopi apa awalnya?

Syahrial: Bisnis kopi awal itu sebenarnya yang kita mulai adalah roastery. Jadi yang tempat songara kopi. Dengan nama Redo Kopi Roastery. Jadi kita memulai itu, kemudian berkembang ke Redo Farm dengan perkebunan kopi, dan selanjutnya Redo Coffee bentuk kafe. Tapi yang kita usung waktu itu mobile kopi.

Dengan menggunakan mobil vw kombi, dengan konsep yang lebih proper lah, karena kita menggunakan mesin kopi di mobil, yang bukan hanya sekedar street, tapi lebih proper untuk customer dengan menu-menu kekinian.

Tribun Manado: Kenapa Bung Syahrial itu memilih usaha kopi, bukan usaha lain? 

Syahrial: Pertama pertimbangan saya, kenapa kopi? Karena kopi sesuatu hal yang sebenarnya tingkat resikonya rendah, dibandingkan dengan makanan yang kalau tanpa pengalaman.

Istilahnya begini, saya membandingkan kalau kita usaha resto, kemudian di satu hari itu kurang laku atau tidak laku, dan kemudian bahan sudah saya buat atau kita sajikan, kemudian agak sedikit di transaksi, akhirnya kan kita rasa, aduh mubasir juga.  Jadi kopi itu adalah produk yang tidak basi. Itu perkiranya.

Tribun Manado: Jadi resikonya minim? 

Syahrial: Resikonya minim, kemudian dengan HPP yang cukup rendah. Untuk tren yang sekarang ini berkembang ini, dengan kopi-kopi yang skala nasional sudah berkembang dengan berbagai macam nama dan bentuk, kita menyesuaikan dengan selera pasar Manado. Itu yang kita mau mengusung kopi.

Kemudian latar belakang kedua adalah konsentrasi redo ini pada petani lokal yang dulunya banyak yang belum mendapat tempat untuk memposisikan produk dari mereka sendiri. Jadi kita usung untuk redo ini mendedikasikan roasterynya kepada petani lokal dulu, baru kemudian skala luar daerah, tapi masih masih Indonesia, belum untuk kopi-kopi luar negeri. 

Itu dedikasi pertama yang kita usung supaya juga kalau berkembang bisnis kita, kita akan memiliki dampak sosial kepada petani lokal. Itu yang kita inginkan. Jadi cita-cita misinya ke arah situ. Jadi kita pengennya berkembang, berdampak secara sosial juga ke petani lokal.

Tribun Manado: Apa ada yang memberikan inspirasi atau ada yang memberikan arahan, oh bagusnya Bung Syahrial ini bisnis kopi saja gitu? 

Syahrial:  Pertama sebenarnya tidak. Kita ada istilahnya punya kecintaan, passion terhadap kopi. Jadi setelah lihat pengalaman di luar dan teman-teman yang mendirikan cafe di Bandung, di Jogja, kita lihat mereka dengan gaya lokalnya begitu kental mempromosikan daerahnya dan begitu bangga dengan kopinya.

Kenapa kita di Msnado kurang memberi ruang kepada kopi kita sendiri. Makanya dengan ketertarikan itu, kita mengusung untuk mendedikasikan roastery kita pada kopi-kopi lokal. Itu yang paling utama. Makanya kita meroasting kopi dari petani-petani lokal. Entah itu Arabica dari Tomohon, Arabica Minahasa Koya, Kopi Kotamobagu dari Modayak, itu kita roasting di roastery kita.

Tribun Manado: Modal awal bangun usaha pertama itu berapa?

Syahrial: Modal awalnya kurang lebih saya 100 juta, kurang lebih. Itu pun hasil dari jual mobil. Jadi waktu kurang lebih 12 tahun kerja, ada hasil kredit yang sudah lunas. Jadi kita jual mobilnya dan saya ganti motor. Waktu itu untuk operasional hari-hari. Tapi dengan modal kecil itu, kita mau visi-misi kita terbentuk secara natural dan organik. 

Tribun Manado: Pertama kali bangun usaha roastery itu di mana?

Syahrial: Usaha roastering itu kita buka di Jalan Mawar Jaya No. 3 di Griya Paniki Indah (GPI). Jadi di rumah, kita gunakan garasi saya. kebetulan mobilnya sudah dijual, jadi garasinya tetap kosong. Jadi roastering paling pertama itu dengan kapasitas 500 gram. Waktu itu mesin roasteringnya kecil sekali.

Sehingga kalau orang pesannya 3 kilo, agak sedikit kelabakan kita.  Jadi dengan permintaan yang semakin banyak, kita memutuskan untuk membeli mesin yang kedua itu,  mesin kapasitas 5 kilo, kemudian ada 10 kilo, dan yang terakhir juga 5 kilo untuk Arabica. Jadi ada kurang lebih 3 mesin sekarang yang kita operasionalkan di GPI.

Tribun Manado: Sampai sekarang masih jalan? 

Syahrial: Sampai sekarang rumah roastering kita masih di situ.

Tribun Manado: Sekrang produksinya untuk perhari bagaimana?

Syahrial: Sekarang produksinya untuk 1 bulan itu 1-3 ton. untuk perbulan

Tribun Manado: Ambil kopi dari mana? 

Syahrial:  Kopinya kopi lokal, kita dari Modayak, ada dari daerah Purworejo Boltim tentunya. Kemudian ada juga yang dari paling luar itu Palu. Kemudian kita juga ambil Arabica Koya Minahasa, Arabica Tomohon, ada beberapa tempat.

Kemudian kopi-kopi lokal yang masih datang itu, seperti ada juga yang dari Kawangkoan sebagian kecil. Dan petani-petani lepas yang memiliki kopi, yang dari Sangihe, maupun dari Tondano

Tribun Manado: Konsumen kopi Redo ini dari mana saja? yang biasa beli?

Syahrial:  Kalau konsumen kita ini untuk rostering itu sendiri, lokal, masih kafe-kafe lokal, meskipun ada beberapa yang dari Jakarta, yang orang Manado di Jakarta, kemudian menggunakan kopi kita, kita kirimkan biasanya. Tapi kebanyakan, mostly-nya itu 26 kafe itu ambil di kita, itu yang di Manado sih.

Kemudian ada juga yang Gorontalo, kemudian beberapa kali juga kita sempat kirim ke luar, karena ada orang Manado yang ada di Singapura, Amerika. tapi bukan yang rutin, masih penjualan-penjualan putus begitu. Karena memang harga kirimnya itu begitu mahal kalau di luar negeri.  

Jadi karena kebanyakan orang take and carry saja. memang lebih banyak kedai kopinya masih di kota Manado.

Tribun Manado: Tantangan awal usaha roastering kopi ini apa sih?

Syahrial:  Tentangan awal yang kita dapat, biasanya klasik sekali. Selalu unit usaha itu, di bahan baku. Pertama konsistensi bahan baku yang kadang-kadang tidak stabil.

Meskipun kita untuk Arabica udah stabil, karena kita mengajarkan memang SOP, standar pengelolaan SOP yang sudah dipakai di proses pasca panen di Arabica. Tetapi kalau untuk Robusta, memang kita masih dapat, ada yang kualitas yang memang masih di bawah. Kemudian karena pohonnya pohon tua, sudah ratusan tahun, ada juga yang punya biji-biji hitam.

Dan memang beberapa petani yang di Kotamobagu, kita menganjurkan untuk memang mengadakan peremajaan. Karena dengan peremajaan itu, memang akan drop dia punya produksi, tapi 2-3 tahun ke depan juga akan stabil lagi. Jadi daripada tanam baru, kita bikin peremajaan yang full, itu masih lebih bagus. Itu yang kendala untuk bahan bakunya.

Tetapi yang kendala kedua,  yang biasanya datang dari pelaku usaha, biasanya klasik sekali, yaitu modal. Biasanya UMKM yang awal-awal itu, selalu maju mundur untuk bikin usaha, karena modal. Dan kita mau buktikan memang agak sedikit, kita bisa sampai ke tahap ini,  agak sedikit kita stretching. Istilahnya agak sedikit kita stretching, paksa untuk menghemat di posisi-posisi tertentu untuk memutar modal. Karena kita bukan yang mulai dari modal-modal yang besar untuk mulai usaha. Apalagi dengan background yang memang belum banyak berkecimpung di dunia usaha.

Jadi kita tahu akan menghadapi hal-hal tertentu. Makanya filosofi kita selalu Redo. Jadi kalau kita temukan ada yang perspektif yang salah, kemudian ada pencatatan yang salah, kemudian ada cara pengelolaan yang salah, kita memiliki mentalitas yang kita bikin ulang. Bikin lagi sesuatu yang lebih baik lagi. Jadi Redo filosofi yang kita selalu hidupi dalam usaha ini.

Tribun Manado: Bung Syahrial, tadi dari usaha roasting, kemudian ekspansi ke mobile cafe. Itu bagaimana ide awalnya? Dan kapan memulai mobile cafe? 

Syahrial: Tahun 2021, kita menginisiasi untuk mobile coffee. Itu lagi covid. Jadi pas lagi covid begitu kita banyak di rumah, penjualan otomatis merosot waktu itu.

Tapi kita memang UMKM yang lahir langsung menghadapi covid.  Jadi baru merangkat setahun, sudah menghadapi covid. Tetapi saya juga pelaku ekonomi kreatif dan kita kreatif untuk bikin terobosan yang baru. Waktu itu kita mendapatkan sedikit modal dari penjualan. Penjualan bingkisan untuk pilkada. kita bikin satu bungkusan dengan visi-misi kepala daerah. Kita jual ke mereka, menggunakan kopi lokal, menyerap kopi yang tertahan di petani itu dan mereka senang sekali.

Dan beberapa kepala daerah, calon kepala daerah waktu itu menggunakan jasa kita produk lokal ini. Merek Redo. Jadi di situ sudah disertakan nama visi-misi dan ini by Redo. Jadi kita menanggung isinya, isi dari kopinya. Nah, dari modal itu, kita mengekspansi ke mobile coffee.

Paling pertama, unit pertama itu kita bangun di tahun 2021 itu. Kemudian kita rilis di tahun 2022 Itu mulai dengan street. 

Tribun Manado: Dimana itu?

Syahrial: Di depan Novotel kita mulai street, kemudian permintaan paling pertama adalah pihak bandara untuk masukin unit di bandara Samratulangi. Jadi kita konsep yang pop up, yang paling pertama juga menginisiasi di bandara. 

Dari seluruh bandara, waktu itu Bali saja masih belum ada VW Kombi. kita mengusungkan dengan Mobil VW, Kenapa? Mobil VW itu tampilannya klasik, tapi juga bisa diterima oleh merek-merek lain. Sehingga di event-event, Toyota juga bisa undang kita, Daihatsu bisa undang, Nissan juga pernah undang kita, dan event-event mobil kita masuk. Bahkan waktu itu, kita diundang masuk dalam Mantos 3. Dalam festival yang diselenggarakan Anggota Dewan, waktu itu bikin acara di situ. 

Dan kita, Mobil VW Kombi satu-satunya yang mobil tua yang masuk ke Mantos 3, ya VW Kombi ini. Jadi itu yang menjadi pembicaraan, dan dilihat, banyak sekali yang tanya-tanya tentang suku cadang dan sebagainya, tentang bikinnya bagaimana, pesan dan sebagainya. Dan kita sadar bahwa ini kurang bunyi kalau satu unit. Setelah kita masukkan di bandara 1 unit VW Kombi, satu lagi kita bangun untuk yang di Megamas.

Kemudian lahir juga unit ketiga dan keempat yang kita juga masih taruh di kawasan Megamas. Itulah kenapa kita mem-branding dari mobile Coffee, karena kita maunya menjemput customer, bukan hanya sekedar menunggu. Kemudian setelah settle dari situ, baru kita mendirikan stasiun yang begini. Ini pertama kali stasiun yang Redo Coffee. Selain itu masih yang mobile Coffee. Itu yang usungan di tahun 2022. 

Tribun Manado:   Apa yang Bung Ogi rasakan di bisnis mobile Coffee itu? Tantangan-tantangan yang dihadapi?

Syahrial:  Tantangan yang paling pertama di mobile Coffee adalah cuaca. Karena di 365 hari, kita harus menyiapkan hari hujannya. Jadi tidak semua hari profit. Dengan iklim yang berubah kita mesti siap juga dengan cuaca. Jadi pas lagi hujan otomatis kita akan tutup. Karena customer-nya saja tidak ada pas hujan. Jadi harus tutup.

Beda lagi kalau di indoor seperti di bandara atau di dalam mall Itu beda lagi. Customer bisa datang kapan saja dan kita bisa hitung. itu tantangan utamanya. Kita berada dalam ketidakpastian kalau di mobile Coffee. Karena otomatis dibutuhkan daya struggle kita juga untuk melihat potensi lain atau event-event lain yang kita bisa tawarkan.

Makanya selain mobile, untuk regular kita juga menawarkan untuk event-event. seperti di kantor maupun kondangan yang sekarang ini berkembang, sampai ke acara kedukaan.

Tribun Manado: Sampai acara kedukaan juga diundang ya?

Syahrial:  Iya, acara-acara kedukaan mereka undang karena masih lebih murah membayar Coffee dengan ratusan cup di kita sambil tidak mempengaruhi keluarga yang memang lagi berduka. Keluarga yang lagi berduka kemudian masih disibukkan dengan konsumsi lagi kurang ini itu.

Makanya kebanyakan mereka untuk lebih praktisnya kebanyakan panggil stand mobile kita untuk layani tamu-tamu mereka sambil tetap fokus pada kedukaan mereka.

Tribun Manado: Saat ini sudah berapa banyak karyawan yang dipekerjakan oleh Redo Coffee? 

Syahrial:  Dulu 1 orang sekarang ini sudah 30. Barista yang ada di kita sudah dengan unit roastery.

Kemudian kelompok tani juga yang di Redo Farm itu ada kurang lebih 15 orang yang aktif dari 30 kurang lebih yang sampai sekarang ini masih bertahan. Dan itu ada di Desa Rurukan. Nah itu yang kita kembangkan. Jadi kurang lebih dengan anak-anak muda dengan passionnya juga belajar kopi, kita senang bahwa juga bisa mengajarkan ke mereka untuk bisnisnya, untuk cara bikinnya.

Dan itu saya rasa menjadi kepuasan tersendiri bagi saya sendiri pribadi untuk melihat generasi-generasi berikutnya yang punya passion di kopi. kira-kira begitu. 

Tribun Manado:  Nah Bung Ogi, ini kan sudah ada 5 tempat yang usaha Redo Cafe. Kedepan apa ada rencana akan melakukan ekspansi lagi ke daerah di luar Manado atau bagaimana? 

Syahrial:  Beberapa pengusaha di luar memang sudah tanya sistem franchise. Ada yang dari Jakarta, Surabaya yang terakhir tadi juga menghubungi dari Riau.

Tetapi memang jelas sekarang ini memang untuk sistem franchise kita masih menggodok, apa untung-ruginya, kemudian bagaimana sistemnya dibangun. Itu yang masih kita pelajari lebih dalam lagi tentang sistem franchise.  Sekarang ini memang masih pengelolaan masih sendiri. Untuk kedepannya kita memikirkan untuk satu unit pelatihan.

Pelatihan untuk perpaduan antara barista dengan kelompok tani. Kita akan bikin satu tempat yang ada di perkebunan kopi itu. 

Pengennya untuk menambah value dari kelompok tani di mana kalau pertanian kopi saja itu kan tahunan panennya. Untuk menambah nilai tambahnya makanya diperlukan satu unit usaha secara holistik juga perlu kita bangun di perkebunan untuk menambah wawasan kepada petani dan kemudian pendapatan juga untuk para petani kopi.

Selain itu juga sektor perwisata akan jalan. Karena di situ berlaku untuk kedepannya edukasi kopinya akan jalan.

Dan orang merasa bahwa datang ke situ adalah sesuatu yang memiliki nilai karena mereka bukan hanya membeli kopinya tapi membeli pengalaman experience tentang proses kopi yang ada di kebun kopinya.

Sehingga sesuatu yang beda pendekatan harus memang dipikirkan. Ya intinya memang kalau di dunia kopi yang terus bergerak ini kita memang harus dinamis. Harus tetap dinamis dan tetap membaca peluang. Itu yang selalu kita aware dengan kita punya bisnis.

Tribun Manado: Kalau kita lihat sekarang di Manado sangat menjamur mobil cafe. Dan itu juga membuat kompetisi makin bertambah. Apa yang dilakukan Syahrial Ogi supaya Redo ini tetap bisa bersaing di tengah kompetisi yang semakin ketat?

Syahrial: Dengan menjamurnya VW Kombi yang food truck ini saya melihat secara positifnya bahwa sebenarnya teman-teman yang mendirikan food truck ini juga mengkampanyekan hal yang sama dengan kami yaitu gerakan untuk minum kopi.

Itu satu gerakan yang secara nasional itu menampak konsumsi kopi itu per kapita naik.

Yang 0,5 kita lihat mungkin tahun depan ada 0,7 itu berarti dari 290 juta itu sudah sangat berarti untuk petani kopi lokal, nah itu kampanye yang positif.

Dan menurut saya itu masing-masing unit usaha saya rasa punya identitas tersendiri yang bukan hanya menjadi kompetitor tapi mereka memberikan satu pengalaman yang mungkin kita tidak bisa berikan ke customer kita dan ada di tempat lain itu juga menambah wawasan tentang kopi dan menambah kekayaan tentang pengalaman minum kopi seperti itu.

Jadi saya akan merasa senang sekali untuk perkembangan kopi yang sudah menjamur  dan tambah banyak di Manado ini. Mungkin yang perlu dilihat adalah bagaimana memberikan ruang kopi lokal untuk ada di kedai masing-masing. meskipun beberapa kedai ada yang terima kopi mengusung kopi dari luar negeri, tapi sambil tidak membiarkan kopi lokal itu mati suri di tengah berkembangnya kafe-kafe yang ada di Manado gitu kan. Kira-kira itu yang menjadi harapan. Kalau untuk di Redo sendiri, kita memiliki identitas yang jelas tentang kopi.

Sehingga kita tidak merasa takut akan kompetitor. kita memiliki keunikan tersendiri Hulu hilir dari telling story kita sudah jelas bahwa cor bisnis kita di kopi dan kita memperkuat identitas itu sehingga kita rasa kita akan tetap leading untuk di kopinya.

Tribun Manado: Bung Syahrial, apa yang perlu dilakukan oleh pemerintah terkait UMKM Kopi? apakah sejauh ini sudah banyak membantu atau kurang, atau apa yang perlu lagi dilakukan oleh pemerintah untuk mendukung ini mobil kafe, terus UMKM yang mungkin lebih banyak ke Kopi-kopi?

Syahrial: Yang perlu dilakukan yang saya perlu tekankan untuk pemerintah kota Manado, Sulawesi Utara itu menekankan itu regulasi yang jelas sebenarnya untuk UMKM dan posisi-posisi tertentu yang memang harus dipakai oleh UMKM, sehingga UMKM gak tarik ulur atau tidak menyalahi aturan tertentu yang dilarang oleh pemerintah tentunya.

Dan itu yang harus diperjelas, apalagi ini foodtruk ya, foodtruck dengan menggunakan fasilitas mungkin jalan.

Nah, itu yang perlu diatur lagi regulasinya sehingga pelaku UMKM merasa jelas dari sisi regulasi itu. kejelasan itu yang perlu di warning kepada pelaku UMKM.

Tribun Manado: Kalau soal pelatihan-pelatihan?

Syahrial: Kalau soal pelatihan-pelatihan beberapa dinas seperti dinas pariwisata, dinas koperasi itu secara reguler ada program-program pelatihan barista dan sebagainya untuk pelaku usaha, apalagi
pelaku usaha yang baru ada banyak yang dilakukan.

Tribun Manado: Terakhir ini Bung Syahrial apa yang berbeda dari Redo Coffee dengan Cafe Cafe lain dan filosofi apa yang ingin dibangun oleh ya Redo Coffee??

Syahrial: Redo Coffee sendiri karena basisnya kopi lokal, kita mau cita rasa lokal yang dari Manado ini memang benar-benar terasa dalam nuansa Redo. 

sehingga kita mau Redo ini berkembang bukan hanya soal bisnisnya, tapi juga sampingnya istilahnya side core-nya ini bisa mempengaruhi petani lokal di sini.

 itu yang menjadi cita-cita dari Redo sendiri dan itu karena Redo ini core bisnisnya dikopi, makanya selalu kita menekankan dari hulu sampai hilirnya kita berusaha untuk jalani.

Jadi dari pembibitan kopi, penanaman, pascapanen redo juga ada di situ.

Kemudian roasteri sendiri tempat songara sendiri, redo juga ada untuk pengelolaan roastingnya dan muaranya, di customer sendiri redo membangun bisnis yang mobile coffee maupun station yang seperti ini.

Tribun Manado: Terakhir Bung Syahrial, apa harapan Anda ke depan dan apa pesan-pesan Bung Syahrial Ogi terhadap pelaku UMKM pemula yang mungkin tertarik untuk membuka bisnis kafe juga atau bisnis kopi?

Syahrial: Yang saya mau tekankan untuk pemula, pertama masalah klasik pasti dengan modal dan sebagainya, bukan modal tidak penting tetapi jangan pusatkan perhatian pada pada modal. Paling pertama adalah mulai dulu, kemudian konsistensi dan bangun citra positif tentang usaha Anda sehingga lambat laun dengan adanya waktu konsistensi itu akan dijalani dengan penuh hati. Itu saya rasa akan membangun citra positif dari bisnis Anda yang Anda mulai dirintis. Itu yang kira-kira yang saya mau tekankan untuk pada pemula.

Tribun Manado: Terima kasih Bung Syahrial Ogi sudah berbagi inspirasi dengan tribuners. Kami doakan Bung Syahrial dan tim selalu diberikan kesehatan dan usahanya makin maju.

Syahrial: Terima kasih.

Tribun Manado: Demikian tribuners perbincangan kami dengan Bung Syahrial Ogi owner dari Redo Coffee. Semoga memberikan banyak manfaat. Salam tribun.

Baca juga: Risolbyfloo: UMKM di Sulut yang Tumbuh dari Bangku Sekolah hingga Kampus

Biodata

  • Nama Syahrial Ogi
  • Lahir: Koha, Minahasa, 24 Feb 1980
  • Orangtua: Manes Ogi, Lamsyiah Siregar (ibu)
  • Istri: Emilia Fransisca
  • anak:
  • Owner Redo Coffee 

Riwayat pendidikan

  • SD KATOLIK KOHA
  • SMP Kristen 33 Koha
  • SMA Fransiscus Xaverius Kaskasen (1996-2000)
  • STF Seminari Pineleng (2000-2005)

Riwayat Pekerjaan

  • Manager Marketing PT Prudential Manado (2008-2020)
  • Redo (2018) akta pendirian 2019 UMKM

(TribunManado.co.id)

-

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.