Pendapatan Tukang Becak Naik Signifikan Saat Pelaksanaan Perang Air di Meranti
January 18, 2026 06:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, MERANTI – Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti yang memastikan pelaksanaan tradisi Perang Air atau Cian Cui pada perayaan Imlek 2026 diprediksi akan membawa dampak positif terhadap peningkatan ekonomi masyarakat kecil, khususnya para tukang becak di Kota Selatpanjang.

Momentum budaya tahunan ini akan tetap digelar meski bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan.

Kegiatan ini dinilai menjadi sumber penghidupan tambahan bagi tukang becak yang selama ini bergantung pada sektor jasa transportasi tradisional.

Sejumlah tukang becak di pangkalan Sandang Pangan Selatpanjang mengaku pendapatan mereka meningkat signifikan saat Perang Air. Hal ini karena Arus pengunjung yang datang untuk menyaksikan tradisi tersebut membuka peluang ekonomi yang lebih luas.

“Kegiatan Perang Air ini sangat membantu kami. Penumpang bertambah, sehingga penghasilan juga meningkat. Kami sangat berterima kasih kepada Pak Bupati H. Asmar dan pemerintah daerah,” ujar Saf, seorang tukang becak di Selatpanjang.

Menurutnya, tambahan pendapatan tersebut sangat berarti, terutama di tengah kebutuhan ekonomi selama bulan puasa. “Alhamdulillah, rezeki ini bisa kami gunakan untuk keperluan Ramadhan, membayar zakat, dan mempersiapkan kebutuhan anak-anak menjelang Idulfitri,” jelasnya.

Mereka menyebut, kebijakan tersebut menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap ekonomi rakyat kecil. Ia berharap tradisi Perang Air terus dilestarikan karena memberikan efek berantai bagi sektor ekonomi informal.

“Bukan hanya kami tukang becak, pedagang kecil, warung, dan penginapan juga ikut merasakan manfaatnya. Ini benar-benar menggerakkan ekonomi masyarakat,” pungkasnya.

Baca juga: Berlangsung di Waktu yang Sama, Pemkab Meranti Atur Pelaksanaan Jalur Perang Air dan Bazar Ramadan

Baca juga: Festival Perang Air Meranti 2026 Tetap Digelar di Tengah Momen Ramadhan

Selain mereka, dampak signifikan juga terlihat dari meningkatnya tingkat hunian hotel dan penginapan di Selatpanjang. Sejumlah pelaku usaha perhotelan bahkan telah menyiapkan paket khusus bagi wisatawan yang datang saat perayaan Imlek 2026.

Warga Tionghoa setempat turut mengapresiasi kebijakan pemerintah daerah yang tetap mengakomodasi pelaksanaan Perang Air sebagai ikon budaya daerah.

Mereka menilai kebijakan tersebut mencerminkan sikap toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman.

Sebelumnya Bupati Kepulauan Meranti, H. Asmar, menegaskan bahwa pelaksanaan Imlek melalui tradisi Perang Air memiliki nilai strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya sektor pariwisata dan ekonomi kerakyatan.

“Perang Air bukan sekadar tradisi budaya, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat, mulai dari tukang becak, UMKM, hingga pelaku usaha perhotelan. Inilah dampak positif yang ingin kita jaga,” ungkap Asmar.

Ia menambahkan, walaupun bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan, pelaksanaan kegiatan tersebut akan diatur secara bijak agar tetap menghormati nilai-nilai keagamaan dan menjaga ketertiban umum.

“Dengan pengaturan yang baik, kedua kegiatan ini dapat berjalan harmonis. Ini sejalan dengan visi mewujudkan Meranti yang Unggul, Agamis, dan Sejahtera,” pungkasnya.

( Tribunpekanbaru.com/ Teddy Tarigan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.