Cerpen: Di Bawah Kaki Salib, Aku Serahkan Semuanya
January 18, 2026 08:19 PM

Oleh: Fr. Yohanes Boli Jawang*

POS-KUPANG.COM - Tak ada kata-kata yang dapat kuucapkan lagi, selain dari sunyi yang akan selalu kugenggam bersama doa selamanya. 

Di kaki salib, aku datang dan berdiri teguh, dengan membawa cinta yang tak utuh dengan doa yang tak sempurna. 

Aku datang tidak untuk menuntut kesempurnaan, tapi aku datang untuk membawa diri dengan cinta yang tak sempurna ini kepada-Nya. 

Di kaki salib, aku belajar untuk mencintai, bukan dengan harapan akan sebuah sentuhan melainkan tetap teguh dalam kesendirian dengan penyangkalan yang paling radikal. 

Di golgota tempat laknat yang kini jadi puncak kejayaan saat salib berdiri teguh, batu-batu seakan menyimpan doa yang paling diam.  

Baca juga: Cerpen: Malam yang Terputus di Km 72

Hasrat yang ada dengan rindu yang meluap-luap, kutaruh dalam darah dan debu di sepanjang jalan sengsara sebagai tanda cinta yang tak akan pernah terbagi dan lambang selibat hingga selamanya. 

Di bawah kaki salib, aku serahkan semuanya bukan karena aku tidak dapat mencintai tetapi aku lebih memilih mengasihi tanpa harus memiliki; dan cintaku hanya untuk Sang Cinta agar menjadi doa yang tak pernah berakhir. 

Di antara pelataran laknat di bawah kaki salib, aku teguh berdiri dengan penuh penyangkalan. 

Di puncak golgota, embusan angin seakan berbisik lembut bahwa, "yang tampak hanyalah sementara yang tak akan pernah bisa engkau miliki." 

Di puncak golgota, tempat laknat dan kayu penghukuman penjahat disucikan oleh darah dan jadi kemenangan; bukan hanya simbol iman tetapi juga tentang kejujuran cinta yang paling radikal dengan penuh penyangkalan dari kesungguhan cinta yang tidak hanya menyelamatkan diri dan kerelaan hingga sampai pada penyerahan yang total. 

Di kaki salib, dalam segala kerapuhan aku datang membawa ketaksempurnaan dengan harapan yang paling diam serta rindu yang tak berarah. Cinta telah lama kugenggam dalam sunyi yang paling tak dimengerti. 

Pada kaki salib, dengan penuh penyangkalan; aku datang membawa separuh cintaku yang tak harus jadi milik, cinta yang terus mengalir tanpa menuju titik tertentu; tetapi cinta yang pada akhirnya kepada Cinta abadi kukembalikan.

Sejatinya, jalan ini bukanlah jalan bagi mereka yang kebal pada kesepian dan tak tahu bagaimana mencintai. 

Ini bukan tentang percobaan yang penuh muslihat dan pura-pura bahwa aku tak memiliki hasrat. 

Sejak mulai beranjak, aku mulai mengenal siapa aku, hingga akhirnya harus memutuskan untuk melalui jalan yang paling berbeda. 

Selibat bukan pelarian, bukan tembok untuk mencari aman atau persembunyian yang miris; tetapi selibat adalah panggilan yang juga didasarkan pada cinta dan rindu untuk berani menyangkal kemanusiaan. 

Selibat bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang tekad penuh totalitas; saat hari-hari begitu menyenangkan dengan doa yang tak pernah putus. 

Namun terkadang malam begitu senyap hingga aku pun terus bertanya, mengapa harus di kaki salib dan mengapa harus di golgota? 

Bukankah salib adalah sebuah penghinaan yang keji dan golgota serupa laknat para penjahat? Aku tak akan pernah mengerti. 

***

Senja mulai jatuh di ujung langit. Tepat di atas kapel tua cahaya emas terakhir menembus dinding kaca hingga mengenai salib. 

Layaknya di golgota, tubuh penuh luka yang menandai kesetiaan, dengan darah yang terus mengucur memurnikan dunia dan membersihkan dosa. Tepat di kaki salib, Dani seorang biarawan berdiri memandangi wajah Yesus. 

“Kata-kata ini terlalu keras”, gumam Dani dalam hatinya ketika mengingat sebuah ayat injil. 

“Benarlah bahwa ini tak pernah mudah karena salib tidak memberikan jawaban yang gampang, tetapi Ia membutuhkan kejujuran yang datang dari hati yang hening dengan penuh kejujuran.” Dani mengakiri permenungan di depan salib.

***

Selibat mengajarkan bahwa meninggalkan hal-hal duniawi bukan berarti harus jauh dan menghindari dari dunia, tetapi sebaliknya tinggal lebih dalam tanpa harus memilikinya. 

Ia berlutut di lantai, meskipun mentari yang baru saja berlalu namun dingin seakan-akan membuat Dani menjadi kaku; seakan mengingatkan bahwa tubuh manusia terlalu rapuh, lemah dan mudah lelah. 

Tak ada doa yang terlukis dari kata-kata indah; selain dari kesadaran akan keterbatasan yang hidup dari belaskasih cinta-Mu yang selalu menguatkan dan menopang dalam seluruh hidup. 

“Di bawah salib, aku tidak datang membawa kesempurnaan, hanya kedosaan dan tekad untuk ikut dan tinggal bersama selamanya.” Bisik Dani dalam hatinya. 

Ia mulai teringat tahun-tahun pertamanya saat semua terasa begitu terang, mulus tanpa pertentangan dalam diri. 

Ia teringat saat itu ketika baru memulai petualangannya, Tuhan terasa begitu dekat dalam setiap doa, dan pujian yang ia daraskan setiap doa. 

Namun, proses seakan-akan mengajarkan tentang sesuatu yang berbeda bahwa iman yang teguh serta kekuatan yang paling sungguh ketika Tuhan terasa jauh dan pergolakan yang semakin memurnikan. 

Yohanes Boli Jawang
Yohanes Boli Jawang (POS-KUPANG.COM/HO)

Dari kaki salib, ia memandang dengan penuh khusuk. Ia sadar bahwa menyerhakan hidup bukan sebuah kehebatan yang hanya terjadi sekali, tetapi merupakan sebuah perjalanan. 

Setiap hari adalah usaha yang menuntut kebesaran hati dan totalitas. Di hadapan salib, tidak ada sebuah penjelasan yang benar-benar pasti karena salib hanya meminta kehadiran serta kesungguhan. 

“Di sana tubuh Tuhan tergantung, dan aku terus menatap wajah yang remuk akibat dosa manusia. Dalam kesunyian Ia seakan berbisik, "jangan takut, sebab Aku akan selalu ada bersamamu," ungkap Dani.

***

Dani teringat saat pertama dimana ia benar-benar sadar bahwa cintanya kepada Tuhan tak pernah tertuju hanya kepada satu orang. 

Ini bukan sebuah adegan dari bagian hidup Dani, tetapi merupakan sebuah kesadaran bahwa cinta yang ada tidak untuk dimatikan tetapi diubah menjadi bentuk yang paling berbeda.  

Di bawah salib, ia tidak hanya belajar tapi menemukan makna bahwa iman bukan sebuah pembebasan dari persoalan, tetapi bagaimana untuk berani masuk dalam konflik itu serta berusaha untuk menemukan makna. 

Di kaki salib, ia temukan bahwa cinta seorang selibat adalah cinta yang penuh perjuangan antara hasrat dan penyerahan, serta kebutuhan untuk dicintai dan mencintai semua orang tanpa syarat. 

Cinta selibat, adalah cinta yang berani untuk keluar dari zona nyaman dan berani untuk sengsara dan bertarung dengan dunia hingga sampai pada penyangkalan. 

***

Di bawah salib, di bukit golgota ia akhirnya mengerti bahwa penyerahan bukan berarti harus hilang tetapi berani untuk melepaskan semuanya dan menemukan diri kembali bukan sebagai pusat, tetapi sebagai persembahan untuk menyangkal diri dan melepaskan dunia demi mengikuti Tuhan lebih dekat. 

Malam hampir tiba, lonceng berbunyi memanggil. Ia melangkah dengan khusuk dan tetap tegar. 

Ia memulai doa malam dengan kekuatan dan semangat serta harapan baru. 

Suasana hatinya berbeda, meskipun kemanusiaan masih melekat, tapi setidaknya Dani telah menyadari dengan sungguh ke mana ia harus meletakan segalanya dengan totalitas tanpa mendua. 

Ia sadar bahwa salib tak akan pernah di mengerti dengan sungguh-sungguh, karena salib menuntut penyerahan. (*)

* Fr. Yohanes Boli Jawang, adalah Mahasiswa Teologi Tingkat I. Tinggal di Cebu Filipina. 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.