TRIBUNJATIM.COM - Seorang sekolah SD di Kabupaten Minahasa yang harus berjuang keras karena jarak sekolah yang jauh dari tempat tinggal malah harus dicobai lagi.
Kepala Sekolah itu bernama Akson Dalending (56).
Tiap hari tempuh perjalanan satu jam atau sejauh 30 km, Kepsek SD Inpres Kampung Ambon Desa Likupang Kabupaten Minahasa Utara, mengendarai motornya.
Baru-baru ini motor tersebut apesnya dimalingi.
Akson Dalending (56), Kepala Sekolah SD Inpres Kampung Ambon Desa Likupang Kampung Ambong Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara (Minut) Provinsi Sulut sampaikan terima kasih ke Polres Minut.
Jarak antara Airmadidi ibukota Minahasa Utara ke Likupang Timur mencapai 38 kilometer.
"Terima kasih sudah menemukan motor kami yang di curi. Motor itu setiap hari menopang pekerjaan, membawa kami ke sekolah dari Matungkas ke Likupang setiap hari sekolah," kata Akson Dalending saat di konfirmasi, Sabtu (17/1/2026) malam, dikutip TribunJatim.com dari TribunManado.co.id, Minggu (18/1/2026).
Akson bersama istrinya Lily Tahulending menjadi korban pencurian, Selasa (13/1/2026) tengah malam.
Sebuah motor Yamaha Mio M3 dan tiga unit HaPe di gasak pencuri di rumah mereka.
Baca juga: Sosok Edwar Bisa Kurangi 120 Ton Sampah Plastik Sebulan, Pantas Dijuluki Raja Tonase
Akson dan istrinya tinggal di Perum Viola Land II blok Apel nomor 10, Desa Matungkas Kecamatan Dimembe Minut.
Atas peristiwa pencurian itu, sangat berdampak terhadap pekerjaannya sebagai seorang kepala sekolah.
Biasanya dengan menggunakan motor itu, ia berangkat dari rumah ke sekolah yang jaraknya 30 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam.
Akibatnya ia harus menjalankan tugasnya sebagai kepala sekolah dari rumah.
"Mau ke sekolah tidak ada motor. Bahkan Hape yang di pakai untuk urusan sekolah juga raib," tambahnya.
Terpisah, Kasi Humas Polres Minut Iptu Iskandar Mokoagouw mengatakan, bahwa pelaku sudah tertangkap oleh Tim Resmob Polres Minut bekerjasama dengan Polsek Kota Utara Gorontalo.
Jarak antara Manado Sulawesi Utara ke Gorontalo sekitar 430 kilometer atau ditempuh sekitar 8 jam berkendara.
Penangkapan pelaku seorang lelaki usia 14 tahun berlangsung pada Kamis (15/1/2026), dimana tim Resmob Polres Minut mendatangi Polsek Kota Utara Gorontalo.
Dan mengamankan pelaku, lalu diserahkan ke Mapolsek Dimembe.
Karena lokasi atau tempat kejadian perkara berada di wilayah hukum Polsek Dimembe.
Baca juga: Tren Perceraian di Kediri Cenderung Naik pada 2025, Ekonomi hingga Selingkuh Jadi Faktor Utama
Para siswa harus memutar lebih jauh untuk bisa mengakses jalan menuju ke sekolah mereka, setiap hari.
Setelah banjir menyapu sebagian besar isi sungai, termasuk jembatan, jalan pintas sudah tak ada lagi.
Para siswa terpaksa untuk sementara melangkah lebih jauh sebanyak 2,5 Kilometer jauhnya.
Semua dilakukan semata-mata agar tetap bisa bersekolah dan menuntut ilmu.
Raut wajah sedih masyarakat Desa Karangnongko dan Ngetuk di Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara tergambar jelas ketika menyaksikan pondasi dua sudut sungai yang kini tidak lagi terhubung.
Di atas sebuah sungai yang dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Kali Gede, sebelumnya terbangun jembatan semi permanen yang menghubungkan dua desa Karangnongko dengan Ngetuk di Kecamatan Nalumsari.
Jembatan tersebut menjadi akses kunci bagi masyarakat Dukuh Pondok Desa Karangnongko dan Dukuh Glatik Watu Desa Ngetuk.
Adanya jembatan yang berdiri kokoh puluhan tahun tersebut mempermudah masyarakat dari dua desa dalam mengurus berbagai kebutuhan.
Mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga sosial kemasyarakatan lebih mudah tercapai tanpa harus melewati jalan memutar.
Namun, jembatan tersebut kini menjadi cerita semata bagi masyarakat setelah hanyut tersapu banjir.
Maskurin, warga sekitar mengatakan, hujan deras mengguyur Kabupaten Jepara dalam beberapa hari terakhir menyebabkan peningkatan volume debit air sungai.
Kata dia, jembatan penghubung Karangnongko dan Ngetuk hanyut tersapu banjir pada, Minggu (11/1/2026).
Beruntung peristiwa tersebut terjadi ketika jembatan dalam keadaan kosong, tidak ada penyeberang yang melintasi jembatan.
Maskurin dan warga Ngetuk kini harus melewati jalan memutar sejauh 2,5 kilometer jika ingin ke Desa Karangnongko.
"Mau bagaimana lagi, jembatannya sudah putus dan hanyut derasnya air sungai. Sementara lewat jalan lain meski agak jauh, dan berharap jembatan ini bisa dibangunkan lagi secepatnya," ujar dia, Senin (12/1/2026), seperti dikutip TribunJatim.com dari TribunJateng.com, Selasa (13/1/2026).
Baca juga: Bantuan Pemerintah Lama Datang, Nenek Ani dan Suaminya Ngungsi dari Rumah Bambu yang Nyaris Ambruk
Kepala Dusun Glatik Watu Desa Ngetuk, Wahyono menambahkan, jembatan tersebut sudah ada sejak dia kecil.
Dari sebelumnya berupa jembatan bambu, perlahan diperbaiki dengan struktur semi permanen lebih kokoh.
Kata dia, jembatan tersebut menjadi akses kunci yang menghubungkan dua desa.
Selain akses ekonomi dan sosial, pendidikan anak usia dasar juga tersambung berkat adanya jembatan tersebut, sehingga keberadaannya sangat dibutuhkan masyarakat.
Beberapa anak dari Desa Karangnongko justru menjalani pendidikan di Ngetuk.
Sehingga jembatan tersebut menjadi akses utama bagi mereka setiap hari.
"Ada beberapa anak di Karangnongko yang sekolah di SDN 3 Ngetuk. Mereka biasanya jalan kaki atau naik sepeda dari rumah sekitar 300-400 meter lewat jembatan ini. Karena putus, mereka harus memutar 2,5 kilometer untuk sampai ke sekolah, susah kalau ditempuh dengan jalan kaki," ujarnya.
Kepala SDN 3 Ngetuk, Zulaiekhan menuturkan, dari 92 siswa SDN 3 Ngetuk, 17 di antaranya dari Desa Karangnongko.
Kehadiran siswa dari Karangnongko, kata dia, meramaikan kehidupan pendidikan di SDN 3 Ngetuk.
Dia berharap pemerintah daerah turun tangan untuk membantu pembangunan ulang jembatan tersebut agar bisa digunakan kembali.
"Kami harap ini jembatan bisa segera dibangun ulang. Masyarakat sangat membutuhkan," ucapnya.
Baca juga: Puting Beliung Rusak 41 Rumah di Rejotangan Tulungagung, Lembaran Asbes Beterbangan