TRIBUN-MEDAN.com - Ferry Irawan menjadi satu dari 10 korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Kabupaten Maros.
Tim SAR dan TNI telah menemukan puing-puing pesawat dan masih melakukan evakuasi korban.
Tetangga Ferry Irawan, Tohori, mengatakan bahwa mengenal Ferry sebagai sosok yang pendiam.
Dia menyebutkan, keluarga Ferry tinggal Jalan H. Kunen, RT 04 RW 05, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi.
Akan tetapi setelah menikah Ferry pindah ke Bogor, namun tiga tahun belakangan ini Ferry tenggah tinggal bersama orangtuanya di Pondok Melati, Kota Bekasi.
Sementara istrinya masih di Bogor bersama anak-anaknya.
Sejak lama, Ferry merupakan sosok yang tidak banyak berbicara meskipun ia sering kumpul bersama warga.
Ferry juga rajin salat di masjid dekat rumahnya.
"Beliau menikah sudah 10 tahun, anak dua. Kalau kerja di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sudah sekitar 15 5ahun," kata dia saat diwawancara pada Minggu (18/1/2026)
Baca juga: KRONOLOGI Pratu LYS Menghilang Usai Dituding Hamili Sang Kekasih, Kini Diburu POM
Baca juga: PESAWAT ATR 42-500 Sempat Alami Gangguan Sebelum Lepas Landas, Keluarga Korban Masih Menanti Cemas
Dirinya terakhir sempat komunikasi dengan Ferry pada Kamis (15/1/2026) usai salat subuh bersama di masjid dekat rumahnya.
Menurutnya, ia kerap bertemu dan berbincang dengan Ferry jika tidak lagi dinas diluar.
"Kalau engga lagi dinas di luar, pasti ketemu kita, terakhir di Kamis pagi abis salat subuh," beber dia.
Sementara ibunya terakhir komunikasi pada Jumat (16/1/2026). Ferry ketika itu berpamitan hendak ke Makassar.
Bahkan, Ferry sempat berkomunikasi dengan ibunya bahwa pesawatnya alami masalah pada baling-balingnya.
"Bahwa dia komunikasi bahwa pesawat ada masalah di baling-baling pesawat pertama. Setelah itu tidak ada kabar kembali," katanya.
Dirinya bersama keluarga masih menaruh harapan dan berharap mukjizat terhadap kondisi Ferry.
TIM pencarian dan pertolongan atau tim masih melakukan proses pencarian di tengah temuan dugaan jejak serpihan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan registrasi PK-THT di kawasan Puncak Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan.
Sampai siang ini belum ada informasi terbaru dari KKP mengenai kondisi penumpang pada pesawat hilang kontak tersebut.
Informasi terakhir pada malam baru menyampaikan bahwa benar Ferry menjadi salah satu penumpang pesawat hilang kontak tersebut.
"Dari pihak keluarga sendiri artinya berharap keajaiban dan mukjizat ya. Karena dari keluarga kan belum ada informasi resmi dan keluarga masih berharap ditemukan dalam keadaam selamat," katanya.
Termasuk keluarga tidak memasang bendera kuning, keluarga hanya memasang tenda di jalanan depan rumah dan juga kursi-kursi.
"Dipasang tenda, untuk tamu ya kemarin malam dari Wakil Menteri KKP dari semalam sama hari ini karena cuaca hujan," katanya.
"Kenapa tidak pasang bendera kuning karena kita engga mau mendahului kecuali jika ada rilis langsung dari berwenang kan ya, kalau sudah benar dinyatakan meninggal baru kita pasang bendera kuning," katanya.
Ferry Irawan merupakan analis kapal pengawas pada Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) sejak 2024.
Saat kejadian, ia bersama dua pegawai KKP lainnya menjalankan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara di wilayah pengelolaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Selain Ferry yang berpangkat Penata Muda Tingkat I, dua pegawai KKP lain di dalam pesawat yakni Deden Mulyana (Penata Muda Tingkat I), pengelola badan milik negara, serta Yoga Noval, operator foto udara.
Pesawat ATR 42-500 tersebut dilaporkan bertolak dari Yogyakarta menuju Makassar.
Informasi awal menyebutkan pesawat mengangkut 10 orang yang terdiri atas tujuh kru dan tiga penumpang, dengan pilot in command Capt Andy Dahananto.
Badan dan Ekor Pesawat ATR Ditemukan di Gunung Bulusaraung
Tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan menemukan serpihan pesawat ATR 42-500 yang sebelumnya dilaporkan hilang kontak di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Temuan sebagian badan dan ekor pesawat tersebut berada di kawasan Gunung Bulusaraung dan menandai babak baru operasi SAR yang kini difokuskan pada pencarian serta evakuasi korban.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengatakan serpihan pesawat ditemukan pada Minggu (18/1/2026) pagi sekitar pukul 08.02 Wita.
Bagian yang ditemukan meliputi badan pesawat, ekor, dan jendela.
“Tim SAR gabungan berhasil menemukan serpihan yang diyakini sebagai bagian badan pesawat, ekor, dan jendela. Setelah temuan ini, fokus operasi kami arahkan pada pencarian dan evakuasi korban,” ujar Arif dalam konferensi pers, Minggu.
Ia menjelaskan, setelah lokasi jatuhnya pesawat teridentifikasi, tim rescue langsung dikerahkan melalui jalur udara untuk mempercepat pencarian di medan yang sulit dijangkau.
“Prioritas utama kami adalah menemukan korban. Kami berharap masih ada korban yang dapat dievakuasi dalam kondisi selamat,” tambahnya.
Operasi SAR melibatkan pembagian satuan tugas (Search and Rescue Unit/SRU) darat dan udara.
Sekitar 1.200 personel gabungan diterjunkan, terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan, serta unsur terkait lainnya.
“Kami membagi area pencarian ke beberapa SRU dan melakukan penyapuan darat secara menyeluruh agar tidak ada korban yang terlewat,” kata Arif.
Sementara itu, Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengungkapkan bahwa operasi pencarian dimulai sejak pukul 06.15 Wita.
Tim dibagi ke dalam unit pemantauan udara menggunakan helikopter dan unit darat yang dilengkapi drone.
“Sekitar pukul 07.46 Wita, kru helikopter melaporkan terlihat serpihan kecil berupa jendela pesawat. Beberapa menit kemudian, terpantau bagian yang lebih besar yang diduga badan dan ekor pesawat di lereng Gunung Bulusaraung,” jelas Andi Sultan.
Tim AJU (Air Jump Unit) kemudian dikerahkan menuju titik temuan badan pesawat.
Namun, kondisi medan yang terjal dan ekstrem membuat faktor keselamatan personel menjadi perhatian utama.
“Akses menuju lokasi cukup terjal. Keselamatan tim menjadi prioritas, sehingga evakuasi dilakukan dengan perhitungan matang,” ujarnya.
Basarnas merencanakan proses evakuasi serpihan dan korban melalui jalur pendakian yang dinilai lebih aman meski memiliki jarak tempuh lebih jauh.
Hingga Minggu siang, operasi SAR masih terus berlangsung dengan konsentrasi penuh di sekitar lokasi jatuhnya pesawat.
Pesawat mengangkut 10 orang yang terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang.
Perkembangan terbaru operasi pencarian akan terus disampaikan secara resmi oleh pihak berwenang.
Berikut daftar kru dan penumpang pesawat ATR 42-500 yang dilaporkan hilang kontak:
Kru Pesawat:
1. Pilot: Capt. Andy Dahananto
2. Kopilot: Farhan.
3. FOO: Hariadi.
4. Engineer 1: Restu Adi
5. Engineer 2: Dwi Murdiono
6. Pramugari 1: Florencia Lolita
7. Pramugari 2: Esther Aprilita
Penumpang (Pegawai KKP):
Ferry Irrawan
Deden Mulyana
Yoga Nauval
(*/tribun-medan.com)