Bongkar Kelakuan Guru di Jambi yang Dikeroyok Siswa: Ingin Dipanggil Prince dan Sering Menghina Ortu
January 18, 2026 09:52 PM

 

TRIBUNBENGKULU.COM - Penyebab keributan antara seorang guru dan siswa di SMK Negeri Tanjung Jabung Timur, Jambi, yang berujung pada aksi pengeroyokan dan viral di media sosial, mulai terkuak dari kesaksian siswa yang terlibat langsung.

Seorang siswa berinisial MUF mengungkap dugaan perilaku tidak pantas sang guru, mulai dari meminta dipanggil “Prince” hingga kerap melontarkan hinaan kepada siswa dan orang tua, yang disebut menjadi pemicu utama pecahnya insiden tersebut.

Dalam pengakuannya, MUF menyebut dirinya sebagai korban awal dugaan kekerasan yang dilakukan oleh guru Bahasa Inggris bernama Agus Saputra.

Kesaksian ini membuka tabir baru atas insiden yang memicu kegaduhan di lingkungan sekolah tersebut.

Awal Kejadian

Menurut MUF, peristiwa itu bermula saat kegiatan belajar mengajar masih berlangsung menjelang jam pelajaran berakhir.

Suasana kelas kala itu disebutnya sedikit gaduh.

Merasa terganggu, MUF berinisiatif menegur teman-temannya agar lebih tenang.

“Saya bilang ke teman-teman, ‘Woi, diam’. Tidak tahu kalau beliau lewat depan kelas,” ujar MUF.

Tak berselang lama, guru yang disebut-sebut dalam peristiwa tersebut masuk ke dalam kelas tanpa meminta izin kepada guru yang sedang mengajar.

Guru itu kemudian langsung mempertanyakan siapa yang mengucapkan kata teguran tersebut.

MUF mengaku tidak mengelak dan langsung mengakui bahwa dirinya yang berbicara.

“Saya jawab, ‘Saya, Prince’. Terus saya disuruh ke depan dan langsung ditampar,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa guru tersebut memang tidak ingin dipanggil dengan sebutan “Bapak” oleh para siswa, melainkan meminta dipanggil dengan nama “Prince”.

Tamparan itu, menurut MUF, menjadi awal dari rangkaian kejadian yang kemudian berkembang menjadi keributan besar.

Bersikap Keras dan Menghina Orang Tua

Lebih lanjut, MUF mengungkapkan bahwa guru tersebut dikenal kerap bersikap keras terhadap murid-muridnya.

Siswa yang dianggap bermasalah atau nakal disebut bisa menerima konsekuensi berat dalam proses pembelajaran.

Menurut MUF, guru tersebut disebut bisa memberikan skor pelajaran rendah hingga membuat siswa tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran selama satu semester penuh.

Tak hanya itu, MUF juga menuding adanya kebiasaan melontarkan kata-kata yang dinilai kasar dan tidak pantas diucapkan kepada peserta didik.

“Sering ngomong kasar, menghina siswa dan orang tua, bilang bodoh dan miskin,” ujarnya.

Situasi yang sempat mereda ternyata kembali memanas saat para siswa berada di depan kantor sekolah.

MUF mengatakan, ketika kondisi sudah relatif tenang, guru tersebut tiba-tiba keluar sambil membawa alat sapit rumput.

“Kami sudah tenang di depan kantor, tapi dia keluar bawa sapit rumput dan ngejar kami,” katanya.

Aksi tersebut membuat suasana kembali tegang dan memicu ketakutan di kalangan siswa.

Keributan disebut berlanjut ketika para siswa meminta agar guru tersebut meminta maaf atas ucapan-ucapan yang dianggap menghina orang tua mereka.

Namun, permintaan itu tidak dikabulkan.

Ketegangan pun kembali memuncak hingga akhirnya terjadi insiden kekerasan fisik di lingkungan kantor sekolah.

Ditinju di Hidung

MUF mengaku kembali menjadi korban pemukulan.

Kali ini, ia menyebut dipukul di bagian wajah.

“Pas saya dekat ke muka dia, saya ditinju di hidung,” ujarnya.

Pemukulan itu, kata MUF, disaksikan langsung oleh siswa lain yang berada di lokasi.

Situasi tersebut memicu reaksi spontan dari para siswa yang kemudian berujung pada aksi pengeroyokan terhadap guru tersebut.

“Kalau Tidak Ditinju, Tidak Akan Ada Pengeroyokan”

MUF menegaskan bahwa pengeroyokan yang terjadi bukan tanpa sebab.

Ia menilai tindakan tersebut merupakan reaksi atas kekerasan yang lebih dulu ia alami.

“Kalau tidak ditinju dulu, tidak akan ada pengeroyokan,” tegas MUF.

Pernyataan ini menjadi salah satu poin penting dalam versi kejadian yang disampaikannya.

Menutup keterangannya, MUF berharap insiden serupa tidak kembali terjadi di lingkungan sekolah.

Ia ingin proses belajar mengajar bisa berlangsung dengan aman, nyaman, dan kondusif bagi semua pihak.

Ia juga menyebut bahwa pihak keluarga saat ini tengah mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum terkait peristiwa tersebut guna mencari keadilan atas apa yang dialaminya.

Kasus ini kini menjadi perhatian publik sekaligus sorotan terhadap pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari kekerasan, baik fisik maupun verbal.

Dimediasi Polres Tanjung Jabung Timur

Kasus ini kemudian dimediasi dengan melibatkan berbagai pihak.

Kapolres Tanjung Jabung Timur, AKBP Ade Candra, menjelaskan bahwa proses mediasi dihadiri oleh unsur sekolah, Dinas Pendidikan, aparat penegak hukum, pihak kecamatan, hingga orang tua siswa.

Hasil mediasi menyepakati bahwa para siswa yang terlibat dikenai sanksi berupa pembuatan surat pernyataan sebagai bentuk tanggung jawab dan pembelajaran agar kejadian serupa tidak terulang.

“Pelaku pengeroyokan terhadap guru sudah minta maaf, menyatakan menyesal, dan membuat surat pernyataan,” ujar AKBP Ade Candra, Kamis (15/1/2026).

Dalam proses mediasi tersebut, Agus Saputra tidak hadir secara langsung karena masih menjalani pengobatan mandiri di Kota Jambi.

Ia kemudian menunjuk Komite Sekolah untuk mewakilinya dalam pertemuan tersebut.

Meski menjadi korban, Agus disebut membuka ruang untuk penyelesaian damai secara kekeluargaan.

“Guru menyatakan apa pun hasil keputusan yang terbaik akan ikut dan membuka ruang untuk perdamaian secara kekeluargaan,” kata Kapolres.

Keputusan tersebut diambil atas permintaan seluruh majelis guru dengan harapan suasana sekolah kembali kondusif.

Setelah kesepakatan dicapai, situasi di SMKN 3 Berbak dilaporkan mulai membaik.

Aktivitas belajar mengajar yang sempat terganggu perlahan kembali berjalan normal.

“Situasi sudah kondusif, aktivitas belajar mengajar berangsur pulih dan akan kembali normal seperti biasanya,” ujar AKBP Ade Candra.

Minta Guru Dipindahkan

Meski telah meminta maaf, keberatan dari pihak siswa masih muncul.

Melalui unggahan video di akun Instagram @cicitvjambi, Ketua OSIS SMKN 3 Tanjung Jabung Timur menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh instansi yang terlibat sekaligus menyampaikan permintaan agar Agus Saputra dipindahkan dari sekolah tersebut.

“Kami ingin menyampaikan permintaan maaf terhadap instansi yang terlibat dengan tersebarnya video pengeroyokan terhadap guru,” ujar Ketua OSIS.

Ia juga menyebut bahwa insiden tersebut, menurut versi siswa, dipicu oleh perlakuan guru yang dinilai sering menindas.

“Hal tersebut terjadi karena oknum tersebut sering menindas kami,” ucapnya.

Atas dasar itu, para siswa menyatakan ketidaknyamanan jika Agus Saputra tetap mengajar di sekolah tersebut.

“Kami hanya ingin beliau dipindahkan ke tempat yang lain, karena kami tidak nyaman beliau ada di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur ini,” tutupnya.

Kasus ini menjadi potret buram dunia pendidikan ketika komunikasi tersumbat dan emosi mengambil alih hingga ruang kelas berubah menjadi arena kekerasan.

Di satu sisi, guru merupakan figur pendidik yang harus dihormati.

Di sisi lain, cara mendidik yang dinilai melukai martabat siswa juga meninggalkan luka yang tidak kasat mata.

Kini, penyesalan telah diucapkan, sanksi telah dijatuhkan, dan perdamaian ditempuh.

Namun demikian, para siswa tetap meminta agar guru tersebut dipindahkan karena merasa tidak nyaman jika yang bersangkutan tetap berada di sekolah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.