TRIBUNPADANG.COM, PADANG– Lonjakan harga emas di Kota Padang, Sumatera Barat, benar-benar membuat masyarakat terperangah.
Pada pertengahan Januari 2026 ini, harga logam mulia tersebut mencetak rekor baru yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.
Kenaikan harga yang sangat tajam ini memicu reaksi beragam di tengah masyarakat.
Pantauan di kawasan Pasar Raya Padang, Minggu (18/1/2026) sore menunjukkan adanya pergeseran perilaku konsumen yang kini lebih berhati-hati dalam bertransaksi.
Warga yang semula berniat menambah koleksi perhiasan, kini terpaksa mengurungkan niatnya.
Baca juga: Harga Emas di Padang Terus Melonjak, Satu Emas Kini Sudah Rp6,3 Juta
Di sisi lain, mereka yang sudah memiliki simpanan emas mulai menimbang-nimbang waktu yang tepat untuk menjual.
Alifa, salah satu staf di Toko Emas Murni Pasar Raya Padang, mengungkapkan bahwa saat ini harga emas sudah resmi menembus angka Rp 2.540.000 per gram.
Kenaikan ini dirasakan sangat mendadak oleh para pelanggan setianya.
"Memang kenaikannya terasa sekali. Sebelumnya masih di harga Rp 2.512.000 per gram, tapi sekarang sudah naik lagi," kata Alifa saat diwawancarai pada Minggu (18/1/2026).
Untuk harga buyback atau beli kembali, Toko Emas Murni saat ini mematok harga Rp 2.360.000 per gram.
Harga ini dianggap sudah sangat tinggi bagi warga yang membeli emas pada tahun-tahun sebelumnya.
Baca juga: Harga Emas di Padang Naik Tajam Hari Ini, Tembus Rp 2,4 Juta per Gram! Cek Rinciannya
"Kalau untuk ukuran besar seperti 2,5 gram, sekarang harganya sudah Rp 6.350.000. Memang butuh budget ekstra bagi warga yang ingin berinvestasi saat ini," tambah Alifa menjelaskan detail harga di tokonya
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada emas perhiasan di pasar tradisional.
Di Pegadaian, harga emas Antam bahkan melonjak lebih tinggi hingga menyentuh Rp 2.930.000 per gram, disusul cetakan UBS di angka Rp 2.739.000.
Kenaikan yang fantastis ini membuat warga Padang terjebak dalam dilema.
Rosna (45), seorang warga asal Kuranji mengaku datang ke Pasar Raya hanya untuk mengecek harga tanpa berani melakukan pembelian.
"Niat hati mau nambah simpanan buat biaya sekolah anak nanti, tapi kalau harganya sudah Rp 2,5 juta lebih begini, uangnya tidak cukup. Saya jadi galau, mau beli sekarang takut kemahalan, tidak beli takut besok naik lagi," keluh Rosna.
Berbeda dengan Rosna, warga lainnya bernama Fatma (38) justru melihat kenaikan ini sebagai angin segar bagi pemilik aset lama.
Ia sengaja datang ke pasar untuk memantau harga beli kembali (buyback).
"Saya ada simpanan emas dari dua tahun lalu. Melihat harganya naik gila-gilaan begini, rasanya ingin saya lepas (jual) saja untuk renovasi rumah. Tapi saya juga takut nanti kalau sudah dijual, harga emas malah naik terus dan saya tidak sanggup beli lagi," ujarnya.
Mengutip Kontan.id,kenaikan harga emas dunia saat ini didorong sejumlah faktor eksternal.
Kombinasi faktor moneter, geopolitik, dan energi membuat emas dan logam mulia kembali menjadi aset pilihan investor.
Dari sektor moneter, ada indikasi Federal Reserve akan lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneternya.
Dengan situasi tersebut, peluang The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Januari dinilai cukup besar.
Sikap wait and see bank sentral AS ini turut menopang minat investor terhadap aset lindung nilai seperti emas.
Dari sisi energi, dinamika geopolitik juga diperparah oleh ambisi AS untuk menguasai sebagian besar pasokan minyak mentah dunia.
Aktivitas Trump di kawasan Timur Tengah dan Amerika Latin dinilai bertujuan untuk mengawasi perputaran minyak mentah dunia.
Menurut pengamat ekonomi, mata uang & komoditas, Ibrahim Assuaibi, masih mengutip Kontan.id, masalah geopolitik sangat berpengaruh terhadap pergerakan harga emas itu lonjakan luar biasa.
Fokus risiko geopolitik yang tadinya berfokus terhadap Venezuela, nantinya akan kembali bergeser ke kawasan Timur Tengah.
Situasi di Iran memanas akibat gelombang demonstrasi besar yang menguasai sejumlah kota utama, disertai kecaman dari Rusia, Tiongkok, serta negara-negara pendukung Iran.
Di kawasan Eropa, ketegangan kembali meningkat setelah upaya gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina yang diprakarsai AS dinilai gagal.
Eskalasi konflik tersebut menambah sentimen ketidakpastian global yang mendorong penguatan harga emas.