BBKSDA Riau Catat 28 Konflik Harimau dengan Manusia Sepanjang 2025
January 19, 2026 12:29 AM

 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mencatat sebanyak 28 kejadian konflik antara manusia dan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) terjadi di Provinsi Riau sepanjang tahun 2025.

Terbaru tahun 2026 terjadi di Siak yang menghebohkan diawal tahun dengan penampakan Harimau di kawasan BSP taman Zamrud.

Konflik tersebut meliputi penampakan harimau di sekitar permukiman, kebun masyarakat, hingga interaksi negatif yang membahayakan keselamatan manusia maupun satwa dilindungi itu sendiri.

Kepala BBKSDA Riau, Supartono, menyebutkan bahwa Provinsi Riau merupakan salah satu wilayah penting habitat Harimau Sumatera. 

"Habitat harimau di Riau tersebar di beberapa lokasi dan hampir terdapat di seluruh kabupaten, kecuali Kabupaten Kepulauan Meranti yang tidak memiliki habitat alami harimau,"ujar Supartono.

Supartono menjelaskan, kondisi habitat Harimau Sumatera di Riau saat ini sebagian telah mengalami fragmentasi. Aktivitas manusia seperti pembukaan lahan, perkebunan, dan permukiman menyebabkan terputusnya kawasan hutan, sehingga ruang jelajah harimau semakin menyempit dan meningkatkan potensi konflik dengan manusia.

"Ketika habitat terfragmentasi dan tekanan aktivitas manusia meningkat, harimau akan keluar dari kawasan hutan untuk mencari mangsa. Kondisi inilah yang kemudian memicu terjadinya konflik,"ujar Supartono.

Dalam upaya menekan konflik, BBKSDA Riau melakukan berbagai langkah mitigasi di lapangan. Salah satunya melalui tindakan langsung berupa penggiringan harimau kembali ke habitatnya maupun penangkapan untuk kepentingan rehabilitasi, terutama jika satwa dinilai berpotensi membahayakan keselamatan manusia.

Selain itu, BBKSDA Riau juga intens melakukan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya di wilayah rawan konflik. 

"Sosialisasi ini bertujuan meningkatkan kewaspadaan warga sekaligus mendorong penerapan standar operasional prosedur (SOP) dalam beraktivitas di sekitar habitat harimau, guna meminimalkan risiko interaksi negatif,"tegasnya.

Upaya lain yang dilakukan adalah meningkatkan ketersediaan satwa mangsa bagi Harimau Sumatera. Supartono menyebutkan, hal ini dilakukan melalui pelepasliaran satwa mangsa ke dalam habitat harimau agar kebutuhan pakan tercukupi dan harimau tidak terdorong keluar kawasan hutan.

BBKSDA Riau juga mendorong keterlibatan berbagai pihak di tingkat tapak dengan membentuk tim mitigasi konflik, serta melakukan pemasangan rambu-rambu peringatan bahaya konflik satwa liar di lokasi rawan. 

"Langkah kolaboratif ini diharapkan mampu menekan angka konflik sekaligus menjaga kelestarian Harimau Sumatera di Provinsi Riau,"ujarnya.

(tribunpekanbaru.com / Nasuha Nasution)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.