Merawat Kesabaran Hingga Menuai Cuan hingga Miliaran Rupiah dari Hobi Bonsai
January 19, 2026 12:29 AM

Bonsai adalah seni yang tak pernah selesai seiring pertumbuhanya yang membutuhkan dedikasi, kesabaran, dan perawatan berkelanjutan untuk menjaga agar tetap indah. Tak heran jika hasil dari seni membentuk tanaman ini memiliki nbilai ekonomis yang menggiurkan.  

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Pagi Minggu (18/1/2026) belum begitu panas. Cuaca yang redup itu sangat mendukung bagi Samsuardi untuk melakukan aktivitas. 

Di halaman rumahnya di Jalan Suka Karya Pekanbaru, Ketua Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Riau itu asik merapikan dahan bonsai anting putri miliknya.

Sesekali ia menyiram, lalu kembali mengamati arah cabang dan lekuk batang, seolah sedang membentuk sebuah karya seni hidup yang seperti tak boleh salah satu sentuhan pun.

Bagi Samsuardi, bonsai bukan sekadar tanaman hias. Di balik ukurannya yang mini, bonsai adalah hasil proses panjang, ketekunan, dan kesabaran.

"Membuat satu bonsai yang indah dan berkualitas tinggi itu tidak mudah, apalagi bagi pemula. Butuh keahlian, banyak belajar, dan tentu didukung oleh karakter batang serta dahan pohonnya," kata Samsuardi kepada Tribun sambil terus bekerja.

Di Riau, dunia bonsai tumbuh menjadi ekosistem yang hidup. Melalui komunitas PPBI Riau, para pecinta bonsai rutin menggelar pameran setiap tiga hingga empat bulan sekali.

Pameran ini bukan hanya ajang unjuk keindahan, tetapi juga ruang promosi dan transaksi yang menjanjikan cuan besar bagi para anggotanya. Bahkan tidak jarang anggota PPBI Riau meraup ratusan juta setiap pameran, termasuk Samsuardi.

Jenis bonsai yang digemari pun beragam. Di antaranya kimeng, anting putri, sancang, sengsimbur, santigi, waru, hingga sianci. Namun, untuk urusan nilai dan pamor, keindahan dan kematangan pohon menjadi penentu utama. Bonsai yang telah melalui proses panjang hingga terlihat seperti pohon tua dalam ukuran mini memiliki harga yang jauh lebih tinggi.

Yang paling mahal itu bukan jenisnya saja, tapi keindahan dan kematangan pohonnya. Bahkan, setahu saya, ada satu bonsai dari komunitas PPBI yang dijual sampai Rp4 miliar. Itu di Jakarta beberapa waktu lalu," imbuh Samsuardi. Sementara di Riau, jenis yang paling sering jadi primadona dikatakan Samsuardi adalah seninsis, beringin kimeng, dan terutama anting putri.

Anting putri menjadi andalan PPBI Riau karena sangat cocok dengan kondisi tanah dan iklim setempat. Samsuardi sendiri menjadikan jenis ini sebagai fokus utama. Bonsai anting putri yang sudah matang, dengan percabangan seimbang dan karakter batang kuat, bisa dijual dengan harga Rp60 hingga Rp70 juta per batang.

"Pendahanannya sudah matang, bentuknya sudah seperti pohon sungguhan," ujarnya. Keindahan inilah yang membuat anting putri selalu diburu kolektor, baik dari Riau maupun luar daerah, setiap kali pameran digelar.

Di halaman rumahnya, Samsuardi hanya merawat puluhan batang bonsai setiap hari. Namun, untuk skala besar, ia memiliki ladang bonsai seluas sekitar 2.000 meter persegi di kawasan Rumbai. Di sanalah ribuan batang bonsai ditanam dan dibesarkan, menunggu waktu terbaik untuk dipamerkan dan dijual.

Hasilnya bukan main. Dalam satu pameran, dikatakan Samsuardi ia pernah menjual ratusan batang bonsai sekaligus. "Waktu itu benar-benar terasa cuannya," kenangnya. Dari hasil penjualan bonsai tersebut, ia bahkan sempat membeli sebuah mobil baru, yang bukti nyata bahwa bonsai bukan hobi sembarangan.

Hal senada disampaikan Tri Waluyo, anggota PPBI Riau lainnya. Menurutnya, bonsai kini telah bertransformasi menjadi peluang ekonomi yang serius. "Banyak orang awalnya hobi, lama-lama jadi penghasilan utama. Apalagi kalau sudah punya ciri khas dan kualitas bonsai yang bagus," ujarnya.

Tri menambahkan, pameran menjadi sarana penting untuk mempertemukan perajin dan kolektor. Selain transaksi, pameran juga membuka ruang edukasi, berbagi ilmu, dan memperluas jaringan antarpecinta bonsai dari berbagai daerah.

Di PPBI Riau, semangat kebersamaan menjadi kekuatan utama. Para anggota saling belajar, saling berbagi teknik, dan saling mendukung agar kualitas bonsai terus meningkat. Proses panjang membentuk bonsai pun dijalani dengan kesabaran, karena mereka paham hasilnya tak pernah mengkhianati usaha.

Bonsai di tangan para pegiat PPBI Riau bukan lagi sekadar hiasan halaman. Ia telah menjadi simbol ketekunan, keindahan, dan peluang ekonomi yang nyata. Dari halaman rumah sederhana hingga ladang bonsai yang luas, nilai yang tumbuh tak hanya rupiah, tetapi juga kebanggaan. (Tribunpekanbaru.com/Alexander)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.