TRIBUNGORONTALO -- Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akan dianggap sebagai deklarasi perang terhadap seluruh bangsa Iran.
Pernyataan tegas ini disampaikan sebagai respons atas komentar Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut sudah saatnya Iran mencari kepemimpinan baru.
Ketegangan tersebut muncul di tengah situasi dalam negeri Iran yang masih memanas akibat gelombang protes besar-besaran dan pemadaman internet nasional yang telah berlangsung selama lebih dari sepekan.
Akses internet sempat kembali secara terbatas pada Minggu (hari ke-10 pemadaman), namun kembali terputus tak lama kemudian, menurut laporan pemantau internet global Netblocks.
Kelompok pembela hak asasi manusia menyebut pemadaman komunikasi itu dilakukan untuk menutupi tindakan keras aparat keamanan terhadap demonstran, yang dilaporkan telah menewaskan ribuan orang.
Aksi unjuk rasa di Iran pecah sejak akhir Desember lalu, dipicu kemarahan publik terhadap kesulitan ekonomi yang semakin parah.
Protes tersebut dengan cepat meluas dan dinilai sebagai tantangan terbesar terhadap kepemimpinan Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, demonstrasi mereda setelah aparat keamanan melakukan tindakan represif yang oleh kelompok HAM disebut sebagai sebuah “pembantaian”.
Penindakan itu dilakukan bersamaan dengan pemadaman internet nasional yang dimulai pada 8 Januari, sehingga arus informasi dari dalam negeri nyaris terputus.
Pemerintah Iran sendiri menyatakan bahwa demonstrasi awalnya berlangsung damai, namun kemudian berubah menjadi “kerusuhan”.
Teheran juga menuding adanya campur tangan asing, khususnya dari Amerika Serikat dan Israel, yang disebut sebagai musuh bebuyutan Iran.
Donald Trump, yang sebelumnya mendukung Israel dalam konflik selama 12 hari melawan Iran pada Juni lalu, berulang kali mengancam akan mengambil tindakan militer baru terhadap Teheran jika demonstran terus dibunuh.
Meski Washington belakangan terlihat meredakan sikap, Trump kembali melontarkan kritik tajam terhadap Pemimpin Tertinggi Iran dalam wawancara dengan Politico pada Sabtu. Ia menyatakan bahwa sudah waktunya Iran mencari pemimpin baru.
“Orang itu adalah orang sakit yang seharusnya mengurus negaranya dengan benar dan berhenti membunuh rakyatnya,” ujar Trump.
Menanggapi pernyataan tersebut, Presiden Pezeshkian menulis di platform X pada Minggu bahwa “serangan terhadap pemimpin besar negara kami sama artinya dengan perang skala penuh melawan bangsa Iran”.
Di tengah saling serang pernyataan antara Washington dan Teheran, pejabat Iran mengklaim situasi di jalanan telah kembali kondusif.
Wartawan AFP melaporkan keberadaan pasukan keamanan lengkap dengan kendaraan lapis baja dan sepeda motor di pusat Kota Teheran.
Sekolah-sekolah di Iran mulai dibuka kembali pada Minggu setelah sempat ditutup selama sepekan.
Dalam rapat kabinet, Pezeshkian juga mengungkapkan bahwa dirinya telah merekomendasikan kepada Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi agar pembatasan internet dicabut sesegera mungkin.
Sejumlah warga melaporkan bahwa akses ke WhatsApp sempat kembali tersedia.
Panggilan internasional keluar juga dilaporkan kembali normal sejak Selasa, sementara layanan pesan singkat dipulihkan pada Sabtu.
Sementara itu, aksi solidaritas terhadap demonstran Iran terus berlangsung di berbagai kota dunia, termasuk Berlin, London, dan Paris.
Meski akses informasi sangat dibatasi, laporan dugaan pelanggaran HAM tetap berhasil keluar dari Iran.
Kelompok pembela HAM menyebut berbagai kesaksian dan bukti kekerasan terus bermunculan.
Amnesty International menyatakan telah memverifikasi puluhan video dan laporan dalam beberapa hari terakhir yang menunjukkan terjadinya “pembantaian terhadap demonstran” oleh aparat keamanan.
Organisasi Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia mengklaim telah memverifikasi kematian 3.428 demonstran yang tewas akibat tindakan aparat keamanan.
Angka tersebut dikonfirmasi melalui sumber di sistem kesehatan Iran, saksi mata, serta sumber independen lainnya.
Meski demikian, IHR memperingatkan bahwa jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar.
Media internasional tidak dapat mengonfirmasi angka tersebut secara independen, sementara pemerintah Iran belum merilis data resmi terkait jumlah korban tewas.
Perkiraan lain menyebutkan jumlah korban tewas bisa melebihi 5.000 orang, bahkan berpotensi mencapai 20.000 jiwa.
Pemadaman internet yang berkepanjangan disebut sangat menghambat upaya verifikasi independen.
Saluran oposisi Iran International yang berbasis di luar negeri mengklaim sedikitnya 12.000 orang tewas selama gelombang protes, dengan mengutip sumber-sumber senior di pemerintahan dan aparat keamanan Iran.
Namun, angka tersebut dibantah oleh lembaga peradilan Iran.(*)