Baru Satu Korban Ditemukan, Tim SAR ATR 42-500 Ungkap Kendala Cuaca dan Siapkan Dua Opsi Evakuasi
January 19, 2026 11:27 AM

SRIPOKU.COM - Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, selaku SAR Mission Coordinator (SMC), mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem menjadi tantangan utama dalam proses evakuasi korban dan serpihan pesawat di kawasan Puncak Bulusaraung, Kabupaten Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, pada hari kedua operasi SAR, Minggu (18/1/2026).

Ia menjelaskan, Tim SAR pesawat ATR 42-500 harus menghadapi kondisi alam yang tidak bersahabat, mulai dari angin kencang, hujan lebat, hingga kabut tebal yang menyelimuti lokasi kejadian.

Akibat situasi tersebut, tim terpaksa mendirikan tenda dan bertahan di puncak Gunung Bulusaraung.

“Saat ini tim SAR masih bertahan di Puncak Gunung Bulusaraung dengan mendirikan tenda di sekitar titik penemuan korban,” ujar Arif dalam keterangan resmi Basarnas Makassar, Minggu (18/1/2026) tengah malam.

Ia menambahkan, proses evakuasi belum dapat dilaksanakan karena cuaca buruk yang membatasi jarak pandang dan berisiko terhadap keselamatan personel.

Meski demikian, Arif menegaskan bahwa tim tetap melakukan pengamanan di lokasi temuan serta melaksanakan identifikasi awal sambil menunggu kondisi cuaca membaik.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan dua opsi evakuasi pada hari ketiga operasi SAR, Senin (19/1/2026).

Menurutnya, pelaksanaan evakuasi akan sangat bergantung pada situasi dan kondisi di lapangan.

“Opsi evakuasi besok pagi adalah melalui jalur udara dengan menggunakan helikopter Caracal yang akan berupaya mendarat di puncak dan melakukan evakuasi dengan metode hoist,” jelas Syafii.

“Namun jika jalur udara tidak memungkinkan, maka evakuasi akan dilakukan melalui jalur darat oleh tim SAR gabungan,” tambahnya.

Syafii juga menyebutkan bahwa Basarnas akan melakukan pengangkatan sejumlah bagian pesawat guna mendukung proses penyelidikan.

“Evakuasi tidak hanya dilakukan terhadap penumpang, tetapi juga terhadap bagian-bagian pesawat yang diperlukan untuk kepentingan investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT),” katanya.

Operasi SAR ini melibatkan ribuan personel gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, unsur potensi SAR, serta relawan, dengan dukungan peralatan darat, udara, dan teknologi komunikasi lapangan.

EVAKUASI KORBAN PESAWAT- - Tim SAR gabungan mengevakuasi korban pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di jurang Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan, Minggu (18/1/2026). Hari ini Senin (19/1/2026) tim akan mengevakuasi jenazah korban yang ditemukan di Gunung Bulusaraung.
EVAKUASI KORBAN PESAWAT- - Tim SAR gabungan mengevakuasi korban pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di jurang Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan, Minggu (18/1/2026). Hari ini Senin (19/1/2026) tim akan mengevakuasi jenazah korban yang ditemukan di Gunung Bulusaraung. (Handout)

Baca juga: Kesaksian Arman, Warga Lokal yang Temukan Korban Jatuhnya Pesawat ATR 42-500, Tengkurap di Jurang

Kesaksian Amran

Operasi pencarian pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, mulai membuahkan hasil.

Pada Minggu (18/1/2026), tim SAR gabungan berhasil menemukan satu orang korban dalam kondisi meninggal dunia.

Korban berjenis kelamin laki-laki itu pertama kali ditemukan oleh Arman (38), warga Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci.

Mengutip Tribun Timur, Arman menemukan jasad korban dalam keadaan tengkurap. 

"Posisinya tengkurap, laki-laki, masih utuh tapi pakaiannya sudah tidak ada saya lihat," kata Arman sambil menunjukkan foto korban di Posko AJU Desa Tompobulu, Minggu.

Posko Desa Tompo Bulu berlokasi di kaki gunung Bulusaraung sekitar 73,3 kilometer poros Pangkep-Barru.

Arman mengatakan, korban ditemukan dalam jurang dengan kedalaman sekitar 200 meter dari titik serpihan pesawat ditemukan. 

Ditemukan pula beberapa dokumen diduga milik korban tak jauh dari posisi mayat ditemukan.

"Ada KTP, pasport, ATM ada sekitar tiga. Ada HP juga tapi sudah hancur," ungkapnya.

Ia mengaku, menjangkau lokasi setelah dua warga lain turut membantu pencarian tim SAR.

"Saya naik tiga orang, sekitar jam 7 pagi saya berangkat. Dan tadi jam 2 saya temukan itu mayat," lanjut Arman.

Arman pun menginformasikan temuannya ke tim SAR.

Hingga kini proses evakuasi dilakukan Tim SAR Gabungan terkendala faktor medan dan cuaca.

Terkini Arman ditunjuk sebagai pemimpin tim utama evakuasi korban.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.