TRIBUNMANADO.CO.ID - Tribunners, banjir bandang menerjang Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara (Sulut), pada 5 Januari 2026.
Bencana ini melanda tujuh kelurahan dan desa di empat kecamatan.
Sebanyak 693 warga terdampak, dan 206 bangunan rusak.
Dari jumlah itu, 30 rumah hilang terseret banjir,
52 rumah rusak berat, 29 rusak sedang, dan 89 rusak ringan.
Satu kantor pemerintahan, yakni Mapolres Sitaro, ikut rusak.
Selain itu, satu bengkel, satu kios, dan tiga sekolah juga terdampak.
Korban jiwa mencapai 37 orang:
Inilah Saksi Kata, rekonstruksi peristiwa bersama narasumber utama bersama dengan Rizali Posumah, jurnalis Tribun Manado, dan Efraim Derek korban banjir bandang Siau yang selamat.
Jurnalis Tribun Manado: Sekitar jam berapa banjir itu terjadi, Pak?
Efraim Derek: Sekitar jam setengah tiga dini hari.
Jurnali Tribun Manado: Apa yang Bapak rasakan pertama kali saat sadar ada bencana?
Efraim Derek: Waktu itu, saya tidak keluar dari rumah. Jadi, mungkin jam delapan. Saudara perempuan dari sebelah sana, inbox saya, bilang, Abo, ayo keluar. Kita pikir, tidak usah. Karena lihat cuaca, hilang. Jadi saya pikir, tidak usah keluar. Jadi, beberapa menit dari situ, kakak saya ada di dapur. Langsung kita bilang sama dia, dia ada segaran, di inbox, ada acara, ada kerokean. Waktu itu, kakak bilang, tidak usah lah keluar. Tidak usah, tidak keluar.
Jurnalis Tribun Manado: : Lalu apa yang terjadi?
Efraim Derek: Lalu jam berapa itu saya rasa tidur. Saya ke kamar. Jam setengah dua ke jam berapa, hujan. Karena kamar saya kebocor. Jadi, saya terbangun. Hujan. Langsung saya keluar. Ambil kursi, duduk di pintu dapur. Lihat-lihat ke sana gunung.
Hujan tambah besar. Tadi, beberapa menit dari situ, saya masuk ke kamar, tidur. Beberapa menit dari situ, kakak saya keluar dari rumah.
Masuk kamar, dia kasih bangun. Bilang, Abo bangun. Bangun, saya bangun. Lalu saya duduk di pintu itu. Di pintu itu, dikenal rumah ini. Lalu kakak laki-laki saya keluar. Hujan tambah besar ini. Tidak tahu berapa menit dari situ. Dua menit ke berapa, suara batu. Dari gunung ini. Bikin takut dapa dengar. Langsung rumah, kakak bilang, ayo keluar semua.
Jurnalis Tribun Manado: Itu bapak yang bilang?
Efraim Derek: Iya, ini kakak perempuan. Ada adik kecil. Bangun saja. Satu rumah. Ada cucu.
Karena sibuk, saya tanya, mana baju hujan di sini? Jadi kakak bilang, ambil di kamar sana. Masuk di kamar sebelah. Di kamar ini.
Cari-cari, ambil di kamar sini. Mari dia bilang. Tidak usah cari. Ini sudah dekat, ini batu. Warna besar ini. Jadi ulang kita cari-cari.
Dapat di situ. Yang baju hujan itu. Kita buka, langsung pakai. Bilang, mari adik itu. Saya peluk ke dia. Langsung, ayo turun ke bawah.
Di sebelah begini. Sudah ribut. Lalu bilang, ayo lari semua. Lari. Lari. Di bawah rumah, di pantai. Ini langsung banjir di sebelah begini. Kalau tidak ada rumah, ada rumah dua di situ. Memang mungkin tidak selamat. Semua di bawah itu.
Jurnalis Tribun Manado: Dan bapak waktu itu sempat dengar ada orang minta tolong tidak?
Efraim Derek: Tidak. Cuma ingin bilang, ayo lari semua ke atas.
Jurnalis Tribun Manado: Itu siapa yang bilang?
Efraim Derek: Banyak orang. Banyak orang. Lari. Rumah. Langsung di pantai. Lari. Mereka itu mau lari. Biasanya. Kalau ada hujan. Lari di rumah. Semua. Untung. Sasaran. Banjir di rumah. Langsung lari.
Jurnalis Tribun Manado: Bagaimana bapak membawa anak kecil itu?
Efraim Derek: Ya, anak kecil baru umur 1 tahun. Dia ada peluk lari di pantai. Di batu-batu. Iya, gelap. Baru lari. Ini berdua. Ada ini. Ulang. Mau tengok ini. Mau panggil. Ayo lari. Ulang balik. Pegang dua-dua. Ayo cepat lari. Mereka mau ini. Tidak tahu lagi. Pasrah. Ulang.
Jurnalis Tribun Manado: Kong depe air itu bapak lihat memang besar atau?
Efraim Derek: Besar. Tumpah di jalan. Banjir sudah. Mati lampu. Gelap. Gelap.
Jurnalis Tribun Manado: Bapak perasaan bagaimana?
Efraim Derek: Takut. Tidak. Sudah. Pas mau apa. Pasrah. Pasrah. Cuma ada yang penting lari. Iya yang penting. Lari selamat.
Jurnalis Tribun Manado: Ada yang sempat dikasih selamat orang waktu itu? Atau sudah tidak terpikir?
Efraim Derek: Tidak terpikir. Yang dipikiran cuma lari.
Jurnalis Tribun Manado: Jadi semua waktu itu selalu lari bersama-sama, baik?
Efraim Derek: Iya. Tidak, yang lain tertinggal. uma berapa orang. Lima orang. Ada itu. Dari bawah sampai di rumah di pantai. Lewat itu.
Jurnalis Tribun Manado: Ke mana Bapak lari?
Efraim Derek: Kami lari ke bawah, ke arah pantai. Air sudah masuk ke jalan. Kalau terlambat sedikit, mungkin tidak selamat.
Jurnalis Tribun Manado: Tapi rumah bagimana?
Efraim Derek: Rumah sudah hancur bagian depan..
Jurnalis Tribun Manado: Pada saat Bapak mau lari itu, sempat tidak terpikir ada barang berharga yang mau diselamatkan?
Efraim Derek: Tidak. Tidak ada pikiran begitu. Tidak ada pikiran. Rumah. Yang penting. Selamat. Selamat, iya. Selamat. Kembali kini ada barang apa. Bikin selamat.
Jurnalis Tribun Manado: Bapak akhirnya sampai di tempat aman itu jam sekitar jam berapa?
Efraim Derek: Jam 3. Pantai di bawah. Cuma di ujung di pantai sana.
Jurnalis Tribun Manado: Baru pihak pemerintah datang sekitar jam berapa?
Efraim Derek: Kalau pihak pemerintah, waktu itu belum ada. Belum ada itu. Waktu itu belum ada pemerintah. Pagi. Pemerintah kampung. Baru pagi mereka. Baru pagi.
Jurnalis Tribun Manado: Dan saat itu waktu masih 6 tahun awal itu, sempat ada makan atau? Belum ada makan sama sekali?
Efraim Derek: Belum ada makan. Kalau minum ada.
Jurnalis Tribun Manado: Setelah kejadian ini, apakah bapak masih tinggal di situ?
Efraim Derek: Kalau ingin, ingin tapi rasa trauma tinggal di situ.
Di akhir perbincangan, Efraim Derek berharap ada bantuan dari pemerintah untuknya dan para korban terdampak banjir bandang Siau.
Pulau Siau berada di bagian utara Provinsi Sulawesi Utara.
Dari Pelabuhan Manado ke Siau bisa ditempuh kurang lebih 5 jam naik kapal cepat.
Siau adalah satu dari 47 pulau yang masuk wilayah Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang dan Biaro (Sitaro).
Dari 47 pulau itu, hanya 10 pulau di antaranya berpenghuni.
Total penduduk Kabupaten Sitaro sebanyak 70.528 jiwa. Terbanyak menghuni Pulau Siau. Disusul Pulau Tagulandang dan Biaro.
Ibu kota kabupaten berada di Siau. Gunung Api Karangetang dengan ketinggian 1.797 mdpl dan sangat aktif berada di pulau ini.
Pulau Siau juga dikenal dengan komoditi unggulannya berupa Pala. (TribunManado.co.id)