SURYA.co.id – Salah atu korban dari tragedi pesawat ATR adalah Florencia Lolita Wibisono, pramugari ATR yang kini nasibnya belum diketahui.
Keluarga Florencia tak henti berdoa dan berharap mukjizat.
"Kami semua berdoa. Berharap mukjizat. Kami yakin harapan itu masih ada."
Harapan itu diutarakan Yanti, warga Jalan Donald Isaac Panjaitan, Kelurahan Taler, Kecamatan Tondano Timur, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Minggu (19/1/2026).
Yanti adalah anggota keluarga Florencia Lolita Wibisono, pramugari ATR yang kini nasibnya belum diketahui.
Baca juga: Kesaksian Reski Dan Muslimin Saat Detik-detik Insiden Pesawat ATR Hantam Lereng Lalu Meledak
Florencia satu dari dua pramugari ATR yang pesawatnya jatuh di Gunung Bulusaraung Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan kemarin.
Ada 10 penumpang pesawat yang beranfkat dari Yogyakarta menuju Makassar Sulawesi Selatan itu.
Meski demikian, pihak keluarga hingga kini masih menunggu perkembangan informasi resmi terkait keberadaan Olen, seiring proses pencarian yang masih berlangsung.
“Kami tetap berharap Olen bisa segera ditemukan,” ucap Yanti.
Diketahui, Florencia Lolita Wibisono saat ini berusia 32 tahun.
Baca juga: UPDATE Satu Korban Tragedi Pesawat ATR 42-500 Di Ditemukan Di Jurang Gunung Bulusaraung
Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara dalam keluarganya.
Menurut Yanti Florencia diketahui telah memiliki rencana untuk menikah.
“Kami dengar sudah ada rencana menikah, tapi belum tahu kapan. Rencananya secepatnya,” ujar Yanti.
Calon pasangan Olen, sapaan akrabnya, diketahui berprofesi sebagai seorang pilot di salah satu maskapai penerbangan.
Meski demikian, pihak keluarga hingga kini masih menunggu perkembangan informasi resmi terkait keberadaan Olen, seiring proses pencarian yang masih berlangsung.
Florencia Lolita Wibisono, salah satu pramugari pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta-Makassar yang mengalami insiden jatuh.
Olen dikenal memiliki pengalaman panjang di dunia penerbangan.
Florencia atau Olen, sapaan akrabnya, diketahui baru sekitar tiga bulan bertugas di pesawat ATR 42-500 milik Air Indonesia Transport.
Informasi tersebut disampaikan oleh Ramos, anggota keluarga Florencia, saat ditemui di rumah orang tua korban di Jalan Donald Isaac Panjaitan, Kelurahan Taler, Kecamatan Tondano Timur, Kabupaten Minahasa, Minggu (19/1/2026).
“Kira-kira baru tiga bulan dia kerja di pesawat itu,” ujar Ramos saat diwawancarai.
Sebelum bergabung dengan Air Indonesia Transport, Florencia tercatat menghabiskan sebagian besar kariernya sebagai pramugari di maskapai Lion Air.
“Kurang lebih 13 tahun dia di Lion Air,” ungkap Ramos.
Tak hanya berpengalaman sebagai pramugari, Olen juga dipercaya menangani pelatihan awak kabin yang baru bergabung.
Perannya kerap dikaitkan dengan pembinaan dan pendampingan kru junior.
“Dia juga jadi trainer untuk pramugari yang baru. Bisa dibilang seperti HRD,” sambungnya.