TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA- Jimi Longa, remaja yatim asal Desa Wogo, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyentuh nurani.
Di usia yang baru lepas remaja, Jimi harus berjalan kaki dari rumah ke rumah menukar wortel dengan beras agar keluarganya bisa makan, setelah terpaksa putus sekolah dan menjadi tulang punggung keluarga.
Jimi Longa kehilangan ayahnya sejak kecil. Ia tumbuh bersama ibunda, saudara perempuan, dan kakeknya di wilayah Kecamatan Golewa.
Kondisi ekonomi keluarga yang sangat memprihatinkan, ditambah ibunda yang kerap sakit-sakitan, membuat Jimi terpaksa putus sekolah sejak tingkat Sekolah Dasar (SD).
Baca juga: Pengaruh Bibit Siklon 97S, Waspada Hujan Lebat dan Gelombang Tinggi di NTT
Setiap hari ia berjalan kaki dari rumah ke rumah, berkeliling kampung menjajakan kue keliling, kopi, dan sayur wortel.
Hasil dagangannya tak selalu berupa uang; sering kali Jimi menukar wortel yang dibawanya dengan beras agar keluarganya bisa makan.
Aktivitas itu dijalaninya selama hampir 10 tahun. Panas terik matahari maupun hujan tidak menyurutkan langkahnya.
Tak jarang ia menghadapi penolakan warga yang tidak membeli atau enggan menukar dagangannya. Namun Jimi tetap melangkah, menahan lelah demi mencukupi kebutuhan ibunda, saudara perempuan, dan kakeknya.
Baca juga: Bakti Sosial STIPER Flores Bajawa di Ngada Sasar Perkampungan Turekisa dan Fasilitas Umum
Kisah perjuangan Jimi pun mengundang empati. Pada Minggu, 18 Januari 2026, keluarga Vitalis Nuru dari Bajawa menyambangi langsung rumah Jimi dan keluarganya di Desa Wogo.
Kunjungan itu dilakukan sebagai bentuk berbagi kasih dan kepedulian terhadap kondisi Jimi sebagai anak yatim.