Benyamin Sueb Seniman Betawi Serba Bisa, Pernah Nyanyi Jazz Juga
Moh. Habib Asyhad January 19, 2026 01:34 PM

Benyamin Sueb seniman Betawi serba bisa. Mulai dari menyanyi lagu-lagu khas Betawi hingga lagu-lagu jazz. Piawai juga main film.

Artikel ini pernah tayang di Majalah Intisari edisi September 1987 dengan judul "Benyamin Jago Betawi" | Penulis: Tota M. Tobing

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Umumnya kita mengenal Benyamin sebagai penyanyi lagu rakyat Jakarta atau Betawi. Ternyata dia pernah menjadi penyanyi jazz. Bagaimana caranya dia meniti karier?

DENGAN suara baritonnya dia cukup dikenal di seluruh Semenanjung Melayu. Apalagi di kalangan orang Betawi, karena spesialisasinya adalah lagu-lagu Betawi. Itulah Benyamin Sueb, kelahiran Jakarta, 5 Maret 1939, penyanyi yang sudah menerima beberapa golden dan silver record berkat keberhasilan lagu-lagunya.

Tidak sekadar tarik suara, dia pun mampu memancing tawa pendengar dan penontonnya dengan banyolan-banyolannya. Dia juga ternyata mampu berakting di depan kamera film, bahkan pernah mendapat penghargaan tertinggi sebagai pemain film di tanah air: Piala Citra, sebanyak dua kali, yaitu untuk film Intan Berduri (1973) dan Si Doel Anak Modern (1977).

Sudah menyanyi sejak kecil, Bang Ben, panggilan akrabnya, menghabiskan masa-masa senjanya di rumah mewah bertingkat di kawasan Cinere, Depok.

Ben yang mengaku paling doyan sayur asem, sambal tempe, emping dan lalapan, serta senang bermain sepak bola dan mandi-mandi di kali, dulu pernah bercita-cita jadi pilot. Batal, gara-gara ibunya tidak setuju.

Inilah wawancara Benyamin Sueb bersama wartawan Intisari, Tota M. Tobing, untuk Majalah Intisari edisi September 1987.

Tota: Bang Ben bisa cerita tentang diri sendiri?

Benyamin: Saya ini anak paling bontot dari sembilan bersaudara. Bapak saya sudah meninggal waktu saya umur dua tahun. Jadi saya nggak kenal bapak saya. Wajahnya, kalau dia datang sekarang, saya juga nggak tahu. Katanya sih, mirip saya. Fotonya nggak ada. Namanya zaman perang, dulu orang 'kan jarang difoto!

Bapak saya campuran Betawi dengan Jawa. Ibu saya asli Betawi, anaknya Haji Ung. Tahu 'kan Haji Ung? Itu yang di Kemayoran. Waktu kecil saya sering sama kakek saya itu, sering tidur sama-sama. Kalau sama ibu saya sendiri, sampai umur delapan tahun saya masih nyusu.

T: Sudah sekolah, waktu masih nyusu itu?

B: Belum! Namanya zaman perang. Banyak nostalgia waktu saya kecil. Saya ini nakalnya bukan main. Tapi kakak-kakak saya selalu melindungi saya. Kebetulan anak paling bungsu 'kan? Jadi, ukurannya dia kagak makan, yang penting saya makan.

T: Nakalnya dulu seperti apa sih?

B: Dulu saya kalau main, maunya di atas pohon melulu. Dulu 'kan di Kemayoran sana masih banyak pohon. Jadi antara pohon satu ke pohon yang lain, saya nyeberang, lompat, persis kayak Tarzan! Sekali saya loncat, nubruk pohon pisang, jatuh terlentang, kaki saya patah! Saya lompat ada beberapa meter, gitu. Untung nggak kepala gua pecah, kalau nggak, mati dah! Ha, ha, ha! Jalan pun jadi pengkor. Untungnya bisa baik sekarang, kalau nggak, namanya si Pengkor 'kali!

T: Kemudian, waktu mulai sekolah di mana?

B: SD-nya di Bendungan Jago, terus pindah ke Bandung, di Santo Yosef, Santa Maria.

T: Tinggal sama siapa di sana?

B: Sama uwak saya. Karena nakalnya, saya itu dipindahkan ke sana. Nah, di Bandung itu juga saya ribut melulu. Akhirnya, setahun kemudian, setelah lulus, balik lagi ke Jakarta. Masuk SMTP Pepsi (Perguruan Sosial Indonesia) di Menteng Kecil. Lulus dari situ ke SMTA Taman Siswa di Jl. Garuda, yang gurunya Pak Said.

T: Pergaulannya bagaimana?

B: Dari dulu saya itu ke mana-mana banyak teman. Main pun tidak hanya di kampung sendiri. Kadang saya keluar, ke Jl. Pembangunan atau ke Jl. Siliwangi. Di sekolah, Taman Siswa, saya di bagian C, jurusan ekonomi. Nah, kepala dari tiga kelas 'tuh — kelas A, B dan C — saya. Kalau sekarang katanya geng ya? Dulu sih nggak ada geng-gengan, dulu boy-boy-an. Ada Selendang Boy, Kemayoran Boy.

Pokoknya, kalau pergi ke mana-mana, saya nggak ikut, die yang susah, itu anak-anak! Piknik misalnya, saya bilang saya nggak punya uang, diongkosin sama mereka. Nanti oleh-olehnya juga dibeliin. Waktu itu 'kan kalau piknik cuma ke Puncak, paling top juga ke Cimacan.

T: Bagaimana cerita asal mulanya jadi penyanyi?

B: Dari kecil itu saya sudah main musik, pake kaleng-kaleng, jerigen minyak tanah dijadiin bassnya. Terus mulai latihan-latihan nyanyi sama teman-teman. Kalau ada pesta di kampung, kita nyumbang.

Orang di kampung dulu kalau nyunatin atau ngawinin 'kan biasanya manggil orkes. Pokoknya, dikasih makan, dikasih kue-kue saja kita sudah senang! Banyak kejadian yang lucu waktu itu.

Pulang main 'kan jam sebelas malam. Kita tarik 'tuh peralatan pakai gerobak — gondrang-gondrang, tau-tau dikejar anjing! Wuah, pada lari, nyebur ke kali, ha, ha, ha!

T: Lalu bakat nyanyi itu dari siapa?

B: Ya dari alam saja, barangkali. Kalau dari keluarga sih, ada. Cuma jadi penyanyi kamar mandi-lah! Kakek saya apalagi, mana fanatik banget dia. Kalau nyanyi nggak boleh, dimarahin, disiramin air!

T: Waktu sudah jadi penyanyi betulan, reaksinya bagaimana?

B: Dia nggak sempat tahu, keburu meninggal tahun 1954.

T: Dulu itu Bang Ben suka bawain lagu jenis apa?

B: Lagu-lagu Barat. Waktu itu kita terjun ke kelab malam, di Sindang Laut, Wisma Nusantara dan Hotel Des Indes — yang sekarang jadi Duta Merlin. Main-nya sama Jack Lesmana, Bill Saragih. Dulu saya penyanyi jazz.

Jack Lesmana dulu namanya Jack Lemmers. Terus tamat SMTA saya masuk ke Kodam V Jaya, di bagian kesenian, yang kerjanya menghibur kesatuan-kesatuan.

Lulus SMTA itu juga saya langsung kawin, tahun 1959. Jadi ngamen dulu, baru setelah punya anak, saya sekolah lagi di Akademi Ketatalaksanaan, di Sawerigading. Nggak tamat, sampai tingkat dua saja!

T: Lalu kenapa beralih ke lagu-lagu Betawi?

B: Waktu itu 'kan zamannya lagu-lagu Barat dilarang, yang katanya ngak-ngik-ngok. Saya pernah ditegur orang. Saya nyanyi di kelab malam, di bandar udara sana. Di situ, kita dapat bonus 'kan dari banyaknya pengunjung. Kita nyanyi lagu Barat, lagu Blue Moon kalau nggak salah. Terus saya dipanggil sama orang itu.

"Kamu orang apa?"

"Orang Indonesia."

"Kenapa nggak bisa lagu Indonesia, keroncong dongl"

Nyanyi keroncong, satu-satu yang dansa pulang, ha, ha, ha Yah, nggak laku gue! Nah, waktu itu, mulai dah lagu-lagu daerah digalakkan. Saya juga coba, lagu-lagu Betawi saya gali. Terus deh sampai sekarang.

T: Kapan mulai rekaman?

B: Tahun 1968. Yang top waktu itu “Si Jampang”, ciptaan saya sendiri. Waktu itu anak-anak saya lagi senang sama gambar-gambar yang bisa disetrika di baju itu.

Saya lihat ada gambar si Jampang. Dari situ saya ciptain lagu Si Jampang itu. Cerita tentang Abang Jampang itu memang ada, seperti satire juga. Dia itu 'kan ceritanya jagoan, cuma dia takut sama janda dan kerjanya ngutang melulu. Habis itu, saya pun terus dengan lagu-lagu Betawi, mulai duet gambang kromong dengan Ida Royani.

T: Semua lagu yang Bang Ben rekam itu ciptaan sendiri?

B: Tidak semuanya, tapi kebetulan lagu-lagu ciptaan saya yang menonjol, seperti “Kompor Meleduk” itu.

T: Dengar-dengar, dulu katanya Bang Ben pernah jadi kondektur bus ya?

B: Ya. Ceritanya, saya 'kan senang main sepakbola. Untuk masuk Persija, saya kerja di PPD, jadi saya memperkuat PPD. Saya pikir dengan ijazah SMTA, saya bakal ditempatkan di kantor dong ya. Mana tahun 1959 itu 'kan masih kosong, belum banyak seperti sekarang, lulusan SMTA membludak. Tapi, saya orangnya memang suka mencoba, oke deh, nggak apa-apa jadi kondektur, disamain sama orang yang ijazahnya sekolah rakyat. Padahal teman-teman semua kerja di kantor, gue jadi pilot, ha, ha, ha! Dua bulan saya jadi kondektur, kesal saya! Suatu kali ada supir yang ngajak narik, tapi nggak usah pakai disetor. Waktu itu jurusan Lapangan Banteng - Jl. Minangkabau. Pokoknya, satu bus nggak gue kasih karcis.

Balik lagi, penumpangnya juga nggak pakai karcis. Tau-tau di Jl. Perwira ada pemeriksaan. Akhirnya saya dipanggil menghadap ke kantor. Belum diberhentiin, saya sudah berhenti duluan, ha, ha, ha!

T: Lalu kerja di mana lagi?

B: Di kantor peralatan AD, di Jl. Budi Utomo, di bagian yang bagi-bagiin peluru. Jadi kalau tentara butuh peluru, mintanya sama kita, sampai kita tahu nama-nama peluru. Nggak lama saya di situ, keluar, karena ribut. Waktu itu saya sudah nyanyi, kalau pulang pukul 03.00. Pukul 07.00 sudah mesti apel. Jadinya suka ngantuk 'kan? Ada pegawai lama yang suka gebrak meja saya saban ngeliat saya ngantuk. Beberapa kali begitu, lama-lama saya panas. Saya jotos dia. Berkelahi. Dua kali saya berkelahi sama dia, akhirnya saya keluar. Pindah kerja ke Perusahaan Asbes Semen Negara, yang di Jl. Kramat itu. Di sini saya mulai benar-benar kerja sambil kuliah, sampai saya mencapai kepala bagian di situ. Ikut seminar, kursus-kursus, seperti di LAN, saya lulus. Di sini juga begitu. Soalnya, saya itu, kalau nggak salah, disalahin, dituduh, saya suka jadi ngambek. Emosi sekali. Gara-gara mau belain anak buah, malah saya yang dituduh. Saya marah, saya acak-acak tuh meja. Akhirnya nggak tahan, saya minta berhenti.

T: Terus ke mana?

B: Saya bikin lagu — “Nonton Bioskop”, yang injek gituan itu. Saya serahkan pada Bing Slamet, dia yang nyanyi. Meledak 'kan tuh lagu? Saya bikin lagu lagi, “Hujan Gerimis”, saya serahkan Bing lagi. Suatu kali Bing Slamet bilang, "Lu 'kan bisa nyanyi, lu yang nyanyi deh!" Nah, terus saya yang nyanyi, rekaman, termasuk lagu-lagu seperti Si Jampang itu. Kepercayaan saya terhadap seni lalu mulai mantap. Mana anak saya sudah lima. Saya tinggal pekerjaan saya itu, berhenti dengan hormat – besluit-nya masih ada saya simpan. Bekas anak buah saya sekarang banyak yang di DKI, ada yang jadi camat.

T: Sesudah itu jadi seniman betulan?

B: Ya, seniman lagu-lagu Betawi. Banyak benar cobaannya. Begitu mau nyanyi, nggak ada yang mau mengiringi, ha, ha, ha! Mereka bilang, lagu apaan nih? Lagu hutan atau lagu setan? Lagu kampungan! Ada band yang begitu, kalau lagu Betawi nggak mau, gengsi. Jadi ribut dulu, baru dia mau mengiringi.

T: Jadi boleh dikatakan Bang Ben penyanyi lagu Betawi yang pertama?

B: Sekarang sih sudah ada yang lain, seperti duplikat saya tuh, juga Jaja Miharja. Sekarang sih, ibarat hutan yang sudah ditebang, tinggal jalan saja. Saya dulu ibaratnya 'kan babat hutan.

T: Setiap nyanyi di panggung Bang Ben selalu membawakan lagu-lagu Betawi?

B: Ya, kebanyakan yang saya nyanyikan, ya, ciri-ciri saya sendiri. Jarang sekali saya membawakan lagu-lagu orang. Saya punya pengalaman show di Singapura. Bayangan kita udah terang nih lagu-lagu Barat. Saya hapalin deh lagu-lagu Barat. Waktu nyanyi, penontonnya diam saja. Habis itu, mereka teriak, "Jampang!" Nah, jadi mereka kenal lagu-lagu saya dan minta saya nyanyikan yang itu.

T: Sudah pernah nyanyi sampai ke mana saja?

B: Pokoknya, Semenanjung Melayu sudah semua, sampai ke Brunei Darussalam, Tunisia, Jerman. Waktu di Tunisia, kan yang top lagu Ya Mustafa, kita nyanyiin saja. Mereka senang, naik ke panggung, nyelipin bunga yasmin di telinga kita, ha, ha, ha!

T: Bang Ben sudah berapa kali naik haji?

B: Juli ini kelima kali. Kita pikniknya ke sana aja dah!

T: Selama jadi penyanyi, Bang Ben punya pengalaman yang lucu nggak? Di panggung misalnya.

B: Lagi topnya lagu Si Jampang, saya pernah nyanyi sama bandnya A. Riyanto. Lagu itu 'kan keras, cepat. Sama bandnya dibikin pelan banget. Gua nggak bisa masuk-masuk. Gua ngomel-ngomel, eh si Riyanto malah ketawa. Rupanya disengaja. Banyak pengalaman yang lucu-lucu. Sama Ida Royani apalagi. Suatu kali Ida pakai sepatu bot yang sampai paha 'tuh. Nggak tahu kenapa, kita joke di atas panggung, dia kencing, ngalir masuk ke dalam sepatunya, ha, ha, ha! Mungkin saking gelinya!

T: Kalau dengan penonton, pernah disorakin nggak?

B: Alhamdulillah, nggak pernah. Tapi kita pernah show di Medan. Waktu latihan, bandnya main angin-anginan, nggak mau serius. Nah, waktu show, hah, berantakan dia! Baru di situ penontonnya teriak, "Turun, turun!" Saya tanya, "Siapa yang turun, saya?" "Bukan, musiknya turun!" "Musiknya turun, gimana nyanyinya?" "Hah, tak usah musiklah, kau saja yang nyanyi!" Gue nyanyi aja sendirian, ha, ha, ha! Itu di GOR sana, Gedung Orang Ribut!

T: Sudah berapa banyak lagu ciptaan Bang Ben?

B: Waduh, saya nggak bisa hitung deh, lupa! Seratusan barangkali!

T: Tapi kalau Bang Ben nyanyi di TV, sering kelihatan nggak pernah hafal sama syairnya, ya?

B: Bagaimana ya, itu bukan karena saya nggak hafal. Soalnya, rekaman nih, entar habis rekaman, kasih dong saya kasetnya biar saya dengerin. Lagu-lagu saya 'kan kadang suka spontan, saya ganti sendiri syairnya, improvisasi sendiri. Ini nggak, tau-tau rekaman TV. Ya, nggak sempat latihan. Makanya jadi suka nggak sinkron. Terus terang saja, kalau iramanya agak slow, bisa deh. Kalau ini 'kan, suka banyak dialognya, susah! Saya lebih senang rekaman langsung, seperti di Malaysia atau Singapura. Begitu kita datang, latihan sebentar, terus langsung disuruh nyanyi. Makanya, kaset video show saya di sana banyak dijualin sampai ke Mekkah. Waktu saya ke Jeddah, saya lihat banyak lho. Pedagangnya senang ketemu saya. "Ente mau apa? Saya kirimin karpet mau?" Dikirimin karpet.

Di tengah-tengah wawancara ini, Benyamin mengaku tengah membentuk sebuah band yang akan mengiringinya. Dia berharap, bandnya bisa me-mix nuansa Barat dengan Betawi. Namanya Al HAJ alias Himpunan Anak Jakarta.

T: Bagaimana menurut Bang Ben dengan masa depan lagu-lagu Betawi?

B: Ini yang jadi pikiran saya. Semenjak saya jarang menyanyi lagi, kok nggak ada yang gantiin. Kenapa begitu? Nah ini tanggung jawab dari anak-anak Betawi sendiri. Harus ada suatu regenerasi 'kan? Lembaga Kesenian Betawi sudah ada, tinggal dimatangkan aje. Kalau nggak nanti habis. Kita lihat saja sekarang.

T: Bang Ben pesimis?

B: Ya, boleh juga dibilang begitu. Saya lihat memang belum ada perkembangannya. Saya rasa bukan di Betawi saja lho, daerah lain juga. Mungkin karena terbawa arus modern, ya. Kalau mempelajari lagu-lagu daerah, rasanya ketinggalan 'kan? Mana ada anak sekolah sekarang yang mau mempelajarinya. Mana mau anak sekarang belajar macam karawitan, gending jawa ... rasanya underdeveloped! Ha, ha, ha, Padahal yang namanya modern dia nggak tahu. Makanya Almarhum Sjumandjaya pernah mensitir: "Apa itu modern? Modern taiiiik! Soalnya, banyak yang nggak bisa membedakan, apa yang datang dari luar, dibilang modern. Semuanya modern. Misalnya kalau sebut Amerika, bayangannya dah orang-orang yang high semua. Padahal kalau kita ke sana, bangsa gembel yang tukang ngumpulin kaleng-kaleng aja ada.

Di sini dia dielu-elukan sama orang kita. Watak bangsa kita ini memang susah! Kalau ada tamu asing saja, wuah ... cuma ke kamar mandi aje lu nggak gue anterin, ha, ha, ha!

T: Mungkin juga karena sikap ketimuran kita?

B: Nggak! Emang — terus terang saja — bekas-bekas penyakit orang jajahan dulu itu masih ada! Ya, 'kan? Ya, mudah-mudahan saja nanti bisa hilang. Seperti juga pengalaman saya kalau pake baju Betawi. Yang melihat, cuma dia nggak ngomongin aja, hanya dalam hatinya, "Wah, kenapa pakai baju yang begitu?" ha, ha, ha! Banyak sebetulnya pengalaman saya yang lucu-lucu. Kalau di-film-in pasti lucu 'tuh — menertawakan diri sendiri. Suruh deh, bikin skenarionya sana, sini gue yang main, he, he, he!

T: Bang Ben 'kan pemain film, sejak kapan itu?

B: Tahun 1969, film Honey Money in Jakarta. Terus Banteng Betawi, sama Dicky Zulkarnaen. Sampai sekarang sudah kira-kira 25 film.

T: Paling berkesan waktu main film apa?

B: Film Si Doel Anak Modern. Dapat Citra tahun 1977. Dua kali saya dapat Citra, satunya film Intan Berduri, 1973, sama Rima Melati.

T: Bagaimana rasanya waktu dapat Citra itu?

B: Waktu itu 'kan banyak orang yang nggak percaya. Wah, heboh! Rasanya pengen saya kembalikan piala 'tuh. Saya bilang, bukan ini yang saya cari. Akhirnya, tahun 1977, kita buktikan lagi. Sedang dibuat film ini, kita sudah punya target. Kita saling janji sama Sjumandjaja: ini kita pasti dapat! Jadi waktu Si Doel Anak Modern dapat Citra, kita tidak kaget. Cuma saya kecewa waktu film Pinangan — mestinya saya tiga kali dapat Citra. Alasannya, suara saya diganti, padahal nggak betul.

T: Apa film Bang Ben yang terakhir?

B: Yang terakhir belum kelar, film Koboi Insaf.

T: Masih jenis film lucu-lucu?

B: Dari dulu memang saya kebanyakan main film komedi.

T: Perusahaan filmnya masih ada?

B: Sekarang sudah nggak lagi, Jiung Film sudah saya over sama orang lain. Malas mengelolanya, mending jadi pemain aja dah.

T: Menurut Bang Ben, untuk main film itu apa perlu belajar juga?

B: Belajar, tapi nggak perlu lewat sekolah. Banyak-banyak saja bertanya, juga dari pengalaman.

T: Bagaimana menurut Bang Ben perkembangan film Indonesia sekarang ini?

B: Film-film Indonesia sekarang saya lihat terlalu banyak adegan seksnya. Terlalu berani dalam menonjolkan seks dan bagian tubuh yang terlarang. Itu 'kan nggak bagus! Jangankan dari segi agama, dari segi ketimuran saja nggak pantes! Pantes sih pantes, kalau di kamar mandi sana. Masa bodoh, lu mau berguling kek sana. Jangan depan kamera lu, gue jebret! He, he, he ... dan kesannya 'kan jelek, terhadap orang yang melakukan itu. Kok segitu beraninya, mencari ketenaran dengan cara begitu. Apa sih yang dikejar? Apa tidak bisa dengan cara lain? Bintang Hollywood juga nggak begitu. Karakternya dong! Saya juga pemain film. Disuruh memperkosa, mana saya mau! Berapa kali saya diminta, begitu-begitu ... udah, nggak main gua! Sudah berapa film yang saya tolak. Nggak pantes, gitu! Saya juga tahu diri, body jelek begini, mau main gitu-gituan, ha, ha, ha ... yang lain saja deh!

T: Jadi itu artinya kemajuan atau kemunduran?

B: Kemunduran! Tekniknya maju, tapi moralnya mundur. Bukannya kita sok moralis, tapi tanyalah orang Timur, 'kan nggak mau. Gue lihat yang disensor banyak sekali, tapi banyak juga yang lolos. Carilah film yang drama-drama, 'kan banyak yang bagus. Cerita-cerita dari sejarah, atau kehidupan sehari-hari, 'kan banyak juga yang mencekam. Nggak usah pake telanjang. Kalau saya, betul-betul memfokuskan ke drama, wah, barangkali masih bisa. Tapi karena selama ini saya difokuskan ke komedi, ya ke komedi terus.

T: Lalu tentang film komedi itu sendiri bagaimana?

B: Film komedi sih, dari itu ke itu terus. Seperti dulu saya pernah main timpuk-timpukan kue, sekarang dipakai orang lain. Pengulangan, cuma orangnya yang lain. Banyak sebetulnya komedi yang baik, sayang kita tidak sebebas negeri yang lainlah.

T: Bang Ben juga dikenal sebagai seorang pelawak. Bakatnya turunan dari siapa?

B: Dari sononya, mungkin. Sebab buat saya, hidup ini terdiri atas berbagai unsur: ada sadisnya, rasa sedih dan humor. Itu tergantung dari diri kita. Kalau saya sekarang, rasa humornya yang saya tonjolkan, saya kembangkan, dengan ya, dari pengalaman, juga dari ilmu yang kita timba dari sekolah ditambah lagi dari bacaan. Jadi harus banyak perbendaharaanlah di kepala ini. Tapi kadang dari situasi juga, dari audience. Yang bikin lucu ' kan kadang-kadang audience, nggak semata-mata kita melawak. Kita baca juga situasinya. Main di tempat ini lain, di tempat lain, lain lagi.

T: Dari dulu, kalau nyanyi di panggung itu sudah sambil melucu?

B: Ya!

T: Juga waktu masih bawain lagu jazz ?

B: Nggak, nggak!

T: Atau justru karena lagu-lagu Betawi itu pada dasarnya kocak?

B: Betul! Justru memang kebetulan sekali orang Betawi itu suka bercanda. Kerjanya bercanda melulu! Jadi lagu-lagu yang serius itu nggak ada. Mungkin karena keadaan alamnya, pesisir 'kan Betawi ini? Negeri yang nggak pernah punya raja di dunia ini 'kan orang Betawi! Jadi kalau kita pelajari ilmu apa. Itu ... ilmu etnologi, ya? Ilmu bangsa-bangsa — mulai dari gerakan tariannya 'kan kelihatan bebas….

T: Bagaimana hubungan Bang Ben dengan anak-anak?

B: Cukup akrab, kayak teman aja gitu! Kalau ada sesuatu, kita rembukkan sama-sama, bagaimana why-out-nya.. Jadi saling mengisi. Saya juga sebagai bapak belum tentu benar 'kan? Jadi saya suka tanya saran mereka juga. Pokoknya, bebaslah, tapi juga punya aturannya.

T: Dalam soal pendidikan?

B: Kita berikan kebebasan, ke mana maunya. Tidak saya arahkan, hanya saya ikuti saja sekolahnya. Tut wuri handayani — kebetulan istilah ini juga istilah sekolah kita dulu, Taman Siswa.

T: Apa filsafat yang menjadi pegangan hidup Bang Ben?

B: Untuk keberhasilan dalam hidup ini, ada empat hal yang .penting: tekun, jujur, disiplin dan berdoa. Juga, orang-orang 'kan, katanya, menggantungkan cita-citanya Setinggi langit. Kalau saya tidak. Umpamanya di kelas nol, berharaplah untuk bisa naik ke kelas satu. Jadi tidak usah terlalu tinggi berharapnya, tidak usah yang muluk-muluk!

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.