Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi Sirati Suailo
MALTENG,TRIBUNAMBON.COM - Tren Superflu (Influenza A(H3N2) subclade K) belum terdeteksi di Kabupaten Maluku Tengah.
Varian influenza yang terdeteksi pada Agustus 2025 itu belakangan mendapat sorotan secara nasional pasca Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) tiga pekan lalu.
Walau kasus influenza itu belum terdeteksi di Kabupaten Maluku Tengah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Maluku Tengah, M. Djali Talaohu tetap memberikan imbauannya.
Senin (19/1/2026), M. Djali Talaohu menekankan agar masyarakat menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
"Dari pantauan kami di 37 puskesmas sampai tahun ini belum terdeteksi disini namun saya mengimbau kepada seluruh puskemas dan jajarannya supaya semuanya menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)," tutur Talaohu.
Baca juga: Manajemen PT Karlez Tak Hadir Tanpa Konfirmasi, Mediasi Tripartit di Disnakertrans SBT Dibatalkan
Baca juga: Manajemen PT Karlez Tak Hadir Tanpa Konfirmasi, Mediasi Tripartit di Disnakertrans SBT Dibatalkan
Hal itu ia tekankan utamanya pada 37 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).
"Terkait masalah superflu yang akhir-akhir lagi trending namun sejauh ini belum ada (terdeteksi) di Maluku Tengah," ujar Kadis Kesehatan.
Tentu, dari satuan-satuan pelayanan kesehatan belum ada diagnosa superflu, alhasil ia meminta Pelayanan Kesehatan (Yankes) untuk segera mengeluarkan imbauan.
"Di Maluku Tengah belum ada data yang diterima sampai dengan hari ini belum terdeteksi," jelas Talaohu singkat.
Talaohu juga meminta ketika masyarakat bila mengalami gangguan kesehatan utamanya flu agar tak lupa mengenakan masker.
"Dan ketika ada merasa gangguan kesehatan dalam hal ini flu tetap menggunakan masker jangan sampai yang kita alami mungkin tertular ke yang lain," ulasnya.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, temuan superflu pertama kali terdeteksi di Indonesia pada Agustus 2025 melalui sistem surveilans ILI-SARI dan Whole Genome Sequencing (WGS).
Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi. Provinsi dengan jumlah kasus tertinggi adalah Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. (*)