Firasat dan Permintaan Maaf Terakhir Pramugari Esther, Korban Pesawat Jatuh
January 19, 2026 04:11 PM

 

TRIBUNJAMBI.COM – Di sudut Ruang Tunggu Keluarga Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Adi Saputra terduduk dengan gurat lelah yang tak bisa disembunyikan. 

Ayah dari Esther Aprilita Sianipar, pramugari pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT), kini hanya bisa menggenggam harapan di tengah dinginnya kabar dari lereng Gunung Bulusaraung.

Pesan Tak Biasa Sang Putri Sulung

Bagi Adi, kepergian Esther untuk bertugas biasanya adalah rutinitas biasa. Namun, Jumat (16/1/2026) siang itu menjadi awal dari penantian panjang. 

Pesan singkat yang ia kirimkan untuk menjemput putrinya di Jakarta tak pernah berbalas. Ponsel Esther mendadak mati, memutus jembatan komunikasi antara ayah dan anak.

Ada satu hal yang terus mengusik benak Adi; sebuah pesan yang kini terasa seperti sebuah pertanda. "Dia sempat minta maaf kalau ada salah. 

Biasanya nggak begitu," kenang Adi lirih. Esther, anak sulung dari tiga bersaudara yang telah mengudara selama tujuh tahun, dikenal sebagai sosok yang sangat perhatian dan hangat di mata keluarga.

Obrolan Terakhir di Malam Jumat

Kesedihan serupa menyayat hati sang ibunda, J. Siburian. Melalui layar ponsel, mereka masih sempat bersenda gurau pada Jumat malam. 

Baca juga: Satu Korban Pesawat Hilang Kontak dan Terjatuh Ditemukan 200 Meter di Bawah Tebing Curam

Baca juga: Relawan Sebut Jokowi Tak Pendendam Usai Eggi Sudjana dan DHL Bebas Lewat RJ di Kasus Ijazah

Baca juga: SBY Ingatkan Dunia di Ambang Kiamat, Situasi Sekarang Mirip Menjelang Perang Dunia I dan II

Saat itu, Esther mengabarkan posisinya yang sedang berada di Yogyakarta untuk menjalankan tugas negara bersama tim KKP.

“Chat terakhir hari Jumat malam. Kami masih chatting. Dia bilang dia di Jogja,” ujar Siburian. 

Tak ada yang menyangka, itu adalah percakapan terakhir sebelum pesawat yang ditumpangi Esther dinyatakan hilang kontak pada Sabtu siang di wilayah Maros-Pangkep.

Menjemput Mukjizat di Antara Puing

Sejak mendapat kabar duka dari pihak maskapai, Adi segera terbang dari Bogor ke Makassar. 

Ia telah menjalani prosedur pengambilan sampel DNA di RS Bhayangkara sebagai bagian dari protokol identifikasi. 

Meski secara medis persiapan pahit telah dilakukan, nurani seorang ayah tetap memilih untuk percaya pada keajaiban.

“Kami berharap masih ada mukjizat. Sampai sekarang kan belum ditemukan. Kami berharap mereka semua ditemukan dalam keadaan selamat,” ungkap Adi dengan suara bergetar saat mendatangi Posko Greeters Meeters, Senin (19/1/2026).

Kini, di tengah operasi SAR yang didukung modifikasi cuaca oleh BMKG, Adi dan keluarga hanya bisa bersandar pada doa. 

Baginya, Esther bukan sekadar pramugari yang sedang bertugas, melainkan detak jantung keluarga yang mereka harapkan bisa segera pulang, bagaimanapun kondisinya.

Sosok Florencia, Pramugari Pesawat ATR yang Jatuh di Gunung Bulusaraung

"Kami semua berdoa. Berharap mukjizat. Kami yakin harapan itu masih ada."

Harapan itu diutarakan Yanti, warga Jalan Donald Isaac Panjaitan, Kelurahan Taler, Kecamatan Tondano Timur, Kabupaten Minahasa,  Sulawesi Utara, Minggu (19/1/2026).

Yanti adalah anggota keluarga Florencia Lolita Wibisono, pramugari ATR yang kini nasibnya belum diketahui.

Baca juga: Tragedi ATR IAT: Pesawat KKP Hilang di Bulusaraung, Kesaksian Mencekam dan Pencarian Intensif

Baca juga: Daftar 12 Nama Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional: Anak Hotman Paris-Vokalis Band Letto

Florencia  satu dari dua pramugari ATR yang pesawatnya jatuh di Gunung Bulusaraung Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan kemarin.

Ada 10 penumpang pesawat yang beranfkat dari Yogyakarta menuju Makassar Sulawesi Selatan itu.

Tim SAR menjelaskan pagi tadi baru satu jenazah yang ditemukan.

Faktor cuaca buruk penyebab Tim SAR kesulitan mengevakuasi korban.

Rencana menikah dengan pilot

Menurut Yanti ‎Florencia diketahui telah memiliki rencana untuk menikah.

‎“Kami dengar sudah ada rencana menikah, tapi belum tahu kapan. Rencananya secepatnya,” ujar Yanti.

Calon pasangan Florencia atau Ollen, sapaan akrabnya, diketahui berprofesi sebagai seorang pilot di salah satu maskapai penerbangan.

‎Meski demikian, pihak keluarga hingga kini masih menunggu perkembangan informasi resmi terkait keberadaan Ollen, seiring proses pencarian yang masih berlangsung.

‎“Kami tetap berharap Ollen bisa segera ditemukan,” ucap Yanti.

Florencia Lolita Wibisono saat ini berusia 32 tahun.

‎Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara dalam keluarganya.

‎Pengalaman 14 Tahun di Dunia Penerbangan, Florencia Wibisono Baru 3 Bulan Bertugas di ATR 42-50

‎Sosok Florencia Lolita Wibisono, salah satu pramugari pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar yang mengalami insiden jatuh, dikenal memiliki pengalaman panjang di dunia penerbangan.
Sebelumnya Jadi Pramugari Lion Air

‎Florencia atau Ollen diketahui baru sekitar tiga bulan bertugas di pesawat ATR 42-500 milik Air Indonesia Transport. 

‎“Kira-kira baru tiga bulan dia kerja di pesawat itu,” ujar Ramos anggota keluarga Florencia.

‎‎Sebelum bergabung dengan Air Indonesia Transport, Florencia tercatat menghabiskan sebagian besar kariernya sebagai pramugari di maskapai Lion Air.

‎“Kurang lebih 14 tahun dia di Lion Air,” ungkap Ramos.

‎Tak hanya berpengalaman sebagai pramugari, Ollen juga dipercaya menangani pelatihan awak kabin yang baru bergabung. 

‎Perannya kerap dikaitkan dengan pembinaan dan pendampingan kru junior.

‎“Dia juga jadi trainer untuk pramugari yang baru. Bisa dibilang seperti HRD,” sambungnya.

‎Hingga kini, pihak keluarga masih menantikan informasi resmi dari pihak berwenang terkait perkembangan pencarian dan penanganan insiden pesawat tersebut.

Data dan Fakta Pesawat Jatuh

  • Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan pada Sabtu 17 Januari 2026.
  • Pesawat buatan tahun 2000 seri 611 ini  terbang dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta menuju Makassar.
  • Pesawat hilang kontak pada Sabtu 17 Januari 2026 siang  saat akan mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.
  • Puing-puing pesawat pertama kali ditemukan oleh pendaki yang sedang berada tak jauh dari lokasi pesawat jatuh
  • Hingga pagi ini tim SAR baru menemukan satu korban jiwa dari total 10 orang di dalam pesawat.
  • Evakuasi masih berlangsung di medan ekstrem, Tim SAR menerjunkan ratusan orang dibantu warga lokal
  • Pesawat membawa 10 orang  termasuk 3 pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan.
  • Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono mengatakan pesawat ATR kemungkinan menabrak tebing atau lereng di Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulsel.

“Kemungkinan tabrak tebing atau lereng, tapi pesawat masih dalam kontrol pilot,” kata Soerjanto dalam konferensi pers di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar di Maros, Sulsel, Minggu (18/1/2026).

Pesawat ini jatuh dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Makassar sedang digunakan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI (KKP) untuk tugas pengawasan.

Tugas itu dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan.

Baca juga: Empat Kali Edarkan Sabu, Rendra Pratama Dibekuk Polisi dengan Barang Bukti 602 Gram Sabu

Baca juga: Relawan Sebut Jokowi Tak Pendendam Usai Eggi Sudjana dan DHL Bebas Lewat RJ di Kasus Ijazah

Baca juga: Potensi Hujan Harian di Provinsi Jambi Periode 19-25 Januari 2026, Didominasi Cuaca Berawan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.