SURYA.CO.ID - Pasca pandemi Covid hingga ritme kehidupan yang cepat sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental manusia di masa kini. Dalam beberapa tahun terakhir, isu kesehatan mental mulai banyak disuarakan ke ruang publik.
Sosial media seakan menjadi ruang terbuka yang dapat mempertemukan para penyintas 'mental illness' melalui konten-konten yang berbicara soal kesehatan mental.
Seseorang yang memiliki masalah kesehatan mental seringkali tidak terlihat oleh orang lain, bahkan oleh dirinya sendiri. Ada yang sadar sehingga mencari bantuan medis, ada pula yang terlihat baik-baik saja padahal sedang berjuang melawan kecemasan.
Penyebab gangguan mental bermacam-macam, mulai dari tekanan psikis jangka panjang hingga perubahan struktur kimia didalam otak.
Penyintas seringkali merasakan ada keinginan untuk menyerah namun merasa hidup juga harus tetap berlanjut.
Ada satu istilah medis dalam isu kesehatan mental, yaitu Distimia.
Distimia termasuk kedalam kategori gangguan depresi jangka panjang, berlangsung lebih lama dan cenderung menetap.
Gejalanya bisa lebih ringan dibanding depresi mayor, sehingga seringkali tidak terdiagnosis dan kemungkinan besar banyak dialami oleh sebagian masyarakat tanpa adanya diagnosa secara formal dan klinis.
Baek See Hee merupakan penulis muda asal Korea Selatan yang juga mengidap Distimia.
Ia berjuang selama 10 tahun melawan gangguan mental hingga menjadi sosok yang menginspirasi banyak generasi muda melalui karya pertamanya. Berjudul I want to Die but I Want to Eat Tteokpokki, di mana buku bergenre self development ini berhasil meraih predikat best seller di Korea, yang akhirnya diterjemahkan juga kedalam bahasa Indonesia terbitan Penerbit Haru tahun 2019.
Alih-alih berisi naskah yang suram dan menyedihkan, dalam buku ini pembaca akan menemukan wawasan segar yang menginspirasi dari kaca mata seorang penyintas gangguan mental. Buku ini banyak menyuguhkan catatan pengobatan penulis dengan gaya bahasa yang menenangkan meskipun penulis pernah berniat mengakhiri hidupnya.
Niat ini urung dilakukan hanya karena penulis masih ingin menikmati semangkuk Ttaekpokki pedas favoritnya.
Buku setebal 236 halaman ini berisi tentang pertanyaan, penilaian, saran, nasihat dan evaluasi yang bertujuan agar pembaca bisa menerima dan mencintai diri sendiri.
Penulis sangat mahir dalam mengajak pembaca untuk ikut merasakan kesan dan pengalamannya sebagai penyintas Distimia, melalui penyertaan dialog saat sesi konsultasi dengan psikiater.
Ditambah, penyuguhan gejolak emosi saat penulis mengalami penurunan minat, merasa rendah diri dan menganggap dirinya tidak bisa memenuhi standar hidup membuat pembaca merasakan aspek emosional saat membacanya.
Titik balik penulis dalam melawan dan bangkit dari keterpurukan, bermula saat ia merasa lega ketika menuliskan penggalan percakapan sederhana dengan psikiater kedalam sebuah blog pribadi.
Aktivitas ini membuat penulis merasa lebih baik ketika membacanya kembali, dan ia dapat berfikir dengan cara yang lebih jernih. Dari sinilah Baek Se Hee menyadari bahwa selalu ada hal sederhana yang bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari yang dapat membawanya pada sedikit kebahagiaan.
Menurutnya, merombak ekspektasi juga dirasa perlu dilakukan agar kita bisa memperoleh ruang lega sekaligus mengatur ulang apa yang perlu dilakukan daripada terus menerus menuntut diri sendiri pada indikator hidup versi orang lain.
Buku ini juga banyak diulas oleh netizen, di mana menurut mereka buku ini bisa menjadi sarana terapi yang bisa menolong orang lain dalam menghadapi permasalahan gangguan mental, agar gejala depresi mereka tidak semakin memburuk.
Bahkan, buku I want To Die But I Want eat Tteokpokki juga pernah diulas oleh Kim Nam-joon alias RM, leader idol Korea bernama BTS.
Penerbit Haru juga menerbitkan banyak buku lain dari penulis lokal dan Asia mulai dari genre fiksi, mistery, romance, hingga self development yang konteksnya sangat relate dengan kejadian sehari-hari. Bahwa mungkin Baek See Hee sudah berpulang dalam beberapa waktu yang lalu, namun karyanya abadi dan membantu banyak pembacanya keluar dari depresi. (*)