Laporan wartawan wartakotalive.com, Yolanda Putri Dewanti
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Suasana duka masih menyelimuti keluarga Yoga Naufal di Duren Sawit, Jakarta Timur,Senin (19/1/2026).
Yoga Naufal merupakan Operator Foto Udara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI yang menjadi salah satu penumpang pesawat ATR 42-500 registrasi PK-THT.
Keluarga Yoga Naufal telah berangkat ke Sulawesi Selatan untuk proses identifikasi.
Tetangga korban, Ifo, menyampaikan keluarga bertolak menuju Makassar pada Senin (19/1/2026) sekitar pukul 02.00 WIB.
Keberangkatan tersebut difasilitasi oleh pihak Kementerian KKP.
“Pihak keluarga yang berangkat ibu kandung sama pamannya. Karena kan memang diminta sama kementerian untuk ke sana kan buat identifikasi korban,” kata Ifo di Jakarta Timur, Senin (19/1/2026).
Baca juga: Sosok Ferry Irawan di Mata Tetangga: Pendiam, Rajin Salat, Kini Hilang di Pesawat ATR
Sebelum keberangkatan ke Makassar, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Metro Jaya telah lebih dahulu mengambil sampel DNA antemortem dari ibu kandung Yoga.
Pengambilan sampel dilakukan oleh Tim DVI Bidokkes Polda Metro Jaya yang mendatangi kediaman Yoga di Jalan Tutul, Kelurahan Pondok Bambu, Jakarta Timur, pada Minggu (18/1/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
“Ke Makasar itu pihak kementerian yang memfasilitasi. Alhamdulillah kita dibantu pihak kementerian. Kalau sekarang di rumah ada istri, anak, adik korban, sama keluarga-keluarga jauh,” ujarnya.
Ifo juga menuturkan, sejak peristiwa jatuhnya pesawat Indonesia Air Transport jenis ATR 42-500 pada Sabtu (17/1/2026), Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono telah datang langsung menemui keluarga Yoga.
Selain itu, hingga saat ini puluhan pegawai KKP masih tampak berada di rumah duka untuk memberikan dukungan moril kepada keluarga yang masih menunggu kepastian informasi dari Tim SAR.
“Belum (ada informasi lanjut). Untuk kabar-kabarnya kita enggak banyak tahu ya, karena kan terus terang belum ada kabar juga. Kita cuma berpatokannya acuannya cuma (informasi) media saja,” tuturnya.
Diketahui sebelumnya, pesawat Indonesia Air Transport jenis ATR 42-500 yang membawa 10 orang dilaporkan terjatuh di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026).
Pesawat tersebut mengangkut tujuh kru dan tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dengan rute penerbangan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.
Tiga pegawai KKP yang menjadi penumpang pesawat tersebut yakni Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Naufal. Ketiganya tengah menjalankan misi pengawasan melalui udara atau air surveillance di wilayah pengelolaan perikanan.
Sementara itu, tujuh kru pesawat yang bertugas adalah Andi Dahananto, Muhammad Farhan Gunawan, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, Esther Aprilita, dan Hariadi.
Hingga kini, Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, serta relawan masih terus melakukan upaya pencarian dengan menyisir area lokasi jatuhnya pesawat ATR tersebut.
Cerita Pertemuan Terakhir Keluarga dengan Yoga Naufal
Wajah Sultan (15) tampak pucat, tatapannya kosong, seolah masih berusaha menerima kabar duka yang datang tiba-tiba.
Remaja itu adalah adik kandung Yoga Naufal, Operator Foto Udara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Di rumah yang ada di Jalan Tutul Raya, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, Sultan perlahan menceritakan komunikasi terakhir bersama kakaknya itu.
Pertemuan itu terjadi dua hari sebelum pesawat yang ditumpangi Yoga Naufal dinyatakan hilang kontak.
Pada Kamis (15/1/2026) malam, Sultan baru saja kembali dari kegiatan study tour sekolah ke Kuningan, Jawa Barat.
Saat itu Yoga Naufal menjemput Sultan.
"Itu terakhir ketemu, abang jemput aku," kata Sultan dengan suara lirih, Senin (19/1/2026).
Dalam perjalanan pulang malam itu, Yoga Naufal banyak bertanya tentang kegiatan study tour Sultan.
Bagi Sultan, perhatian sederhana itu kini terasa begitu membekas.
Selama ini, Yoga Naufal selalu memberi kabar ke keluarga setiap akan berangkat dinas.
Ia tak pernah absen mengabari, bahkan sebelum pesawat lepas landas.
Namun, pada perjalanan terakhir ini, kabar tersebut terasa berbeda.
"Biasanya abang ngabarin sebelum berangkat, tapi kali ini telat, pas sudah di Yogyakarta mau lanjut ke Makassar," kata Sultan.
Sejak ada kabar pesawat jatuh di Maros, suasana rumah dipenuhi kecemasan dan doa.
Bagi Sultan, kenangan dijemput kakaknya sepulang study tour jadi potongan terakhir kebersamaan mereka.
Sebuah momen sederhana, yang kini berubah menjadi kenangan paling berharga, sembari keluarga menunggu kepastian di tengah harap dan doa yang tak putus. (m27)