Pamitan Terakhir Deden Maulana Pegawai KKP yang Jadi Korban Pesawat ATR 42-500: Jalan Dulu Ya Pak
January 19, 2026 04:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kalimat sederhana “Jalan dulu ya Pak” menjadi pamitan terakhir Deden Maulana, pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sebelum naik pesawat ATR 42-500 yang kemudian mengalami kecelakaan.

Pesan singkat itu disampaikan Deden kepada sang ayah dengan nada tenang, tanpa sedikit pun menyingkap firasat bahwa perjalanan dinasnya akan berakhir tragis.

Kini, pamitan tersebut menjadi kenangan paling memilukan bagi keluarga, sekaligus potret manusiawi seorang anak yang berpulang dalam tugas negara.

Baca juga: Unggahan Terakhir Florencia Pramugari Korban Pesawat ATR 42-500: Deskripsikan Jatuh dari Langit

"Jalan dulu ya Pak," kalimat sederhana itu menjadi memori terakhir yang ditinggalkan Deden Maulana kepada tetangganya, Suratno (66).

Tidak ada yang menyangka, ucapan pamit rutin tersebut menjadi pertanda kepergian Deden untuk selamanya.

Deden Maulana, seorang pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), merupakan satu dari sepuluh orang yang berada di dalam pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan registrasi PK-THT.

Pesawat tersebut dilaporkan hilang kontak di area Gunung Bulusaraung, perbatasan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026).

Sosok yang Pendiam dan Santun

Di mata para tetangga di Jalan Mesir II, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Deden dikenal sebagai sosok yang baik namun irit bicara. Suratno mengenang pertemuan terakhirnya dengan korban sehari sebelum kecelakaan maut itu terjadi.

"Dia memang selalu begitu. Kalau berangkat, cuma gitu doang, pamit doang. Tiap saya di depan, kalau ketemu dia, jalan, enggak pernah diam, pamit," ujar Suratno saat ditemui di rumah duka, Minggu (18/1/2026).

Suratno mengaku sangat terkejut saat istri Deden mendatangi rumahnya sambil terisak.

"Tahu-tahu istri nangis di depan pintu saya, 'Pak No, Deden jatuh dari pesawat. Pesawatnya jatuh, hilang kontak.' Ya, saya bilang sabar saja, kita harus sabar berdoa," tambahnya.

PESAWAT JATUH - Suasana rumah staf Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menumpangi pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak, Deden Maulana, di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (17/1/2026) malam.(KOMPAS.com/HANIFAH SALSABILA) (KOMPAS.com/HANIFAH SALSABILA)

Penemuan Puing dan Satu Jenazah

Hingga Minggu sore, tim SAR gabungan terus berupaya melakukan evakuasi di medan yang sulit. Kepala Kantor Pencarian dan Penolong Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengonfirmasi bahwa tim telah menemukan satu korban berjenis kelamin laki-laki.

"Pada pukul 14.20 WITA, telah ditemukan satu korban di koordinat 04°54'44"S dan 119°44'48"S di kedalaman jurang sekitar 200 meter, berada di sekitar serpihan pesawat," jelas Arif.

Selain korban, tim Search and Rescue Unit (SRU) 3 juga menemukan serpihan rangka dan kursi pesawat.

Namun, cuaca ekstrem berupa hujan deras dan kabut tebal yang membatasi jarak pandang hingga lima meter menjadi kendala utama dalam proses evakuasi vertikal.

Belum Ada Bendera Kuning

Di Jakarta, suasana haru menyelimuti kediaman Deden. Ayah kandung korban, Mukhsin, tampak masih terpukul. Ia terus memanjatkan doa dan berharap adanya mukjizat agar sang anak ditemukan dalam kondisi selamat.

Keteguhan hati keluarga terlihat dari belum adanya bendera kuning yang terpasang di sekitar rumah. Pihak keluarga mengaku masih menunggu kepastian resmi dari tim SAR di lokasi kejadian.

"Iya itu (belum dipasang bendera kuning), makanya warga di sini belum berani pasang karena belum ada kepastian yang pastinya gimana. Ya mudah-mudahan ada keajaiban dari Allah," kata Mukhsin dengan mata berkaca-kaca.

Mertua korban, Rahmat, juga merasakan gelagat aneh saat Deden bertamu beberapa hari sebelumnya.

"Biasanya dia mah masuk, masuk saja. Kemarin pas ke rumah itu dia ngucap salam, saya tanya ada apa Den, dia cuma senyum saja," kenangnya.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, memastikan bahwa para pegawainya sedang menjalankan misi air surveillance atau pengawasan sumber daya kelautan melalui udara saat kecelakaan terjadi.

Berikut adalah daftar 10 orang yang berada di pesawat ATR 42-500 PK-THT:

3 Personel KKP:

Ferry Irawan (Analis Kapal Pengawas)

Deden Mulyana (Pengelola Barang Milik Negara)

Yoga Naufal (Operator Foto Udara)

7 Kru Indonesia Air Transport (IAT):

Capt. Andy Dahananto (Pilot)

Yudha Mahardika/Muhammad Farhan Gunawan

Hariadi

Franky D Tanamal/Restu Adi

Junaidi/Dwi Murdiono

Florencia Lolita

Esther Aprilia

Tim DVI Polri Kumpulkan Sampel Ante Mortem

Pada Minggu sore pukul 16.11 WIB, tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri mendatangi rumah Ketua RW 010 di dekat kediaman Deden.

Tim yang terdiri dari tiga anggota tersebut melakukan prosedur "jemput bola" untuk mengambil sampel data pembanding (ante mortem) dari ibu kandung dan saudara kandung korban guna keperluan identifikasi.

(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.