TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA - Karhutla di Kalteng, 16 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tercatat terjadi di Kalimantan Tengah sepanjang 1 hingga 18 Januari 2026, meski wilayah ini masih berada dalam musim penghujan.
“Terkait kondisi di Kalimantan Tengah akhir-akhir ini, sesuai prakiraan dari BMKG, kita masih dalam musim penghujan. Musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juni atau Juli 2026,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPB-PK Kalteng Indra Wiratama, Tribunkalteng.com, Senin (19/1/2026).
Namun demikian, Indra menjelaskan dalam sepekan terakhir suhu udara di Kalimantan Tengah terasa lebih panas.
Kondisi itu berdampak pada meningkatnya potensi kebakaran lahan di sejumlah wilayah.
“Berdasarkan data dari 1 sampai 18 Januari 2026, terjadi 16 kejadian karhutla dengan luasan terbakar sekitar 20,76 hektare,” jelasnya.
Seluruh kejadian karhutla tersebut, lanjut Indra, telah berhasil ditangani oleh tim gabungan dan dipastikan dalam kondisi padam.
“Semuanya sudah terkonfirmasi padam. Penanganan dilakukan oleh aparatur BPBD provinsi dan kabupaten/kota, Manggala Agni, Dinas Kehutanan, pemadam kebakaran, serta relawan dari masyarakat,” katanya.
Berdasarkan laporan resmi perkembangan kejadian bencana BPB-PK Kalteng per Minggu (18/1/2026), tercatat pada hari tersebut terdapat 11 titik hotspot, empat kejadian karhutla, satu kali ground check, dengan luas lahan terbakar mencapai 4,91 hektare.
Secara akumulatif, sejak 1 hingga 18 Januari 2026, terpantau sebanyak 150 titik hotspot di Kalteng, dengan 16 kejadian karhutla dan total luas terbakar 20,76 hektare.
Rincian kejadian karhutla tersebar di beberapa daerah. Di Kabupaten Barito Utara, satu kejadian terjadi pada Sabtu (17/1/2026) di Jalan Sosial, Desa Trinsing, Kecamatan Teweh Selatan, dengan luas terbakar 0,92 hektare dan telah dinyatakan padam.
Di Kota Palangka Raya, dua kejadian karhutla terjadi di Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya, masing-masing di Jalan Victoria seluas 0,33 hektare dan di Jalan Hiu Putih Lanjutan seluas 1,61 hektare. Seluruhnya berhasil dipadamkan oleh tim gabungan.
Sementara itu, satu kejadian lainnya tercatat di Kabupaten Lamandau, tepatnya di Jalan Pangeran Antasari, Kecamatan Bulik, dengan luas terbakar 0,2 hektare dan kondisi akhir padam.
Indra menegaskan, meskipun musim kemarau diperkirakan masih beberapa bulan ke depan, BPB-PK Kalimantan Tengah tetap melakukan langkah antisipasi sejak dini.
“Untuk upaya antisipasi karhutla, BPB-PK Kalteng selalu melakukan koordinasi dan diseminasi kepada BPBD kabupaten/kota terkait potensi terjadinya bencana, terutama penyampaian peringatan dini dan prakiraan cuaca dari BMKG,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga melakukan pemasangan alat Early Warning System (EWS) di sejumlah daerah rawan bencana, serta rutin melakukan pengecekan hotspot.
“Kami juga melakukan pengecekan hotspot dan penanganan, baik secara langsung maupun tidak langsung, terkait terjadinya bencana karhutla,” kata Indra.
Baca juga: Karhutla di Kalteng Januari 2026, Lahan di Kotawaringin Timur Paling Luas Terbakar
Baca juga: BPB-PK Kalteng Beberkan Kendala Penanganan Karhutla, Mulai dari Medan Sulit, Minim Air dan Anggaran
Dalam laporan yang sama, BPB-PK Kalimantan Tengah juga mencatat kejadian banjir masih melanda Kabupaten Barito Selatan sejak akhir Desember 2025.
Hingga pertengahan Januari 2026, banjir tersebut berdampak pada enam kecamatan dan 62 desa/kelurahan, dengan ketinggian genangan air berkisar 30 hingga 162 sentimeter.
Meski demikian, Indra menegaskan kesiapsiagaan terhadap potensi karhutla tetap menjadi perhatian utama, seiring dinamika cuaca yang masih fluktuatif di Kalimantan Tengah.