TRIBUNMANADO.CO.ID - Saksi Kata Tribun Manado bersama salah satu korban bencana banjir bandang Siau, Sitaro.
Bencana banjir bandang Siau terjadi pada Senin tanggal 05 Januari 2026, sekitar pukul 02.00 WITA, setelah daerah tersebut dilanda hujan dengan intensitas tinggi.
Bencana ini mengakibatkan ratusan warga terdampak.
Kejadian ini tidak hanya menyebabkan korban luka dan kehilangan nyawa, tapi juga menghilangkan tempat tinggal serta harta benda.
Kondisi pasca kejadian memperlihatkan keterbatasan akses dan beratnya situasi yang harus dihadapi para korban baik dari sisi kesehatan maupun pemulihan kehidupan sehari-hari.
Wilayah yang terdampak meliputi Kampung Bahu, Peling, Laghaeng, Batusenggo, Bumbiha, Paseng dan Bandil.
Jurnalis Tribun Manado Rizali Posumah mengunjungi lokasi bencana pascakejadian.
Salah satu warga yang selamat di daerah Batusenggo - Siau Barat Selatan, berkesempatan menceritakan detik-detik peristiwa banjir tersebut.
Berikut informasi wawancara langsung Rizali Posumah dengan Teklik Serang, korban terdampak bencana banjir Siau - Sitaro pada Kamis, 8 Januari 2026:
Rizali: Pak, bisa menceritakan bagaimana detik-detik terjadinya peristiwa itu?
Teklik: Sekitar setengah tiga (02.30 Wita), anak saya paling tua dari acara, pulang. Jadi, kami sama mertua, sama cucu sudah bangun. Jadi, ade, anak yang tua ada tamang (teman) datang. Basah-basah, jadi maytua (istri) suruh baganti (berganti), makan semua, bikin teh. Kalo kita (saya) duduk di luar, di place rumah. Terus yang tua (anak sulung) so (sudah) tidor (tidur) di kasur. Depe Oma (Oma-nya) dengan cucu sementara bermain. Habis makan masih sempat bercerita torang (kami/kita). Saya duduk di luar. Itu selang waktu sudah jam tiga lewat itu. Sementara minum teh saya, dapa dengar (terdengar) suara. Ada suara, cuma tidak hiraukan suara itu. Apakah gui (air banjir) karena di depan rumah ada sungai. Jadi maytua sempat bilang: Suara apa ini? Jadi saya cuma berkata: Mungkin cuma ada suara apa, kayu, di sungai sebelah. Terus sudah bau tanah. Terus sempat, tidak sampai 4 atau 5 menit, maytua tanya, kage (tiba-tiba) sudah bruuhhhhh. Maytua bilang: Tek lihat apa ini? Saya sudah lihat, itu beton rumah sudah mulai miring. Jadi maytua bawa itu cucu. Lari ke kamar, buat dibangunkan, tapi sudah tidak riki (sempat). Terus saya di luar sudah terbawa. Jadi saya gui terjang, berdiri, ciri di rumah birman (tetangga) di bawah, ciri di situ saya. Sudah terdiam situ. Mulai saya lihat, gui sudah berputar. Saya minta tolong, tolong. Maytua, sempat dengar maytua punya suara. Serta saya panggil lagi, sudah tidak bersuara. Saat itu saya menangis. Tetangga di belakang tidak lari karena dapur rusak. Saya bilang: Papa Putri, endo si Papa Fino, ndo. Turun ya? Jadi Papa Putri mungkin, keadaan begitu sudah takut. Jadi tetangga turun ke bawah, baku dapa deng maytua (bertemu istri). Jadi maytua: Tolong! Anak sudah terlepas dari dia karena kena batu. Jadi saat maytua berdiri, cucu sudah menangis. Jadi angkat saat lewat, ditolong. Kalau saya sampai pagi. Jadi ada dua orang tolong. Dorang (mereka) bilang: Tenang ngana (kamu), hidup semua, anak, cucu. Saya bertindak berdiri, aduh so tagepe (sudah terjepit). Pokoknya nyanda (tidak) ada lecet-lecet, perut sini, cuma kaki ini. Jadi saya gui terjang sementara berdiri. Ciri ke birman punya rumah. Tertahan situ. Saya cuma bilang: Tuhan tolong! Tuhan tolong! Ciri ke bawah. Saya terangkat pagi. Itupun sudah ngesot.
Rizali: Itu sekitar jam berapa pak? Kejadian yang bapak ingat?
Teklik: Sekitar itu, sekitar setengah 4. Karena anak datang sekitar setengah 3. Saya biasa lihat saat anak datang, saya lihat jam. Karena waktu itu lagi hujan keras (lebat).
Rizali: Jadi, pada saat itu, bapak tidak sadar bahwa akan terjadi bencana, ya?
Teklik: Nyanda (tidak).
Rizali: Di rumah saat itu ada berapa orang?
Teklik: Saya, maytua dan cucu, anak yang paling tua dan ada saya punya anak punya teman dua orang. Anak perempuan punya ipar. Ada dari Biau lagi, teman satu. Jadi, tiga, empat, enam orang.
Rizali: Yang (menjadi) korban?
Teklik: Korban, teman satu. Korban yang dari Biau.
Rizali: Itu luka atau meninggal?
Teklik: Meninggal.
Rizali: Pada saat itu, kejadian itu bapak langsung panik?
Teklik: Sudah tak dapat lari. Dipikir-pikir, selang waktu sekitar 5 menit Pak. Saat saya dengar suara, suara apa? Maytua dengar: Suara apa ini? Jadi saya bilang, tidak ada kayu di got (selokan) di muka (depan). Tidak sampai 5 menit, sudah pruuuuhhh.
Rizali: Bapak punya kampung di mana?
Teklik: Batusenggo, Sibarsel (Siau Barat Selatan - Sitaro).
Rizali: Terus siapa yang tolong bapak dan ibu, waktu itu?
Teklik: Ada birman. Ada dua orang. Birman dari sebelah. Anak dan Bapak tolong. Saya punya suara kuat sekali: Tolong, tolong, saya di sini. Saya sudah menangis, menangis terus. Karena saya lihat WC (toilet) roboh.
Rizali: Gui itu air saja atau dengan bebatuan Pak?
Teklik: Itu sudah tidak terasa. Seketika itu sudah.
Rizali: Terus rumah bagaimana, pak? Kondisi rumah?
Teklik: Habis.
Rizali: Setelah itu bapak dan ibu, siapa yang bawa? Pertama, dibawa ke mana dulu?
Teklik: Kalau saya, sampai pagi dorang cabu (mereka tolong) karena kaki terjepit dengan baut. Jadi di sini, tidak boleh berdiri. Jadi, ada mesel sebelah rumah birman, mereka ambil mesel itu untuk dikeluarkan untuk mencabut saya. Jadi semua ketuk-ketuk, ini sudah keluar, cuma saki kaki. Jadi, semua sudah bebas air mengalir. Jadi mereka mencari slak (sisi yang tepat) untuk mengeluarkan kaki saya (yang terjepit). Ternyata, kalau pelan-pelan dari bawah, batu ini berjalan. Jadi, teman minta tolong cari linggis (tanja), baru tali, tahan batu. Terus mereka tahan. Bergerak, ada mesel di bawah ini, saya langsung tekan. Jadi longgar. Jadi luka kaki. Jadi saya suruh tarik.
Rizali: Jadi bapak cuma kaki yang luka?
Teklik: Cuma kaki.
Rizali: Kalau ibu bagaimana?
Teklik: Ibu ada benturan biru di belakang. Karena dia dan cucu, terputar-putar.
Rizali: Selanjutnya bapak sudah langsung dibawa ke Sawang atau?
Teklik: Tidak. Mereka yang tolong. Mereka bawa ke rumah dahulu. Dorang kase minum air (mereka beri minum). Terus mereka cari oto (mobil) lalu pergi ke puskes.
Rizali: Dari puskes lalu? Puskes Ulu Siau dahulu?
Teklik: Di -puskes- Lawit.
Rizali: Kapan -bapak- dirujuk ke sini dengan ibu?
Teklik: Hari Senin siang.
Rizali: Saya dengar ibu mau rujuk ke Manado?
Teklik: Iyo rujuk. Kemungkinan besok. Mau bercerita dulu torang dua (dia dan istrinya).
Rizali: Jadi harta benda habis (hilang) semua?
Teklik: Sudah tidak mau pusing apapun. Yang penting torang (kami) semua selamat. Tuhan masih sayang, masing jaga torang.
Rizali: Lokasi rumah bapak itu memang rawan (bencana)?
Teklik: Sudah dua kali.
Rizali: Yang pertama sempat parah seperti ini?
Teklik: Kalau pertama itu, saya belum miliki istri. Tahun 1996 itu. Nanti sekarang (kedua kalinya).
Rizali: Terus ada bantuan dari pemerintah apa saja? Untuk bapak dan ibu?
Teklik: Ada. Katanya. Ada.
Rizali: Bagaimana harapan ke pemerintah, terkait rumah bapak yang sudah hancur?
Teklik: Kalau menurut saya, bisa diperbaiki. Tapi sudah tidak layak untuk ditinggal di situ lagi.
Rizali: Artinya bapak ingin direlokasikan?
Teklik: Iya.
Rizali: Terima kasih, pak.
Teklik: Iya.
Simak video wawancara langsung Jurnalis Tribun Manado Rizali Posumah dengan narasumber Teklik Serang, salah satu korban bencana banjir bandang Siau - Sitaro, di bawah ini:
(TribunManado.co.id/Fra)