Makin Loyo, Rupiah Ditutup Nyaris Tembus Rp 17.000 per Dolar AS
January 19, 2026 06:33 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 68 poin menjadi Rp 16.955 per dolar AS, pada perdagangan Senin (19/1/2026) sore, dibandingkan posisi sebelumnya Rp 16.896.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyebut pelemahan ini sejalan dengan penguatan indeks dolar AS, yang dipicu oleh langkah Presiden AS Donald Trump. 

Trump berencana memberlakukan tarif baru pada barang dari delapan negara Eropa, termasuk Prancis, Jerman, dan Inggris, terkait penolakan akuisisi Greenland.

"Trump mengatakan AS akan mengenakan tarif 10 persen pada barang-barang dari negara-negara yang terkena dampak mulai 1 Februari," kata Ibrahim dalam keterangannya pada Selasa ini.

Pengumuman tersebut menuai kritik tajam dari para pejabat Eropa dan meningkatkan kekhawatiran akan sengketa perdagangan transatlantik yang lebih luas.

Faktor berikutnya adalah data pasar tenaga kerja AS yang tidak selemah yang diperkirakan.

Baca juga: Rupiah Wajib Diterima, Penolakan Pembayaran Tunai Bisa Berakibat Pidana

Oleh karena itu, para pedagang menjadi ragu-ragu apakah Federal Reserve atau The Fed akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga tahun ini atau tidak. 

"Kontrak berjangka dana Fed saat ini telah menunda ekspektasi pemotongan suku bunga berikutnya ke bulan Juni dan September dari perkiraan sebelumnya di bulan Januari dan April," ujar Ibrahim.

Ia menyebut bank sentral AS dipandang dapat mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.

Faktor dari benua Asia, data pada hari Senin menunjukkan ekonomi China tumbuh 5,0 persen pada tahun lalu.

Angka tersebut memenuhi target pemerintah dengan merebut pangsa permintaan global barang yang mencapai rekor untuk mengimbangi konsumsi domestik yang lemah.

Faktor Dalam Negeri

Ibrahim menjelaskan, rencana pemerintah menerapkan peraturan yang tidak lazim untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen menjadi sentimen negatif terhadap rupiah.

Selain itu, ia mengungkap ada kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal Indonesia yang kembali mencuat.

Kekhawatiran itu setelah defisit anggaran 2025 mendekati batas 3 persen, sedangkan penerimaan negara masih lemah.

 "Kondisi ini menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah," kata Ibrahim.

Bank Indonesia (BI) sebenarnya disebut sudah melakukan intervensi untuk mengendalikan volatilitas, tetapi terdapat cukup banyak keterbatasan dari sisi kebijakan.

Ia menyebut BI secara rutin melakukan pembelaan terhadap rupiah, baik di pasar DNDF maupun pasar NDF.

"Namun, toleransi Bank Indonesia terhadap pelemahan rupiah yang moderat dapat membatasi efektivitas intervensi tersebut," ujar Ibrahim.

Guna menopang mata uang rupiah, BI diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan saat rapat kebijakan pada Rabu mendatang.

BI juga disebut telah mengerahkan berbagai instrumen untuk menahan pelemahan rupiah.

Upaya itu dilakukan melalui penyesuaian penerbitan surat berharga bank sentral, intervensi di pasar valuta asing, serta pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder.

Selain itu, rencana pemerintah untuk memperketat pengelolaan devisa hasil ekspor dinilai dapat memberikan bantalan bagi rupiah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.