BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Ocim Karsim, pembudidaya ikan di Desa Penyambaran Karangintan Kabupaten Banjar, dipusingkan dengan adanya musibah banjir di awal 2026 ini.
Hal itu, karena beberapa kolam ikan yang dikelolanya terendam banjir, dan ikan-ikan yang dibudidayanya turut menghilang terbawa banjir.
Atas musibah ini, Ocim karsim dan kelompoknya, Karya Iwak Banua menelan kerugian Rp 300 juta.
"Semua jenis ikan. Baik bawal. Nila, Papuyu dan indukan Papuyu punya kami habis hanyut karena banjir," lapornya.
Ocim adalah satu dari 150 pembudaya ikan baik jala apung atau pembudidaya ikan kolam tanah terimbas akibat banjir.
Data ini setelah direkap dan di data dari Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Banjar hingga senin (19/1/2026).
Berdasarkan data yang masuk, kerugian yang diderita 151 pembudidaya ikan di Kabupaten Banjar mencapai Rp 4 miliar.
Kepala Seksi Pengelolaan dan Pembudidayaan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Banjar, Apriyani Mindra Waspodo, mengatakan jika rekapan itu diakumulasi mulai banjir sejak kejadian 26 Desember 2025 hingga 8 Januari 2026 .
Diuraikannya, selama musibah banjir, jumlah unit usaha budidaya terdampak banjir 151 unit usaha yang tersebar di tiga Kecamatan. Yakni Aranio satu kelompok, Karang Intan 128 pembudidaya, dan Martapura Barat sebanyak 22 pembudidaya ikan.
Baca juga: Dipantau Ketat Petugas Satpol PP, Aktivitas Warung Remang di Sarigadung Tanahbumbu Mulai Surut
Sementara jumlah prasarana budidaya yang terdampak banjir di anataranya 650 buah (jala apung, kolam tanah, kolam terpal bundar, kolam bioflock) serta total jumlah benih ikan yang terdampak banjir 4.272.850 ekor yakni Nila, Papuyu, Bawal.
"Jika ditotal jumlah ikan yang terdampak banjir 1.738.706 kilogram atau 1.738,706 ton dengan ukuran mulai 100 gram sampai dengan 1 kilogram ekor (Nila, Patin, Papuyu, Gurame)," urainya.
Karena itu lanjutnya, muncul jumlah estimasi kerugian akibat banjir Rp 4.463.865.000.
Sejatinya, ungkap Apriyani, pihak dinas telah memberikan imbauan dini kepada para pembudi daya sebelum banjir tiba.
Namun, masih banyak pembudi daya yang tidak bisa menghentikan operasional atau memanen ikan lebih awal karena kerja sama dengan penyedia pakan.
”Para pembudi daya harus mengejar target penjualan sesuai kerja sama dengan penyedia pakan, sehingga proses pembudidayaan tetap berjalan meski ada risiko banjir,” urainya.
Hingga saat ini, pihak DKPP Banjar masih terus melakukan pendataan di lapangan. Angka kerugian Rp. 4,4 miliar tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi meningkat seiring dengan proses pemulihan pasca-banjir.
”Data ini adalah laporan sementara pembudi daya ikan yang terdampak di Kabupaten Banjar. Kami mengimbau bagi pembudi daya yang mengalami kerugian namun belum terdata agar segera melapor secara mandiri kepada kami,” urai Apri.
Terkait data estimasi kerugian tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar, Siplansyah Hartani menjelaskan, akan melaporkan ke Sekda Banjar dan untuk disampaikan ke Provinsi sebagai salah satu bentuk dampak banjir di kabupaten banjar.
"Karena Pemprov juga meminta data tersebut," urainya.
Terkait perlunya asuransi perikanan, Siplansyah Hartani mengungkapkan, akan mempelajari bagaimana kriteria dan persyaratannya.
Bahkan, dia menyampaikan. Jika memungkinkan hal tersebut akan diusulkan dalam rapat dengan pihak pemprov agar ke depan pembudidaya punya pegangan asurasi. (Banjarmasin Post/ Nurholis Huda).