BANGKAPOS.COM, BANGKA — Maraknya paparan konten ekstrem di media sosial mendorong Densus 88 Antiteror Polri menggelar roadshow sosialisasi pencegahan radikalisme di kalangan pelajar SMP se-Kabupaten Bangka.
Kegiatan perdana dilaksanakan di SMP Negeri 2 Sungailiat, Senin (19/1/2026), sebagai upaya membentengi generasi muda dari pengaruh intoleransi dan kekerasan berbasis ideologi.
Kegiatan ini diikuti sekitar 150 siswa-siswi dan merupakan hasil kolaborasi Densus 88 AT Polri bersama Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Bangka, Badan Intelijen Negara Daerah (BINDA) Kepulauan Bangka Belitung, serta Polsek Sungailiat.
Katim Pencegahan Satgaswil Babel Densus 88 AT Polri, IPDA Hariyadi menegaskan bahwa upaya pencegahan harus dilakukan sejak usia dini, terutama di tengah maraknya paparan konten ekstrem di media sosial.
“Pencegahan paling efektif dimulai dari edukasi. Anak-anak sekarang sangat mudah terpapar informasi, sehingga perlu dibekali pemahaman kebangsaan agar tidak terjerumus ke paham radikal,” ujar Hariyadi.
Ia mengungkapkan, salah satu ancaman yang saat ini marak adalah keberadaan grup daring seperti True Crime Community (TCC) yang menyajikan konten kekerasan hingga simulasi teror.
“Konten seperti ini sangat berbahaya. Tidak hanya menampilkan kekerasan, tapi juga bisa membentuk pola pikir yang menyimpang. Karena itu, peran orang tua dan guru sangat penting dalam pengawasan,” tegasnya.
Kepala Dindikpora Kabupaten Bangka, Boy Yandra menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang aman bagi peserta didik dari pengaruh negatif.
“Ancaman bagi anak-anak saat ini bukan hanya bullying, tapi juga pengaruh ideologi yang menyimpang. Karena itu, kegiatan seperti ini sangat penting untuk memperkuat karakter dan wawasan kebangsaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendidikan karakter harus berjalan seiring dengan pendidikan akademik agar pelajar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa dibekali pemahaman tentang bahaya intoleransi, pentingnya menjaga persatuan, serta cara menyikapi penggunaan media sosial secara bijak. Diskusi berlangsung interaktif dan mendapat respons positif dari para peserta.
Densus 88 menegaskan komitmennya untuk terus mengedepankan pendekatan edukatif dan preventif melalui kerja sama lintas sektor.
“Harapan kami, para pelajar ini bisa menjadi duta anti-kekerasan di lingkungan sekolah dan masyarakat,” pungkas Hariyadi.
(Bangkapos.com/Erlangga)