Kendala Lahan Hambat Koperasi Desa Merah Putih di Kalteng, Baru 100 dari 1.542 Gerai Rampung
January 19, 2026 09:05 PM

 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mengakui masih menghadapi sejumlah kendala dalam percepatan pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di daerah.

Persoalan utama yang paling banyak dikeluhkan kabupaten dan kota hingga kini masih berkutat pada ketersediaan dan kepastian status lahan.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kalimantan Tengah, Herson B Aden mengatakan, kendala tersebut tergolong klasik namun krusial karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan koperasi di lapangan.

Baca juga: Kejati Kalteng Cecar Eks Sekda Kotim 10 Pertanyaan Terkait Dugaan Korupsi Dana Hibah Pilkada 2024

“Memang ada berbagai kendala yang dilaporkan dari daerah, dan pada prinsipnya masih bersifat klasik. Yang paling utama itu soal lahan,” ujar Herson usai Rapat Temu Mitra Koperasi/Desa Kelurahan Merah Putih di Kantor Gubernur Kalteng, Senin (19/1/2026) sore.

Menurutnya, kepemilikan lahan koperasi harus diatur secara tegas melalui regulasi di tingkat kabupaten dan kota agar koperasi benar-benar memiliki dasar hukum yang jelas.

“Lahan itu bisa dipinjamkan atau dihibahkan. Bisa berasal dari desa, kampung, kabupaten, kecamatan, bahkan dari provinsi. Kalau lahan itu milik pemerintah, sampai pelepasan kawasan hutan pun bisa diusulkan,” jelasnya.

Herson menilai akan sangat disayangkan jika koperasi yang telah direncanakan bahkan dibangun oleh Agrinas tidak bisa beroperasi hanya karena persoalan lahan.

“Sayang sekali kalau koperasi sudah dibangun oleh Agrinas, tapi tidak punya lahan. Akhirnya tidak bisa dibangun dan daerahnya yang dirugikan,” katanya.

Ia menambahkan, sejauh ini kendala paling dominan yang dilaporkan daerah memang masih terkait lahan, sementara persoalan lain relatif bisa diatasi.

Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terus melakukan pendampingan kepada pemerintah kabupaten dan kota. 

Bahkan, keterlibatan TNI juga dilakukan untuk memberikan pemahaman terkait ketentuan pemanfaatan lahan.

“Prinsipnya, lahan itu dihibahkan ke koperasi. Setelah status lahannya clear, barulah Agrinas membangun,” ujar Herson.

Bangunan yang didirikan Agrinas, lanjutnya, juga akan dihibahkan sepenuhnya kepada koperasi setelah selesai dibangun.

Pemprov Kalteng juga menyiapkan dukungan lanjutan agar koperasi bisa benar-benar berfungsi sebagai pusat layanan masyarakat. 

Sejumlah mitra perbankan, seperti Bank BRI, Bank Kalteng, dan Bank Mandiri, turut dilibatkan.

“Nantinya mereka bisa membuka gerai layanan perbankan di koperasi, tentu setelah koperasinya berjalan. Jadi masyarakat tidak perlu jauh-jauh ke ibu kota kecamatan,” katanya.

Selain layanan keuangan, pemerintah daerah juga menyiapkan dukungan infrastruktur pendukung, seperti panel surya (solar cell) untuk wilayah yang belum teraliri listrik serta akses internet menggunakan Starlink. 

Namun, Herson menegaskan seluruh dukungan itu baru bisa diberikan jika bangunan koperasi sudah tersedia.

Terkait kebutuhan lahan, Herson menyebut satu koperasi idealnya berdiri di atas lahan minimal 600 meter persegi, atau sekitar 20 x 30 meter. Jika memungkinkan, luas lahan 1.000 meter persegi dinilai lebih ideal.

“Bentuknya seperti gerai, mirip Indomaret atau Alfamart. Lokasinya harus dekat permukiman dan mudah diakses masyarakat,” ujarnya.

Ia juga mengakui tantangan geografis Kalimantan Tengah, terutama di wilayah yang tidak memiliki akses jalan darat dan hanya bisa dijangkau melalui jalur sungai. 

Kondisi tersebut turut menjadi pertimbangan Agrinas, terutama dalam pengangkutan material bangunan.

“Meski sulit diakses darat, tetap harus dibangun. Pemerintah daerah nanti akan membantu terkait pengangkutan material,” katanya.

Herson memastikan seluruh bangunan koperasi yang dibangun Agrinas menggunakan konstruksi permanen dari beton, bukan bangunan kayu.

Berdasarkan data sementara, dari total target 1.542 Koperasi Merah Putih di Kalimantan Tengah, sebanyak 271 koperasi telah memiliki bangunan.

Dari jumlah tersebut, sekitar 100 koperasi telah rampung dibangun, sementara 171 lainnya masih dalam proses pembangunan.

“Targetnya paling tidak sekitar 30 persen atau sekitar 500 gerai sudah selesai pada bulan Maret 2025 ini. Prosesnya berjalan setiap hari,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.