Sempat Jualan Soto, Begini Suasana Rumah Gurandil yang Tewas Dalam Lubang Tambang Emas di Bogor
January 19, 2026 09:07 PM

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Muamarrudin Irfani

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, SUKAJAYA - Suasana duka menyelimuti salah satu rumah yang berada di wilayah Desa Urug, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor.

Rumah tersebut merupakan kediaman Isep Septiana, salah satu korban tewas akibat kepulan asap dalam lubang tambang emas di kawasan izin usaha pertambangan PT Antam UPBE Pongkor pada Selasa (19/1/2026).

Laki-laki berusia 27 tahun tersebut merupakan penambang emas ilegal atau gurandil. Pada saat kejadian ia berada dalam lubang yang berada di wilayah Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

Pria kelahiran Juli 1999 itu ditemukan tak bernyawa pada Minggu (18/1/2026) di dalam galian tambang oleh tim rescue dan langsung dimakamkan oleh pihak keluarga.

Isep Septiana diduga tak bisa bernafas karena kepulan asap tersebut mengandung karbon monoksida atau CO di atas ambang batas.

Dari pantauan TribunnewsBogor.com, tempat tinggal Isep Septiana yang tak begitu jauh dari kantor desa nampak tidak ada aktivitas yang mencolok.

Bangunan sederhana berwarna kuning dengan dua jendela menghadap ke jalan dan atap asbes tersebut nampak sepi. Para penghuni berada di dalam rumah dengan suasana penuh duka.

Di rumah tersebut korban yang belum menikah tinggal bersama kedua orang tuanya.

Sang ayah, Handa mengungkapkan bahwa putranya pergi ke area tambang pada Senin (12/1/2026).

"Sempat pamit, kalau ke saya engga (pamit), kalau sama istri mah izin," ujarnya saat dijumpai TribunnewsBogor.com, Senin (19/1/2026).

Baca juga: Sepekan Berdiri, Posko Siaga Belum Terima Laporan Warga Hilang Akibat Asap Tambang Emas di Bogor

Menurutnya, Isep Septiana terbilang baru terjun ke dunia tambang ilegal setelah tak lagi bekerja sebagai penjual soto.

Namun karena jualannya sepi, Isep Septiana memilih banting stir dan bekerja sebagai gurandil setelah diajak oleh teman-temannya.

Pada awalnya, kata dia, sang anak hanya bekerja sebagai kuli panggul bebatuan yang mengandung emas.

Akan tetapi karena uang yang dibawa pulang tak mencukupi untuk menutup kebutuhan hariannya, Isep Septiana memilih untuk ikut masuk ke dalam lubang.

"Temen-temennya biasa ke gunung, biasanya kuli manggul cuman mungkin banyakan yang manggul dia gak kebagian, jadi dia masuk," katanya.

Sementara itu, tanpa ada pertanda apapun keesokan harinya kabar datang tak sedap kepadanya bahwa sang anak berada dalam bahaya.

Ia mengaku informasi tersebut didapat dari teman-teman anaknya yang berprofesi sama dengan Isep Septiana.

"Info awal dari temennya yang selamat dirawat di Klinik Dirja, bilangnya ada musibah kena asap," ungkapnya.

Namun, ketika informasi tersebut beredar kondisi Isep Septiana belum diketahui karena masih berada di dalam lubang yang penuh asap.

Keluarga pun begitu cemas menantikan kabar Isep Septiana yang masih berada di dalam lubang tambang emas.

Setelah kurang lebih lima hari pencarian, Isep Septiana berhasil ditemukan dalam kondisi tak bernyawa dan langsung dievakuasi.

Jenazah Isep Septiana kemudian diserahkan kepada pihak keluarga untuk selanjutnya dikebumikan.

"Ditemukannya semalam, langsung dibawa, dikubur di pemakaman umum," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.