TRIBUNJAKARTA.COM, MENTENG - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggeser anggaran darurat atau Belanja Tak Terduga (BTT) untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kebijakan ini diambil guna mengantisipasi potensi banjir akibat cuaca ekstrem yang melanda ibu kota dalam beberapa hari terakhir.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan, pergeseran dilakukan agar operasi modifikasi cuaca dapat berjalan lebih lama dan tidak terbatas seperti sebelumnya.
Pramono menjelaskan, anggaran OMC yang disiapkan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang hanya memungkinkan modifikasi cuaca dilakukan beberapa kali saja.
“Kalau untuk anggaran OMC, kami sudah menganggarkan untuk satu bulan ini. Bahkan terus terang, ada pergeseran BTT (untuk OMC),” ucapnya saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (19/1/2026).
Ia menambahkan, pergeseran anggaran tersebut sudah mencakup pelaksanaan OMC yang sudah dilakukan sebelumnya, termasuk saat dalam sehari modifikasi cuaca dilakukan sebanyak tiga kali.
Menurut Pramono, langkah ini diambil lantaran penanganan banjir selama periode cuaca ekstrem menjadi tanggung jawab penuh Pemprov DKI Jakarta, terutama hingga setelah perayaan Imlek.
“Karena bagaimanapun persoalan hujan, penanganan banjir selama satu bulan ini sampai setelah Imlek, bagi saya, setiap hari saya kontrol sendiri,” ujarnya.
Ia memastikan anggaran yang disiapkan mencukupi untuk kebutuhan modifikasi cuaca dalam jangka waktu tersebut.
“Cukup pokoknya. Karena anggarannya tidak seperti dulu. Dulu anggarannya hanya untuk modifikasi cuaca paling 3-4-5 kali. Ini mau sebulan pun akan diambil,” tuturnya.
Meski demikian, Pramono enggan menyebut besaran anggaran darurat yang digeser untuk melaksanakan OMC tersebut.
Saat ditanya terkait mekanisme pergeseran BTT, Pramono menyatakan anggaran tersebut sudah masuk dalam APBD dan dapat digunakan untuk kebutuhan kontingensi.
“Enggak, sudah bisa. Sudah, karena sudah masuk APBD. Pokoknya inilah untuk kontingensi, supaya Jakarta jangan sampai curah hujannya seperti hari Sabtu minggu kemarin.”
Ia menegaskan, curah hujan ekstrem yang terjadi sebelumnya menjadi pelajaran penting agar langkah antisipatif bisa dilakukan lebih awal.
“Padahal kalau 200 saja itu sudah pasti banjir, tapi kemarin di Jakarta Utara ada delapan titik untuk menghitung curah hujan itu rata-rata 260,” kata dia.