Harga Emas Tembus Rp2,7 Juta, Pengamat Uninus: Mahal Secara Nominal, Tapi Kuat Secara Fundamental
January 19, 2026 11:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pasar emas domestik mencatat lonjakan harga signifikan setelah nilai jual emas per gram menyentuh angka Rp2,7 juta.

Dosen sekaligus pengamat ekonomi dari Universitas Islam Nusantara (Uninus), Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, menilai dalam waktu dekat posisi emas cenderung masih perkasa.

"Secara umum, emas cenderung masih kuat dengan potensi stagnan hingga naik tipis, bukan koreksi dalam," ujar Rizaldy, kepada Tribunjabar.id, Senin (19/1/2026). 

Menurut Rizaldy, harga emas yang tertahan di level tinggi ini bukan tanpa alasan. 

Faktor ketidakpastian global, mulai dari konflik geopolitik hingga tensi ekonomi, membuat emas tetap diburu sebagai aset aman (safe haven). 

Baca juga: Harga Emas Hari Ini Senin 19 Januari 2026, Antam, Galeri 24 hingga UBS Masih Stabil?

Selain itu, permintaan institusional dari bank sentral berbagai negara yang terus mengakumulasi emas sebagai cadangan devisa turut menopang harga secara fundamental, bukan sekadar spekulasi pasar.

Ia juga menyoroti sentimen suku bunga. Ketika pasar mulai melihat peluang penurunan suku bunga negara maju ke depan, kilau emas biasanya kembali menarik dibanding instrumen berbunga lainnya.

Meski begitu, Rizaldy mengingatkan risiko koreksi jangka pendek tetap ada, terutama jika data ekonomi global membaik signifikan atau Dolar AS menguat tajam. 

"Namun koreksinya biasanya terbatas dan bersifat teknikal, bukan pembalikan tren besar," ucapnya.

Bagi masyarakat yang ingin berinvestasi di tengah harga yang sedang tinggi ini, Rizaldy menyarankan untuk tidak gegabah melakukan pembelian sekaligus (all-in). 

Strategi terbaik saat ini adalah mencicil bertahap atau dollar cost averaging.

"Beli kecil tapi rutin, supaya tidak terjebak beli di puncak," sarannya.

Baca juga: Investasi Emas Digital Dilirik Kawula Muda, Jadi Gaya Hidup Modern untuk "Mengamankan" Masa Depan

Ia juga menyarankan agar masyarakat menempatkan emas sesuai fungsinya, yakni sebagai pelindung nilai (hedging) jangka menengah hingga panjang, bukan untuk mengejar untung harian (trading). 

Dikatakannya, porsi ideal kepemilikan emas disarankan berada di angka 10–20 persen dari total aset untuk menjaga diversifikasi.

"Harga emas saat ini memang mahal secara nominal, tapi belum tentu mahal secara fundamental. Selama ketidakpastian global masih mendominasi, emas cenderung bertahan kuat," tutup Rizaldy.

Ia menambahkan agar investor menghindari keputusan emosional, seperti takut ketinggalan (FOMO) atau panik saat terjadi koreksi kecil, terutama jika tujuannya untuk dana pendidikan atau pensiun dalam horizon 5–10 tahun ke depan. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.