Tantangan MBG di Tana Tidung Kaltara, Telur Lokal Siap, Sayur Masih Jadi PR
January 20, 2026 12:47 AM

TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Program makan bergizi gratis (MBG) diharapkan mampu menggerakkan ekonomi lokal Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara (Kaltara).

Melalui program ini, produk lokal diharapkan menjadi pemasok utama kebutuhan pangan masyarakat.

Tahapan persiapan MBG di Tana Tidung terus dilakukan. Salah satunya dengan membangun dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai pusat pengolahan makanan bergizi.

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DPPP) Tana Tidung, Rudi, menegaskan pemerintah ingin agar kebutuhan MBG disuplai dari daerah sendiri.

"Harapan pemerintah kan memang daerah itu menjadi supplier utama kebutuhan MBG supaya bisa meningkatkan perputaran ekonomi daerah juga," ujar Rudi, Senin (19/1/2026).

Maksimalkan Produk Lokal

Namun, ia mengakui potensi setiap daerah tidak selalu mampu memenuhi ekspektasi tersebut. Hingga kini, sebagian besar komoditas pertanian di Tana Tidung masih dipasok dari luar.

Untuk mendukung MBG, DPPP Tana Tidung tetap memaksimalkan produk lokal melalui pembinaan kelompok tani dan peternak.

"Kita di Tana Tidung tetap memaksimalkan produk lokal, kita juga ada pembinaan kelompok-kelompok tani dan dari teman-teman penyuluh juga sudah menyampaikan beberapa petani kita ada yang siap suplai MBG, kemudian produksi peternak lokal kita untuk telur juga sudah ada," jelasnya.

TANTANGAN MBG - Siswa SMPN Terpadu Unggulan 1 Tana Tidung saat makan bersama di asrama sekolah Jalan Perintis, Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kaltara, gambar diambil Kamis (16/1/2025). DPPP Tana Tidung sebut ketersediaan produk pangan lokal untuk MBG masih menjadi PR besar.
TANTANGAN MBG - Siswa SMPN Terpadu Unggulan 1 Tana Tidung saat makan bersama di asrama sekolah Jalan Perintis, Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kaltara, gambar diambil Kamis (16/1/2025). DPPP Tana Tidung sebut ketersediaan produk pangan lokal untuk MBG masih menjadi PR besar. (ARSIP - TribunKaltara.com/Rismayanti)

Baca juga: DPPP Tana Tidung Pastikan Telur Lokal Siap Suplai MBG, Kebutuhan Lainnya Perlu dari Luar Daerah 

Rudi menilai kesiapan masyarakat sebenarnya sudah ada, tetapi kapasitas produksi masih terbatas.

"Sebenarnya kesiapan masyarakat dengan produk yang sudah ada itu bisa saja, cuma kapasitasnya itu mencukupi atau tidak," ungkapnya.

Ia menambahkan, DPPP Tana Tidung yang tergabung dalam Satgas MBG akan mengutamakan penyerapan produk lokal.

"Kebetulan juga dinas kita masuk dalam satgas MBG jadi kita nanti akan mengutamakan produk lokal itu terserap dulu, kalaupun ada produk dari luar itu dengan catatan bahwa produk lokal harus terserap 100 persen kalau bisa," tegasnya.

Terkendala Sayur

Untuk komoditas tertentu seperti telur, peluang pemenuhan dari peternak lokal cukup besar. Namun untuk hortikultura, ketersediaan dan variasi sayur masih terbatas.

"Kalau untuk telur mungkin bisa saja dari peternak lokal, tapi untuk produk hortikultura seperti sayur kadang variasinya yang lokal agak kurang, kemudian kebutuhannya juga mungkin belum mencukupi," jelas Rudi.

Kebutuhan MBG bersifat harian sehingga tidak bisa menunggu siklus panen bulanan. Meski begitu, Rudi tetap optimis program ini bisa berjalan dengan baik.

"Ada optimisme sebetulnya, cuma tinggal nanti kita selaku satgas di daerah yang banyak melakukan monitoring evaluasi terutama terkait masalah keamanan pangannya," ujarnya.

Pengawasan keamanan pangan dilakukan secara kolaboratif lintas sektor, melibatkan Badan Gizi Nasional (BGN) dan OPD terkait.

Rudi menyadari kondisi Tana Tidung berbeda dengan daerah di Pulau Jawa yang hampir seluruh kebutuhan pangannya tersedia secara lokal.

Namun ia berharap MBG dapat konsisten berjalan dan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.

"Harapan kita sih MBG ini bisa eksis secara aturan dan bisa eksis juga eksekusinya, tidak hanya aktif di awal saja tapi bisa konsisten," pungkasnya.

Saat ini, jumlah penerima manfaat MBG di Tana Tidung diperkirakan lebih dari 4.000 orang. Namun data resmi dan kebutuhan pangan masih menunggu draft satuan menu dari BGN.

(*)

Penulis Rismayanti

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.