Hypnodent, Inovasi Digital Unpad untuk Reduksi Kecemasan Pasien Gigi
January 19, 2026 11:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG -  Ketakutan dan kecemasan pasien saat menjalani perawatan gigi menjadi titik berangkat lahirnya Hypnodent, sebuah inovasi teknologi kesehatan digital dari Universitas Padjadjaran. 

Tim pakar menilai Hypnodent layak didorong ke tahap pendanaan hilirisasi, dengan catatan adanya penyempurnaan lanjutan pada aspek teknis, regulatif, dan komersial.

Tim pengusul Hypnodent dipimpin oleh Dr. Gilang Yubiliana, drg., M.Kes., FISDPH, FISPD sebagai ketua, dengan anggota Dr. Andri Abdurrahman, M.T. dan Dr. Mira Suryani, S.Pd., M.Kom. 

Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin di Unpad yang menggabungkan kedokteran gigi, fisika, linguistik, dan teknik informatika.

Baca juga: Panduan Praktis Memilih Klinik Gigi Terbaik Sesuai Kebutuhan dengan Dokter Gigi Berpengalaman

“Hypnodent dikembangkan sebagai perangkat terapi digital untuk membantu relaksasi dan mengurangi kecemasan pasien kedokteran gigi. Teknologi ini memadukan Virtual Reality (VR), sensor Elektroensefalografi (EEG) untuk memantau gelombang otak, serta algoritma hipnosis berbasis komunikasi terapeutik,” kata Mira secara virtual, Senin (19/1/2026).

Mira Suryani, menjelaskan bahwa pengembangan Hypnodent mengalami evolusi signifikan. Awalnya, pendekatan hipnosis dilakukan melalui media suara.

Namun, riset kemudian berkembang ke arah pemanfaatan VR untuk menciptakan pengalaman yang lebih imersif.

“Virtual reality bekerja langsung pada sistem sensorik. Di sini kami mengombinasikan cahaya, suara, dan persepsi yang semuanya merupakan bentuk frekuensi. Frekuensi-frekuensi ini diselaraskan dengan komunikasi hipnotik, sehingga tercipta ruang kesadaran imersif yang memperkuat regulasi neurobiologis secara lebih presisi,” ujar Mira.

Ia menegaskan bahwa VR dalam Hypnodent bukan sekadar teknologi hiburan. 

“Ini bukan VR untuk game atau hura-hura, tetapi VR sebagai media terapi. Lingkungan virtual membantu pasien lebih fokus dan rileks selama perawatan gigi,” katanya.

Dalam kondisi imersif, perhatian pasien tidak lagi terpecah oleh rasa takut, bunyi alat medis, atau suasana klinik yang menegangkan. 

Fokus atensi yang terjaga membuat sugesti hipnosis menjadi lebih efektif, sehingga kecemasan dan persepsi nyeri dapat ditekan secara signifikan.

“VR ini bukan gimik, ia berfungsi sebagai alat bantu klinis berbasis sains yang aman dan terukur untuk mendukung terapi hipnosis,” tambah Mira.

Saat ini, prototipe Hypnodent menggunakan satu visual utama, yakni pemandangan persawahan yang dilihat dari sudut pandang atas, seolah-olah pengguna berada pada posisi burung yang terbang rendah. 

Visual tersebut dirancang dengan elevasi yang landai, gradasi warna yang lembut, serta pencahayaan pagi hari agar nyaman di mata dan menimbulkan rasa tenang.

“Visual ini dipadukan dengan audio hipnotik yang telah dirancang secara khusus, bekerja sama dengan sound engineer untuk memastikan frekuensi suara berada pada rentang yang menenangkan dan selaras dengan respons otak pengguna,” ucapnya.

Ke depan, tim peneliti merencanakan pengembangan visual yang lebih beragam dan bersifat adaptif. 

Pasien nantinya tidak hanya disuguhi satu jenis pemandangan, tetapi dapat diarahkan pada visual yang paling sesuai dengan preferensi dan respons otaknya.

“Setiap orang punya persepsi dan kesukaan yang berbeda. Ada yang lebih rileks dengan pemandangan sawah, pantai, hutan, atau perbukitan. Sistem akan mendeteksi gelombang otak melalui EEG, lalu menyesuaikan visual yang ditampilkan,” jelas Mira.

Pengembangan ini juga akan melibatkan kecerdasan buatan dan machine learning, sehingga sistem dapat bekerja secara otomatis. 

Ketika gelombang otak menunjukkan pasien sudah cukup rileks dan siap menerima perawatan, sistem akan berhenti dengan sendirinya.

Baca juga: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Maranatha Gelar Pengabdian Masyarakat Rayakan Dies Natalis

Dari sisi teknis, penggunaan Hypnodent dibatasi pada durasi 15 hingga 20 menit, mengikuti standar internasional penggunaan perangkat VR. Pembatasan ini dilakukan untuk menjaga kenyamanan dan keamanan pengguna.

“Penggunaan VR terlalu lama bisa menimbulkan rasa panas di area wajah, pusing, dan kelelahan mata. Oleh karena itu, 15–20 menit adalah durasi optimal,” kata Mira.

Hal ini juga sejalan dengan durasi efektif komunikasi hipnotik serta respons gelombang otak yang terekam selama terapi. 

Menurut Dr. Gilang Yubiliana, hasil perekaman EEG menunjukkan bahwa Hypnodent tidak membuat pasien tertidur, melainkan berada dalam kondisi rileks namun tetap sadar.

“Yang turun frekuensinya hanya di bagian frontal otak, sementara bagian lain tetap aktif. Pasien tetap aware, bisa mendengar instruksi, berkumur, dan mengikuti arahan dokter gigi,” jelasnya.

Dengan penilaian positif dari tim pakar Kemdiktisaintek, Hypnodent kini bersiap melangkah ke tahap hilirisasi sebagai produk teknologi kesehatan berbasis riset. 

Penyempurnaan pada aspek teknis, regulasi, dan komersial menjadi pekerjaan lanjutan agar inovasi ini dapat diimplementasikan secara luas di layanan kesehatan gigi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.