TRIBUNNEWSMAKER.COM - Tim SAR berhasil menemukan jenazah yang diduga kuat merupakan salah satu pramugari pesawat ATR 42-500, yakni Florencia Lolita atau Esther Aprilita.
Penemuan terjadi di kawasan pegunungan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, setelah pencarian intensif penuh tantangan medan terjal dan cuaca ekstrem.
Kondisi jenazah memprihatinkan, namun temuan ini menjadi titik terang bagi upaya identifikasi dan keluarga yang menanti kabar pasti.
Baca juga: Misteri Smartwatch Farhan Co-Pilot Pesawat ATR 42-500, Langkah Kaki Terus Bertambah hingga Malam
Satu korban Pesawat ATR 42-500 ditemukan di Gunung Bulusaraung, Kecamatan Balocci, Pangkep, Senin (20/1/2026).
Korban ditemukan berjenis kelamin perempuan.
Namun belum diketahu identitas perempuan yang baru ditemukan.
Dari daftar nama korban Pesawat ATR 42-500, ada dua perempuan.
Yaitu Florencia Lolita dan Esther Aprilia S.
Keduanya merupakan pramugari Pesawat ATR 42-500.
Nama Florencia Lolita dan Esther Aprilia S berada di nomor 6 dan 7 papan pengumuman informasi di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.
Delapan korban lainnya ialah Capt Andy Dahananto, Sic FO M Farhan Gunawan, Foo Hariadi, EOB Dwi Murdiono, Mr Deden, Mr Ferry, dan Mr Yoga.
Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengungkapkan, penemuan korban itu berdasarkan laporan langsung dari tim SAR yang berada di lokasi kejadian.
“Hari ini kembali ditemukan satu korban. Kira-kira 15 menit yang lalu,” kata Syafii saat konferensi pers di Kantor Basarnas Makassar, kawasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Senin siang.
Total korban yang telah ditemukan hingga hari ketiga pencarian berjumlah dua orang.
Sebelumnya, satu korban lebih dahulu ditemukan pada hari sebelumnya, di lereng sedalam 200 meter.
Sementara, korban kedua ditemukan pada kedalaman 500 meter.
“Kondisi lokasi sangat terjal, hampir tegak lurus. Kedalamannya cukup ekstrem dan didominasi bebatuan,” ungkapnya.
Saat ini korban telah berada bersama tim penyelamat di lokasi, namun proses evakuasi masih menghadapi kendala cuaca dan medan.
“Korban sudah bersama rescuer, namun evakuasi masih menunggu kondisi yang memungkinkan,” katanya.
Tim SAR saat ini masih mengandalkan kombinasi operasi udara dan darat dalam proses pencarian dan evakuasi.
Awalnya, evakuasi direncanakan menggunakan helikopter karena jarak tempuh dari lokasi ke bandara relatif dekat, kurang dari 10 menit.
Namun, kondisi cuaca yang tidak mendukung membuat evakuasi udara belum dapat dilakukan secara maksimal.
“Cuaca menjadi tantangan utama. Base cloud rendah dan di ketinggian kondisinya lebih tebal,” jelasnya.
Selain korban, tim SAR juga menemukan sejumlah bagian pesawat serta benda-benda yang diduga milik korban.
Seluruh temuan tersebut akan dikumpulkan untuk kemudian diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan pihak kepolisian sesuai kewenangannya.
Hingga saat ini, lebih dari 1.200 personel SAR gabungan masih dikerahkan dan pencarian dibagi ke dalam empat sektor.
Basarnas juga tengah berkoordinasi dengan BMKG dan BNPB untuk kemungkinan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca guna mempercepat proses pencarian dan evakuasi.
“Kami masih berada dalam fase golden time. Mohon doa agar seluruh korban dapat ditemukan,” pungkas Kepala Basarnas.
(TribunNewsmaker.com/Tribun Timur)