BANJARMASINPOST.CO.ID - Imbas hebohnya buku memoar Aurelie Moeremans berjudul Broken Strings, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ikut bertindak.
KPI sampai merasa perlu untuk mengingatkan lembaga penyiaran agar tidak memberi ruang apapun bagi terduga pelaku child grooming yang dialami Aurelie Moeremans di masa remajanya.
Keadaan ini membuat sosok Roby Tremonti, mantan suami Aurelie Moeremans ikut tersudut.
Untuk diketahui, Child grooming adalah proses manipulasi psikologis yang disengaja, di mana pelaku membangun kepercayaan, kedekatan emosional, dan ketergantungan pada anak, dengan tujuan mengeksploitasi emosional, psikologis hingga seksual.
Komisioner KPI Pusat, Aliyah dalam keterangan resminya mengecam segala bentuk manipulasi, relasi tidak setara dan praktik child grooming terutama yang bertujuan untuk mengeksploitasi secara seksual maupun emosional.
Baca juga: Larang Main Sinetron, El Rumi Persilakan Syifa Hadju Jadi IRT, Ogah Tiru Maia Estianty-Ahmad Dhani
“Karena itu, kami meminta lembaga penyiaran untuk tidak memberi panggung bagi pelaku yang terindikasi melakukan tindakan kejahatan tersebut,” kata dia ditulis Senin (19/1/2026).
Ia menjelaskan, langkah ini untuk melindungi anak di masa depan.
Dengan memberikan ruang pada pelaku maka akan muncul narasi yang bisa menormalkan eksploitasi.
Perlindungan anak sendiri telah diatur dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) KPI tahun 2012.
“Kami ingin memastikan bahwa tayangan di lembaga penyiaran benar-benar aman (safe) dan nyaman (comfort) bagi anak-anak dan tentunya bagi keluarga Indonesia,” tegasnya.
KPI khawatir dengan hadirnya pelaku child grooming dapat memicu trauma berulang kepada korban.
“Ini bisa dianggap sebagai hal yang wajar atau lumrah, jangan pernah memberikan ruang bagi orang-orang yang diduga melakukan perbuatan jahat terhadap anak,” tegas Aliyah.
Dalam kesempatan ini, KPI Pusat juga mendukung langkah sejumlah pihak untuk menyelidiki kasus ini hingga tuntas.
Isu child grooming kembali hangat usai memoar bertajuk Broken Strings yang ditulis oleh artis Aurelie Moeremans viral di media sosial.
E-book yang dibagikan artis kelahiran Belgia ini berisi tentang pengalaman paling pahit dan gelap dalam hidupnya.
Aurelie pernah menjadi korban child grooming pada usia 15 tahun oleh seorang pria dewasa.
banyak yang menduga pelaku yang dimaksud dalam memoar Aurelie adalah Roby Tremonti, mantan suami Aurelie.
Roby menikahi Aurelie saat usia sang artis 18 tahun.
Imbauan KPI membuat Roby Tremonti tersudut.
Roby Tremonti membongkar masa lalu aktris Aurelie Moeremans setelah dirinya terseret viralnya Buku Broken Strings.
Bahkan, Roby Tremonti menegaskan bahwa dirinya memang benar menikahi Aurelie Moeremans, pada 10 Oktober 2011.
Namun, menurut Riby, dia menikahi Aurelie Moeremana, saat artis wanita itu sudah cukup umur dan memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Ditegaskannya, saat itu Aurelie berusia 18 tahun.
"Jadi saya menikahi Aurelie saat dia berusia 18 tahun dua bulan, tepatnya kami menikah pada 10 Oktober 2011," kata Roby Tremonti ketika ditemui di kawasan Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Selasa (13/1/2026).
Pernyataan ini sekaligus Roby membantah dirinya melakukan grooming atau praktik pedofilia, saat menikahi Aurelie.
Tudingan tersebut secara tak langsung dialamatkan kepadanya setelah Aurelie Moeremans merilis buku memoarnya berjudul "Broken Strings".
Pasalnya, wanita blasteran Indonesia-Belgia ini mengklaim dinikahi Roby saat masih berusia 15 tahun.
"Saya dituduh grooming anak 15 tahun. Padahal faktanya, saat kami dekat, dia sudah punya pengalaman pacaran di Eropa. Kultur di sana beda," ucap pria berusia 45 tahun itu.
"Jadi jangan giring opini seolah saya ini predator yang memangsa anak kecil," tambahnya.
Roby meminta publik untuk tidak menelan mentah-mentah isi buku yang beredar.
Menurutnya, tuduhan pedofilia adalah hal serius.
Ia memiliki bukti kuat bahwa hubungan mereka didasari rasa suka sama suka orang dewasa, bukan paksaan terhadap anak di bawah umur.
Roby menceritakan berdasarkan penelusuran di media sosial, hasil perbincangan Aurelie dalam podcast, menyebut kalau Aurelie sudah memiliki pengalaman berciuman saat masih berusia 13 tahun di Belgia.
"Itu hal biasa di sana, kultur Eropa. Jadi, narasi saya memanipulasi anak polos umur 15 tahun itu tidak tepat," jelasnya.
Roby pun membeberkan sebelum menikah pada Oktober 2011, ia dan Aurelie sempat menjalin hubungan asmara. Saat itu usia Aurelie sudah sekitar 16 tahun.
"Secara kognitif dia sudah mengetahui tentang pendewasaan. Menurut pendapat saya dan keyakinan saya, ya dia bukan anak kecil yang gak tahu apa-apa," ujar Roby Tremonti.
Roby Tremonti akhirnya memberikan klarifikasi resmi terkait tudingan teror yang dilayangkannya kepada presenter Hesti Purwadinata.
Isu ini bermula setelah Hesti secara terbuka mendukung memoar Aurelie Moeremans berjudul "Broken Strings" dan menuliskan komentar agar "mantan Aurelie", yang merujuk kepada Roby, tidak lagi diberi panggung di dunia hiburan.
Menanggapi hal tersebut, Roby membantah keras narasi adanya ancaman kasar atau tindakan teror.
Berikut adalah poin-poin klarifikasi Roby Tremonti:
1. Kronologi Menghubungi Suami Hesti
Roby menegaskan bahwa dirinya tidak langsung menyerang Hesti, melainkan menghubungi suaminya, Edo Borne, sebagai bentuk rasa hormat antar teman lama.
"Jangan dipelintir tentang timeline. Seingat saya, saya DM Edo Borne karena dia suami Hesti. Jelas narasi yang beredar melibatkan nama Hesti Purwadinata," ujar Roby saat ditemui di kediamannya di kawasan Cibinong, Bogor, Selasa (13/1/2026).
2. Isi Pesan yang Diklaim Sebagai "Peringatan Hukum"
Dalam keterangannya, Roby membacakan isi pesan DM Instagram yang dikirimkannya kepada Edo Borne. Pesan tersebut berisi keberatan Roby atas tindakan Hesti yang ikut menyebarkan tautan buku Aurelie.
"Do, gimana kabar? Gue dapat kabar dari teman gue Hesti ikut-ikutan sebarin link bukunya Aurelie. Sori ya Bro, terpaksa gue capture. Di buku itu memang nggak mention gamblang nama gue, tapi penggiringan opini sepenuhnya ke gue. Kalau memang sampai peak (ramai), gue akan bawa ke jalur hukum Bro," kutip Roby membacakan pesannya.
3. Kecewa dengan Seruan "Boikot" Hesti Purwadinata
Roby merasa pernyataan Hesti di media sosial sangat menyakitkan karena berpotensi mematikan mata pencahariannya di dunia seni peran.
"Wajar saya merasa sakit hati? Sangat wajar. Hesti kenal saya, pernah syuting bareng, tapi dia memvalidasi kalimat 'Aku sungguh berharap dia tidak pernah lagi diberi panggung'. Pekerjaan saya di dunia syuting, berarti dia ingin saya diboikot, kan?" tuturnya dengan nada kecewa.
4. Bantahan Penggunaan Kata Kasar
Karena pesan di Instagram tidak kunjung dibalas, Roby berinisiatif menghubungi Edo melalui WhatsApp. Ia menekankan bahwa komunikasi tersebut dilakukan dengan bahasa yang sopan.
"Saya tulis: 'Gue tunggu feedback-nya ya Bro. Gue lewat lo karena gue masih respek sama lo sebagai suami Hesti. Tolong feedback-nya. Oke Bro' lengkap dengan emoji tangan menyembah. Jadi saya sama sekali tidak meneror," tegas Roby.
5. Langkah Hukum "Apabila Diperlukan"
Terkait kemungkinan melaporkan masalah ini ke polisi, Roby menyatakan bahwa jalur hukum adalah pilihan terakhir yang akan diambil jika situasi semakin tidak terkendali.
"Saya katakan 'apabila diperlukan'. Digarisbawahi ya, bukan berarti saya pasti ke jalur hukum, tapi jika memang situasinya menuntut demikian. Dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) yang sangat jelas," pungkasnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Tribunnews.com)