TRIBUNMANADO.CO.ID - Kalangan pengusaha di Manado memberi beberapa catatan penting terkait direct call dari Sulawesi Utara ke negara-negara Asia Timur seperti Tiongkok, Korea Selatan dan Jepang.
Direct call dimaksud merujuk pada pelayaran atau penerbangan langsung dari pelabuhan/bandara asal di Indonesia ke negara tujuan ekspor tanpa transit melalui pelabuhan perantara seperti Jakarta atau Singapura
Hal ini bertujuan mempercepat waktu tempuh dan menekan biaya logistik serta menjaga kualitas produk segar.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sulawesi Utara Nicho Lieke mengatakan, ekspor langsung ke Tiongkok punya tantangan terkait volume.
Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana bisa memenuhi standar volume ekspor.
"Minimal 1.000 kontainer per bulan dan itu tidak mudah," kata Lieke seusai pertemuan Dubes Luar Biasa RI untuk China dan Mongolia Djauhari Oratmangun bersama perwakilan UMKM di Megamall Manado, Sulawesi Utara, Senin 19 Januari 2026.
Ia memberi contoh PT Futai yang pabriknya di Kota Bitung. Selama ini perusahaan tersebut konstan ekspor produk kertas ke Tiongkok dengan volume rata-rata 300 hingga 1.000 kontainer per bulan.
Sebaliknya, kapal yang sama membawa masuk produk aneka buah impor dari Negeri Tirai Bambu.
"Dengan begitu sudah ekspor rutin. Tantangannya memang di situ," katanya Komisaris Utama PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk ini.
PT Jobubu Jarum Minahasa adalah produsen minuman Cap Tikus 1978 yang telah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 6 Januari 2023 dengan kode emiten BEER.
Selain Cap Tikus 1978, mereka juga memproduksi minuman Daebak Soju dan Daebak Sparks.
Lalu bagaimana dengan peluang ekspor UMKM?
Nicho Lieke mengatakan, ekspor perdana langsung secara mandiri bagi UMKM tidak mudah.
Kalau UMKM ekspor langsung secara mandiri berat karena terkendalanya pada volume.
"Karena itu, dia bisa ada semacam papa angkat, ikut gabung ke paket yang besar. Jadi misalnya ada olahan ikan, kelapa, gabung sama Cap Tikus dari kita dan lain-lain," kata Lieke.
Katanya, kapal sekali jalan membawa minimal 700 hingga 1.000 kontainer. "Jika terisinya di bawah itu, sulit substain (bertahan)," katanya.
Karena itu, Lieke menyatakan untuk mewujudkan direct call butuh kolaborasi antara pemerintah, pengusaha dan pelaku UMKM.
Selanjutnya, ia membeber, tantangan lainnya ialah biaya logistik. Di mana, biaya logistik dari Jakarta ke Manado dua kali lebih mahal dari Shanghai ke Jakarta.
"Kemudian, lama waktu ekspor ke China dari Manado 45 hari. Kalau dia ekspor ikan, produknya sudah beda kualitasnya. Ini yang harus dipecahkan juga," ungkapnya.
Nicho Lieke mengingatkan pelaku UMKM untuk optimistis tapi realistis.
Katanya, pasar ekspor ke Tiongkok bisa dibilang susah-susah gampang. Pasalnya, standarnya yang tinggi.
"Tapi kalau sudah bisa masuk, ada pembeli, terbuka peluang lainnya," katanya.
Ia menambahkan bahwa ekspor merupakan proses jangka panjang yang tidak bisa diharapkan langsung menghasilkan keuntungan besar.
Tantangan lainnya ialah permintaan diskon tinggi dari pembeli hingga kompleksitas proses pendaftaran GACC merupakan bagian dari dinamika yang harus dihadapi UMKM.
“Karena itu, UMKM perlu didampingi dan disarankan memiliki kakak angkat atau mitra usaha yang lebih berpengalaman agar dapat masuk ke pasar China secara berkelanjutan,” ujarnya.
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh atas Republik China dan Mongolia, Jauhari Oratmangun, mengajak perwakilan pelaku UMKM di Sulawesi Utara berdialog.
Dialog berlangsung dalam nuansa akrab, ngopi bareng di Megamall Manado, Senin 19 Januari 2026.
Dalam bincang-bincang yang dipandu Amelia Tungka, Direksi Megamas, Jauhari mengajak UMKM untuk mendorong kapasitas sehingga produknya bisa diekspor ke China maupun negara lainnya.
Dengan populasi terbesar di dunia, kata Jauhari, beragam produk dari Indonesia punya peluang.
Apalagi produk makanan. "Produk seperti sarang walet, kelapa dan turunannya, hasil perikanan seperti abon ikan sangat laris," kata Jauhari.
Menurut dia, pelaku UMKM harus mencari informasi dan berani membuka jejaring.
"Kami di Kedubes China punya Windows of Indonesia. Di situ produk-produk unggulan kita pamerkan," katanya.
Ditambahkannya, pasar China terus berkembang, khususnya untuk produk makanan dan minuman. Produk kerajinan Indonesia juga cukup diminati.
"Namun pelaku usaha harus benar-benar memperhatikan aspek harga dan melakukan negosiasi secara cermat, termasuk dalam menentukan term of payment dengan calon pembeli,” ujar Jauhari.
Ia bilang, untuk bisa masuk pasar Tiongkok, pelaku UMKM harus paham regulasi dan alur. "Karena itu jangan sungkan minta pendampingan dari Bea Cukai, asosiasi seperti Apindo dan BPOM," jelasnya.
Kepala Kanwil Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara Erwin Situmorang menambahkan, pasar China sangat besar dan itu merupakan peluang.
"Tapi kita harus memenuhi berbagai syarat seperti GACC, memastikan ada buyer dan lainnya," katanya.
GACC adalah General Administration of Customs of the People’s Republic of China atau Administrasi Umum Kepabeanan China (Tiongkok), lembaga pemerintah yang mengatur kepabeanan, karantina, inspeksi, dan keamanan pangan untuk produk impor dan ekspor.
Bagi eksportir produk pangan ke Tiongkok, Registrasi GACC adalah proses pendaftaran wajib yang memastikan produk memenuhi standar keamanan Tiongkok.
Erwin juga menyoroti peluang optimalisasi jalur logistik udara. Ketersediaan kargo penerbangan internasional di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengiriman ekspor.
Khususnya untuk produk bernilai tambah dan berorientasi waktu pengiriman cepat.
Yani Cahyani, perajin produk kain Ecoprint dan aneka aksesoris mengungkapkan, pertemuan ini sangat berharga. Mereka diberi gambaran bagaimana membuka peluang ekspor ke Tiongkok.
"Kita bisa tahu produk apa yang dibutuhkan, apa yang harus disiapkan, mekanisme dan tatalaksananya," katanya.
Amelia Tungka yang menginisiasi ngopi bareng ini bilang, pertemuan ini sebagai wujud dukungan memperkuat kesiapan UMKM Sulawesi Utara.
"Bagaimana teman-teman UMKM memanfaatkan momentum pertumbuhan ekspor dan memperluas akses ke pasar internasional, khususnya ke China.
Dalam kegiatan ini, UMKM memamerkan produk unggulan yang berpotensi ekspor, antara lain olahan ikan dan hasil laut, wastra lokal Sulawesi Utara, vanili, serta kerajinan berbahan dasar alam seperti kelapa. (ndo)