Duka Keluarga Farhan, Co-Pilot Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh, Ibu Syok dan Dilarikan ke Rumah Sakit
January 20, 2026 11:54 AM

TRIBUNBENGKULU.COM - Duka mendalam menyelimuti keluarga Farhan Gunawan, co-pilot pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Minggu (18/1/2026).

Kabar kecelakaan tersebut tidak hanya mengguncang dunia penerbangan, tetapi juga meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban, termasuk kondisi kesehatan ibu Farhan yang dilaporkan mengalami syok hingga harus dilarikan ke rumah sakit akibat tekanan psikologis.

Suasana Haru di Posko Keluarga Korban

Suasana haru dan penuh kecemasan menyelimuti posko keluarga penumpang di Kantor Divisi Security Bandara Sultan Hasanuddin, Maros.

Satu per satu keluarga korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport (IAT) berdatangan, membawa doa, harapan, serta keteguhan hati di tengah ketidakpastian.

Di antara keluarga yang hadir, tampak rombongan keluarga Farhan Gunawan, co-pilot pesawat nahas yang jatuh di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Kehadiran mereka menjadi gambaran nyata bahwa tragedi ini bukan sekadar angka dan data, melainkan menyentuh kehidupan banyak orang.

Perjalanan Jauh Keluarga dari Malili

Rombongan keluarga Farhan tiba di Makassar sejak dini hari.

Mereka menempuh perjalanan jauh dari Malili, Kabupaten Luwu Timur, demi mendapatkan kabar langsung terkait pencarian dan kondisi Farhan.

"Satu mobil dari Malili," ucap Paman Farhan kepada Tribun-Timur.Com, Haji Wahyu.

Perjalanan panjang tersebut dilalui dengan perasaan campur aduk antara harap, cemas, dan doa yang terus dipanjatkan sepanjang jalan.

Orang Tua Tak Hadir, Ibu Farhan Dilarikan ke Rumah Sakit

Namun, tidak semua anggota keluarga Farhan dapat hadir di posko.

Kedua orang tua Farhan tidak ikut serta dalam rombongan keluarga yang datang ke Bandara Sultan Hasanuddin.

Ayah Farhan harus tetap mendampingi sang ibu yang kondisinya menurun sesaat setelah tiba di Makassar.

"Ibu farhan sementara sedang dirawat, tensinya naik," ucapnya.

Ibu Farhan diketahui dilarikan ke Rumah Sakit AURI karena kondisi kesehatannya memburuk akibat tekanan psikologis yang berat setelah menerima kabar tentang kecelakaan pesawat tersebut.

Kenangan tentang Anak yang Selalu Berprestasi

Di tengah suasana duka, Haji Wahyu mengenang sosok keponakannya sebagai anak yang sejak kecil telah menunjukkan keunggulan dan semangat tinggi dalam belajar.

"Setauku dia itu selalu juara satu terus di Athirah," ucapnya.

Prestasi Farhan tidak hanya terbatas pada nilai akademik.

Ia juga dikenal aktif dan menonjol dalam berbagai kegiatan organisasi selama masa sekolah.

Selain cemerlang di bidang akademik, Farhan dikenal sebagai sosok pemimpin.

Ia pernah dipercaya mengemban amanah sebagai ketua OSIS, baik di tingkat SMP maupun SMA Athirah Makassar.

Pengalaman tersebut membentuk karakter Farhan sebagai pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, yang kelak membawanya ke dunia penerbangan.

Cita-cita Menjadi Pilot Sejak SMA

Menurut Haji Wahyu, profesi pilot bukanlah pilihan yang muncul secara tiba-tiba dalam hidup Farhan.

Cita-cita tersebut telah tumbuh sejak Farhan duduk di bangku SMA.

"Dari sejak SMA ada niatnya jadi pilot," ucapnya.

Keseriusan itu diwujudkan dengan menempuh pendidikan penerbangan hingga akhirnya Farhan berhasil mengantongi lisensi sebagai penerbang.

Sepengetahuan keluarga, Farhan mengurus dan memperoleh lisensi penerbangannya sekitar dua tahun lalu, sebuah pencapaian besar yang menjadi kebanggaan keluarga.

Jejak Pendidikan dan Kehidupan di Makassar

Farhan lahir di Desa Malili, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur.

Ia kemudian menempuh pendidikan SMP dan SMA di Athirah Makassar.

Selama tinggal di Makassar, sejak masa sekolah hingga kini, Farhan menetap di salah satu kompleks di Jalan Urip Sumoharjo.

Anak Sulung dan Teladan bagi Adik-adiknya

Farhan merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.

Dua adiknya kini tengah menempuh pendidikan masing-masing.

Satu adiknya sedang menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, sementara satu adik lainnya masih duduk di bangku SMA Telkom.

Di mata keluarga, Farhan bukan hanya seorang kakak, tetapi juga teladan bagi adik-adiknya.

Panggilan Masa Kecil yang Tak Terlupakan

Di akhir cerita, Haji Wahyu menyebut satu kenangan kecil yang terasa begitu personal, yakni panggilan masa kecil Farhan yang akrab di telinga keluarga.

"Nama panggilannya waktu kecil Faang," ucap Haji Wahyu.

Kini, panggilan sederhana itu menggema sebagai bagian dari kenangan tentang seorang anak berprestasi, pemimpi langit, dan kebanggaan keluarga yang namanya tercatat dalam tragedi penerbangan yang mengguncang banyak hati.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.