POSBELITUNG.CO - Tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, menyisakan duka dan tanda tanya besar.
Di tengah pencarian korban yang masih berlangsung, ayah salah satu korban, Esther Aprilita Sianipar, mengungkap kejanggalan rute penerbangan putrinya yang terakhir terdeteksi berada di Yogyakarta, padahal selama ini ia dikenal stand by di Jakarta.
Keluarga pun kini hanya bisa berharap pada keajaiban, sambil menanti kabar di tengah ketidakpastian.
Berikut ulasan lengkapnya
Jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026) menjadi duka yang mendalam.
Baca juga: Kalender Jawa Februari 2026 Lengkap Weton dan Hijriah, Awal Puasa Ramadhan 1447 H Jatuh Tanggal Ini
Sebab, sampai saat ini Tim SAR baru berhasil menemukan satu korban dalam kondisi meninggal dunia.
Jenazah korban kabarnya terdeteksi berada di tebing gunung dan masih dalam proses evakuasi.
Tak cuma itu, Tim SAR gabungan juga berhasil menemukan ekor dan puing-puing pesawat lainnya di bagian puncak serta tebing Gunung Bulusaraung pada Minggu (18/1/2026).
Sementara Tim SAR masih terus mencari keberadaan korban lainnya, keluarga salah satu korban, Esther Aprilita Sianipar menanti keajaiban.
Orangtua Esther yang tinggal di kawasan Rancamaya, Desa Bojong Koneng Ciherang, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor pun mengurai cerita.
Ibunda Esther, J Siburian mengaku bahwa ia masih berkirim pesan dengan sang putri pada Jumat (16/1/2026).
Dalam chat tersebut, Esther mengabari sang mama kalau dia sedang berada di Jogja dalam rangka tugas.
Esther pun aktif membagikan lokasinya ke sang mama.
"Chat terakhir hari Jumat malam. Kami masih chatting. Dia bilang dia di Jogja. Biasanya kalau seperti itu komunikasinya 'aku sudah di sini mah, di sini mah'," ujar J Siburian.
Namun pada hari kejadian yakni pada Sabtu, Esther sama sekali tak ada kabar.
Diungkap ayah Esther, Adi Sianipar, putrinya tidak membalas chat-nya satu hari kemudian.
Padahal di hari Sabtu itu Adi mengaku ingin menjemput Esther pulang sama-sama ke Bogor.
"Terakhir komunikasi kemarin saya jam 12 WA dia karena saya lagi ke Jakarta, dia kan kos di Jakarta, jadi saya mau jemput dia kalau dia mau pulang. Ternyata jam 12 itu enggak ada balasan dari dia, HP-nya udah enggak aktif," pungkas Adi dalam wawancaranya di Kompas TV.
Hingga akhirnya pada Sabtu sore, Adi dikabari oleh perusahan tempat Esther bekerja.
Bahwa pesawat yang ditumpangi Esther hilang kontak.
"Saya dihubungi sama kantor IAT tempat dia bertugas. Mulai ditelepon tapi karena lagi di jalan, enggak saya angkat. Dia WA, bahwasanya pesawat yang ditumpangi Esther dari Jogja-Makassar lost contact," imbuh Adi.
Lebih lanjut, Adi pun mengurai curhatan terakhir Esther sebelum jadi korban pesawat jatuh.
Kata Adi, Esther sempat cerita soal alasannya tak bertugas dari pertengahan hingga akhir Desember.
"Dari pertengahan bulan 12 kan dia enggak terbang, dari pertengahan Desember sampai akhir Desember. Karena pesawatnya itu lagi mau dipasang kamera di bawah pesawat itu katanya, kamera cctv, jadi mereka enggak terbang. Jadi masuk Januari mereka terbang lagi," kata Adi.
Terkait dengan alasan Esther bisa ada di Jogja, Adi mengaku tidak tahu.
Karena yang ia tahu, putrinya itu stand by di Jakarta.
"Dia kan stand by di Halim, saya enggak tahu juga kenapa dari Jogja ke Makassar," ujar Adi.
Hingga kini Adi masih optimis Esther bisa dapat keajaiban.
Keluarga masih harap-harap cemas menanti kabar soal kondisi Esther.
"Kami berharap masih ada mukjizat. Karena sampai sekarang kan belum ditemukan. Kami berharap mereka ditemukan dalam keadaan selamat," pungkas Adi
(Kompastv/Tribunnews)