SRIPOKU.COM, SEKAYU - Di tengah sunyi Desa Tebing Bulang, Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), suara gemericik air panas dan aroma kedelai rebus kini menjadi tanda kehidupan baru di sudut desa itu.
Dari sebuah bangunan sederhana di halaman rumahnya, Haris, Kepala Desa Tebing Bulang, setiap pagi sibuk mengolah kedelai menjadi tahu.
Usaha kecil ini bukan sekadar bisnis, tetapi lahir dari kepedulian dan kebutuhan sehari-hari.
Awalnya, Haris hanya ingin mencari solusi untuk menghemat biaya pakan ternak sapinya.
Ampas kedelai, sisa dari proses pembuatan tahu, dikenal sebagai bahan pakan bergizi tinggi.
Namun, harga ampas tahu di pasaran saat itu cukup mahal, sehingga membuatnya berpikir keras.
"Saya berfikir dari pada beli terus, kenapa tidak coba buat sendiri? Bisa dapat pakan, bisa juga dijual," ujarnya kepada Sripoku.com, Selasa (20/1/2026).
Dari ide sederhana itu, Haris mulai memutar otak. Dengan modal pribadi 25 karung kedelai dan perlengkapan produksi senilai sekitar Rp20 juta, ia memulai langkah pertamanya sebagai pelaku usaha mikro.
Tak hanya berpikir tentang hasil, tapi juga tentang bagaimana usahanya bisa memberi manfaat bagi warga sekitar.
Ia kemudian merekrut satu warga desanya sebagai pegawai tetap untuk membantu proses produksi.
Bagi Haris, membuka lapangan kerja meski hanya satu orang merupakan bentuk nyata dukungan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.
"Kalau usaha ini makin berkembang, saya ingin tambah tenaga kerja dari desa. Jadi, bukan saya sendiri yang merasakan manfaatnya,"ungkapnya.
Setiap hari, Haris mengolah sekitar 25 kilogram kedelai menjadi tahu putih dan tahu pong dua jenis tahu yang digemari warga dan pedagang gorengan di sekitar Sungai Keruh.
Produknya dipasarkan dengan cara sederhana, sebagian diantar ke pasar, sebagian lagi dijemput langsung oleh pembeli. Tempat produksinya terbuka, sehingga siapa saja bisa datang dan melihat proses pembuatan tahu secara langsung dan tidak memakai bahan pengawet.
Tidak berhenti di situ, Haris juga mulai merambah pembuatan tempe. Menurutnya, tempe punya waktu produksi lebih singkat dan bisa menjadi alternatif produk tambahan.
"Tempe ini cepat dibuatnya. Jadi kalau ada sisa kedelai, bisa langsung diolah biar tidak terbuang," jelasnya.
Kini, usaha tahu dan tempe milik Haris bukan hanya memenuhi kebutuhan pakan ternaknya, tapi juga menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga dan warga sekitar.
Ia mencontohkan bahwa inovasi tidak selalu datang dari hal besar kadang justru lahir dari kebutuhan kecil yang dikelola dengan tekun.
Ketekunan Haris menjadi cerminan bagaimana peran seorang kepala desa tak hanya sebatas administratif, tapi juga mampu menjadi penggerak ekonomi di lingkungannya.
Dengan tangan sendiri, ia membuktikan bahwa potensi desa bisa berkembang jika ada kemauan dan kreativitas.
"Harapan saya sederhana, semoga usaha kecil ini terus jalan dan bisa membuka lebih banyak lapangan kerja di desa,"tutupnya.