TRIBUNJOGJA.COM - Belajar politik bagi pemula tidak harus selalu dimulai dari buku teori yang berat.
Sejumlah buku justru mengemas isu politik lewat cerita fiksi dan kajian nonfiksi ringan yang mudah dipahami.
Melalui 4 buku yang terdiri dari dua novel fiksi dan dua buku nonfiksi yang membahas kekuasaan, ketidakadilan politik, peran media, serta karakter bangsa.
Lewat pendekatan yang berbeda, pembaca dapat memahami praktik politik dari sisi cerita hingga realitas sosial.
Berikut 4 daftar buku ini cocok bagi pemula yang ingin mengenal politik secara bertahap dan kontekstual:
Novel Animal Farm karya George Orwell mengangkat isu politik kekuasaan yang disimbolkan oleh peternakan hewan.
Dongeng tentang para penguasa ini adalah satir yang menggambarkan sifat asli manusia dan karakternya ketika memiliki kekuasaan besar.
Selain itu, isu lainnya mengenai ketimpangan sosial, ketidakadilan, pembohongan publik yang memang sudah melekat di banyak pemerintahan sejak dahulu kala.
Animal Farm mengawali cerita tentang hewan-hewan di Peternakan Manor milik Tuan Jones.
Para hewan tersebut bersatu dan saling mendukung untuk melawan Tuan Jones hingga terusir dari peternakannya sendiri.
Setelah hewan-hewan tersebut merdeka, Napoleon si babi hitam kasar dan Snowball si babi putih yang cerdas menjadi pemimpin mereka.
Snowball mencantumkan 7 hukum animalisme yang wajib ditaati, satu di antaranya “semua hewan itu setara – baik pemimpin atau rakyatnya”.
Seiring berjalannya waktu peternakan tampak berjalan lancar karena diatur Snowball yang terstruktur.
Melihat hal tersebut, Napoleon membencinya dan melakukan berbagai cara untuk menggulingkan Snowball.
Selain itu, Napoleon juga menghasut hewan lain untuk ikut membenci si Babi Putih.
Berawal dari situlah Napoleon mewujudkan niat buruknya untuk menguasai peternakan dengan aturan yang bebas.
Kini kesenjangan antara babi dan hewan lain semakin terasa lebar.
Para babi melakukan semua yang dilarang oleh 7 Hukum Peternakan Hewan, bahkan mengganti beberapa aturan agar membenarkan tindakan mereka.
Kekuasaan Napoleon semakin diktator, otoriter, dan semena-mena yang menyebabkan lebih buruk daripada Tuan Jones masih di sana.
Para babi ini seolah menjadi cerminan dari para penguasa yang memang senang bertindak semaunya sendiri.
Ketika membaca Animal Farm, pembaca akan sangat mudah memahami karena rajutan kalimatnya yang praktis dan indah.
Meskipun membawa genre politik, gaya humor pada buku ini tetap tidak lepas. Pembaca akan belajar politik, tetapi tetap tersandung oleh realita.
Negeri Para Bedebah karya Tere Liye merupakan novel fiksi bergenre aksi-politik yang penuh ketegangan.
Cerita berpusat pada Thomas, seorang konsultan keuangan ternama yang dikenal karena kecerdasan dan strategi briliannya.
Konflik bermula ketika Bank Semesta—bank milik keluarga Thomas—terancam dilikuidasi akibat skandal korupsi besar.
Melalui upaya menyelamatkan bank tersebut, Thomas harus menghadapi berbagai tantangan, pengkhianatan, serta musuh berbahaya dari kalangan pejabat publik.
Ia berhadapan dengan para “bedebah”, penguasa uang yang menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi, bahkan jika harus mengorbankan orang lain.
Berkat kecerdikannya, Thomas berusaha mencari berbagai jalan keluar, mulai dari negosiasi politik, mencari dukungan pemerintah, hingga menaklukkan para petinggi perbankan.
Di tengah situasi genting, ia dihadapkan pada pilihan sulit: tetap teguh pada idealisme atau menyerah pada godaan kekuasaan dan uang.
Novel ini menyuguhkan kritik sosial yang tajam tentang dunia politik yang sarat kepentingan serta manipulasi.
Tak hanya memacu adrenalin lewat adegan aksinya, Negeri Para Bedebah juga mengajak pembaca merenungkan makna keadilan dan moralitas, khususnya di tengah sistem yang korup dan timpang.
Baca juga: 4 Rekomendasi Judul Buku Sejarah Tentang Tokoh Pahlawan
Buku Politik Kuasa Media karya Noam Chomsky ini memuat mengenai sejarah media massa yang digunakan untuk melawan, mengatur, dan menguasai opini publik.
Layaknya yang terjadi pada Adolf Hitler yang menggunakan media sebagai alat propaganda saat perang dunia kedua.
Buku ini juga menyuguhkan analisis mengenai cara kerja media sebagai bagian dari kepentingan politik tertentu.
Melalui buku Politik Kuasa Media ini, digambarkan bahwa para penguasa membentuk propaganda lewat media massa.
Hal tersebut berguna untuk menggiring opini publik serta membangun pencitraan.
Siapa pun yang mendapat citra baik, maka mendapatkan kepercayaan publik untuk melakukan segala tugas dan tidak dicurigai.
Buku ini menawarkan pemahaman bahwa informasi yang disajikan oleh media massa merupakan hasil para petugas media di meja redaksi.
Meja redaksi ini akan mengatur informasi-informasi sebelum disebarluaskan kepada masyarakat.
Para jurnalistik mengerjakan dengan berbagai teknik-teknik yang sudah memenuhi standar yang ditulis adalah fakta sebenarnya.
Namun, terkadang informasi yang diteerbitkan akan selalu ada fakta yang belum dipaparkan, kebenaran disembunyikan, dan kejadian yang tidak ditulis secara transparan.
Dari buku Politik Kuasa Media ini pembaca akan mengetahui terdapat banyak teknik propaganda yang membuat khalayak umum tanpa sadar percaya sesuatu.
Oleh karena itu, buku ini menekankan pentingnya berpikir dan bersikap kritis pada media serta politik.
Hal tersebut bertujuan supaya demokrasi bukan hanya sekadar formalitas semata, tetapi juga bisa diterapkan sebagaimana mestinya.
Buku Manusia Indonesia merupakan kumpulan gagasan Mochtar Lubis yang berasal dari pidatonya di Taman Ismail Marzuki pada 6 April 1977.
Melalui gaya khasnya yang tajam, sarkastis, dan realistis, naskah ini membedah karakter manusia Indonesia pascakemerdekaan.
Realisme tersebut justru terasa memerdekakan, sebab penyembuhan hanya mungkin terjadi ketika keberadaan penyakit diakui secara jujur.
Mochtar Lubis menulis dengan kegelisahan yang nyata. Tiga puluh dua tahun setelah lepas dari penjajahan, kondisi bangsa dinilai stagnan.
Kebebasan yang diraih tidak diisi dengan perbaikan watak dan tanggung jawab, melainkan melahirkan bentuk penjajahan baru yang dilakukan oleh bangsa sendiri.
Kritik ini lahir dari kekecewaan sekaligus kepedulian yang mendalam.
Pada pidato tersebut, digambarkan enam watak utama manusia Indonesia: munafik, enggan bertanggung jawab, feodal, percaya takhayul, artistik, dan lemah watak.
Selain itu, muncul pula sifat-sifat lain seperti malas, gemar menggerutu tanpa keberanian terbuka, mudah dengki, bangga pada hal-hal semu, gemar meniru, lemah logika, sinkretis, serta terlalu sering mencari restu yang tidak esensial.
Daftar ini terasa dekat dengan realitas sosial, bahkan puluhan tahun setelah pidato itu disampaikan.
Satu di antara kritik paling menarik adalah soal kepercayaan pada takhayul.
Takhayul tidak semata dimaknai sebagai praktik klenik, tetapi juga keyakinan berlebihan pada slogan, semboyan, dan nama-nama besar.
Seruan penuh semangat sering kali dianggap sebagai tindakan nyata.
Moto, yel-yel, hingga penamaan kabinet seolah memiliki kekuatan magis yang membuatnya kebal kritik, meskipun substansi permasalahan belum tersentuh.
Pidato polemik ini menuai beragam tanggapan dari tokoh-tokoh sezaman yang sebagian besar bersifat defensif.
Meski kritik Mochtar Lubis terasa emosional dan subjektif, argumennya disusun dengan kokoh, didukung diksi yang terarah, wawasan luas, serta data yang relevan pada masanya.
Kemampuannya menanggapi balik kritik menunjukkan tanggung jawab intelektual atas gagasan yang disampaikan.
Secara keseluruhan, Manusia Indonesia layak dibaca lintas generasi, bahkan relevan dijadikan bacaan di bangku sekolah menengah.
Buku ini mengajarkan keberanian menyampaikan kebenaran yang pahit, bukan untuk menjatuhkan, melainkan sebagai bentuk cinta dan kepedulian.
Melalui refleksi jujur inilah, harapan akan perbaikan bersama dapat tumbuh.
(MG Zahrah Suci Al Aliyah)