TRIBUNMANADO.CO.ID - Dua remaja asal Kota Manado dijemput Densus 88 Anti teror Polri.
Keduanya masih berstatus sebagai pelajar.
Mereka disebut terpapar paham kekerasan True Crime Community alias Neo Nazi.
True Crime Community (TCC) adalah sekelompok individu di media sosial yang memiliki ketertarikan mendalam pada kisah-kisah kejahatan nyata, seperti pembunuhan, pelaku kriminal, dan kasus misteri.
Sementara Neo Nazi adalah gerakan ideologi politik dan militan pasca Perang Dunia II yang berupaya menghidupkan kembali paham Nazisme yang diusung oleh Adolf Hitler.
Gerakan ini sering kali menampilkan rasisme ekstrem, antisemitisme, dan supremasi kulit putih.
Densus 88 Antiteror Polri menemukan bahwa grup-grup daring (terutama di Telegram) yang mengatasnamakan TCC digunakan untuk menyebarkan paham ekstrem seperti Neo-Nazi dan Supremasi Kulit Putih (White Supremacy) kepada anak-anak di bawah umur.
Paham kekerasan itu berkembang lewat berbagai platform di dunia maya.
Para penganutnya diarahkan untuk melakukan aksi kekerasan yang menjurus ke aksi terorisme.
Disebutkan, dua pelajar asal Manado yang ditangani oleh Densus 88 ini telah cukup terpapar dan berpotensi melakukan tindakan.
Densus 88 melakukan identifikasi dan pencegahan.
Selanjutnya, rapat koordinasi untuk menyikapi kasus tersebut digelar pada Selasa (20/1/2026) di UPTD PPA Pemprov Sulut di Kelurahan Tikala Ares, Kecamatan Tikala, kota Manado, provinsi Sulut.
Hadir dalam kegiatna ini yakni:
Kadis P3AD Pemprov Sulut Wanda Musu mengatakan, kedua anak tersebut masih dibawa umur.
"Satu SMP dan satu SMA, keduanya tidak satu sekolah," katanya.
Informasi tentang kedua siswa itu diketahui pihaknya pada akhir tahun 2025.
"Kami langsung tindaklanjuti dengan menggelar rapat bersama," katanya.
Kata dia, pendampingan langsung diberikan terhadap dua anak tersebut.
Pihaknya bertemu dengan keduanya segera orang tua mereka.
"Kami sudah lima kali adakan pemdampingan, kami juga ingin mencari tahu apa penyebab mereka sampai terpapar paham kekerasan itu," kata dia.
Ungkap dia, ternyata kedua anak itu adalah korban bully.
Keduanya juga tidak mendapat kasih sayang yang cukup dari orang tua.
Statusnya di sekolah juga pindahan.
"Larilah mereka ke medsos, dan terpaparlah dengan paham tersebut," kata dia.
Kedua siswa itu masuk ke sebuah grup yang didalamnya mengajarkan tentang perakitan bom
serta bagaimana membalas kejahatan dengan kejahatan.
Sementara itu, Kombes Pol I Nyoman Sarjana Kasatgas Wil Sulut Densus 88 Anti teror Polri menuturkan, awalnya mereka beroleh informasi untuk mengadakan penyelidikan serentak di seluruh Indonesia.
"Dari pusat berikan dua identitas, kami dalami dan dapatkan secara fisik," katanya.
Ungkap dia, pihaknya lantas mengadakan rapat koordinasi.
Setelah itu diadakan intervensi.
"Mereka diberi pembinaan dan pendampingan oleh PPA," katanya.
Ia menuturkan, kedua anak itu tergabung dalam grup medsos tentang paham kekerasan.
Berkaca dari kasus ini, ia mengimbau orang tua untuk terus mendampingi anak saat bermedsos.
"Jangan lepaskan mereka, tapi terus dampingi hingga mereka beroleh edukasi," katanya.
Diketahui, berdasarkan laporan kepolisian hingga awal 2026, Densus 88 Antiteror Polri menemukan bahwa grup-grup daring (terutama di Telegram) yang mengatasnamakan TCC digunakan untuk menyebarkan paham ekstrem seperti Neo-Nazi dan Supremasi Kulit Putih (White Supremacy) kepada anak-anak di bawah umur.
Hingga Januari 2026, sebanyak 70 anak di 19 provinsi teridentifikasi terpapar ideologi kekerasan ekstrem melalui komunitas ini.
Mayoritas korban berada pada rentang usia 11–18 tahun.
Ideologi Neo-Nazi digunakan dalam komunitas tersebut sebagai legitimasi bagi anak-anak untuk merancang aksi kekerasan, termasuk rencana pengeboman sekolah, penusukan, hingga sabotase CCTV.
Penyelidikan menunjukkan adanya hubungan dengan jaringan ekstremis internasional seperti "Terrorgram" dan kelompok-kelompok yang mengagungkan simbol-simbol Nazi untuk memicu kekerasan.
Pihak berwenang mengimbau orang tua untuk waspada jika anak menunjukkan ketertarikan berlebihan pada simbol-simbol kekerasan atau tokoh-tokoh tertentu yang terkait dengan paham ekstremisme. (Art)