Aktivitas Vulkanik Tinggi, Gunung Ile Lewotolok Meletus 114 Kali dalam Sehari
January 20, 2026 04:32 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok yang berlokasi di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, masih tercatat tinggi hingga Selasa 20 Januari 2026.

Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Ile Lewotolok melaporkan bahwa gunung api tipe strato tersebut mengalami 114 kali erupsi pada Selasa 20 Januari 2026.

Ratusan gempa letusan ini terdeteksi sejak pukul 00.00 Wita-12.00 Wita.

Sementara sebelumnya Gunung Ile Lewotolok ini juga meletus  pada Senin 19 Januari 2026 pagi. 

Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Ile Lewotolok mencatat gunung api yang terletak di Kabupaten Lembata, NTT, tersebut meletus 116 kali pada Senin 19 Januari 2026 pada pukul 12.00 Wita-18.00 Wita.

Tentu saja fenomena ini berdampak pada sejumlah desa yang berada di lereng gunung berapi tersebut, serta wilayah Timur Lembata, termasuk Kecamatan Lebatukan dan Kedang, yang mulai merasakan dampak dari abu vulkanik.

Baca juga: Kronologi Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 Terbaru Ungkap Detik-detik Jatuh di Gunung Bulusaraung Maros

Alat seismogram mencatat erupsi tersebut memiliki amplitudo 21.4-38.1 mm, dengan durasi sekitar 42-107 detik.

“Erupsi disertai gemuruh intensitas lemah,” ujar Yeremias Kristianto Pugel, petugas Pos PGA Ile Lewotolok, Selasa siang.

Menurut Yeremias, letusan tersebut menghasilkan tinggi kolom abu berkisar 300-500 meter di atas puncak gunung.

Kolom abu teramati berwarna warna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah timur.

 Ia mengimbau masyarakat sekitar mengenakan masker atau alat pelindung agar terhindar dari paparan abu vulkanik.

Kemudian, tempat penampung air ditutup rapat agar tidak terkontaminasi abu vulkanik.

Pada periode yang sama, PGA Ile Lewotolok juga merekam sebanyak 49 kali gempa embusan, lima kali gempa tremor non harmonik, dan satu kali gempa tektonik jauh.

Yeremias menegaskan, saat ini tingkat aktivitas Gunung Ile Lewotolok berada pada level III siaga.

Warga Rasakan Mata Perih dan Sulit Beraktifitas

Sejumlah desa di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali dilanda hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Ile Lewotolok,.

Warga mulai mengeluhkan mata terasa perih saat beraktivitas di luar rumah. Kondisi yang sama dialami para siswa yang hendak ke sekolah.

Klemens Tokan (45), salah seorang warga di Kecamatan Ile Ape Timur, mengungkapkan bahwa intensitas hujan abu vulkanik terus meningkat.

"Abunya semakin hari kian banyak. Aktivitas di luar rumah sangat terganggu. Warga butuh masker," ujar Klemens Senin 19 Januari 2026.

Klemens juga mengungkapkan, sumber air bersih, bak penampung air dan sayuran mulai tercemar abu vulkanik.

Warga khawatir, jika dikonsumsi secara terus menerus, maka akan berdampak terhadap kesehatan di masa yang akan datang.

"Semoga ada perhatian dari pemerintah. Mungkin bisa dibantu distribusi air bersih ke lokasi yang terdampak erupsi," pintanya.

Status Naik Siaga

Akibat Aktivitas vulkanis Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meningkat tajam.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meningkatkan statusnya dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga sejak Minggu 18 Januari 2026 pukul 11.00 WITA.

Peningkatan status ini dipicu lonjakan signifikan aktivitas kegempaan dan erupsi yang terpantau dalam dua pekan terakhir.

Evaluasi dilakukan berdasarkan pemantauan visual dan instrumental secara intensif di lapangan.

Radius bahaya yang ditetapkan sebelumnya 2,5 kilometer, diperluas menjadi 3 kilometer dari pusat kawah.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria meminta warga sekitar maupun wisatawan tidak melakukan aktivitas di area tersebut.

"Diimbau untuk tidak memasuki dan melakukan aktivitas di dalam wilayah radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Ile Lewotolok," ujar Lana dalam keterangannya, Minggu.

Lana menerangkan, Badan Geologi juga telah memetakan zona rekomendasi kawasan rawan bencana erupsi Gunung Ile Lewotolok.

Zona rekomendasi tersebut, yaitu radius 1-2 kilometer sangat berpotensi terdampak awan panas, aliran lava, guguran lava, gas beracun, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat.

Kemudian, radius 4 kilometer berpotensi terkena dampak awan panas, aliran dan guguran lava.

Sedangkan radius 7 kilometer berpotensi terkena dampak banjir lahar hujan, hujan abu, serta lontaran batu pijar.

Sebelumnya, Badan Geologi mencatat, pada periode pengamatan 1 Junari-15 Januari 2026, terdeteksi sebanyak 2.713 kali gempa erupsi, 4.391 kali embusan, 5 kali guguran, 834 kali tremor non-harmonik, 7 kali gempa hybrid.

Kemudian, 13 kali gempa vulkanik dangkal, 25 kali gempa vulkanik dalam, 8 kali gempa tektonik pokal, dan 8 kali gempa tektonik jauh.

Sementara itu, data kegempaan yang terekam selama periode 16 Januari hingga 18 Januari 2026 hingga pukul 06.00 Wita, tercatat 831 kali gempa erupsi, 925 kali gempa embusan, 1 kali gempa vulkanik dalam.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.